Ieu teh kanyataan...pernah taun 2005....di kantor Walikota Jaksel...aya hiji
wanoja ..geulis....turun ti motor Honda Bebek....leumpang ngagandeuan asup
kalebet akntor bagian sosial...seungit meleber..nganggo kacamata
hideung...gek diuk nungggan loket buka...maklum herang nya seueur anu
ngadeukeutan maksakeun ngobrol...."abde aya kaperyogian naon " ? jawabna ; "
Biasa bade nyandak BLT ?" Anu nanya ...nepi..ka satengah
ngacay......ck..ck..ck..

On 5/15/08, Yuliadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Cenah rakyat leutik rek dibere deui Bantuan Langsung Tunai.
>
> Halah angger euy pikarunyaeun...teu katarima kabeh
>
>
>
> Dikordinir ku oknum,…jasa na 25%.
>
>
>
> Si Aki/nini mah…manggut bae
>
> Narima sesana oge, teuing jang naon.
>
> Kalahka meuli radio, petromak atawa sapedah.
>
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> *From:* mh [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> *Sent:* Thursday, May 15, 2008 1:36 PM
> *To:* [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
> *Subject:* [Urang Sunda] Fwd: BBM naik dikibuli ?
>
>
>
> ---------- Forwarded message ----------
> Dedi Turmudi <[EMAIL PROTECTED] <ddturmudi%40yahoo.com>> wrote:
> Punten para wargi, artikelna dina bahasa Indonesia
> Wilujeng ngaos, pamugi aya manfaatna...
>
> HARGA BBM NAIK, APAKAH RAKYAT DIKIBULI?
>
> Tulisan
> Kwik Kian Gie di bawah ini membeirkan gambaran bahwa Pemerintah
> sebenarnya tidak rugi akibat naiknya harga BBM di pasar dunia. Aku suka
> argumennya, karena pake angka yang jelas. Ternyata selama ini kita
> dikibuli abis. Aku baru tahu masalah perminyakan dari baca tulisan si
> Akang Kwik. Silakah di baca..
>
> Subsidi BBM Bukan Pengeluaran Uang.
> Uangnya Dilarikan Kemana?
> Jumat, 11 April 08
> http://www.koraninternet.com/ web/index. php?pilih= lihat&id=3760
>
> Dengan melonjaknya
> harga minyak mentah di pasaran dunia sampai di atas US$ 100 per barrel, DPR
> dan
> Pemerintah menyepakati mengubah pos subsidi BBM dengan jumlah Rp. 153
> trilyun.
> Artinya Pemerintah sudah mendapat persetujuan DPR mengeluarkan uang tunai
> sebesar Rp. 153 trilyun tersebut untuk dipakai sebagai subsidi dari
> kerugian
> Pertamina qq. Pemerintah. Jadi akan ada uang yang dikeluarkan?
>
> Saya sudah
> sangat bosan mengemukakan pendapat saya bahwa kata "subsidi BBM" itu tidak
> sama
> dengan adanya uang tunai yang dikeluarkan. Maka kalau DPR memperbolehkan
> Pemerintah mengeluarkan uang sampai jumlah yang begitu besarnya, uangnya
> dilarikan ke mana?
>
> Dengan asumsi-asumsi untuk mendapat pengertian yang
> jelas, atas dasar asumsi-asumsi, pengertian subsidi adalah sebagai
> berikut.
>
> Harga minyak mentah US$ 100 per barrel.
> Karena 1 barrel = 159
> liter, maka harga minyak mentah per liter US $ 100 : 159 = US$ 0,63. Kalau
> kita
> ambil US$ 1 = Rp. 10.000, harga minyak mentah menjadi Rp. 6.300 per
> liter.
>
> Untuk memproses minyak mentah sampai menjadi bensin premium kita
> anggap dibutuhkan biaya sebesar US$ 10 per barrel atau Rp. 630 per liter.
> Kalau
> ini ditambahkan, harga pokok bensin premium per liternya sama dengan
> Rp. 6.300 +
> Rp. 630 = Rp. 6.930. Dijualnya dengan harga Rp. 4.500. Maka rugi Rp. 2.430
> per
> liternya. Jadi perlu subsidi.
>
> Alur pikir ini benar. Yang tidak benar
> ialah bahwa minyak mentah yang ada di bawah perut bumi Indonesia yang
> miliknya
> bangsa Indonesia dianggap harus dibeli dengan harga di pasaran dunia yang
> US$
> 100 per barrel. Padahal tidak. Buat minyak mentah yang ada di dalam
> perut bumi Indonesia , Pemerintah dan Pertamina kan tidak perlu
> membelinya? Memang ada yang
> menjadi milik perusahaan minyak asing dalam rangka kontrak bagi hasil.
> Tetapi
> buat yang menjadi hak bangsa Indonesia , minyak mentah itu tidak perlu
> dibayar.
> Tidak perlu ada uang tunai yang harus dikeluarkan. Sebaliknya, Pemerintah
> kelebihan uang tunai.
>
> Memang konsumsi lebih besar dari produksi sehingga
> kekurangannya harus diimpor dengan harga di pasar internasional yang
> mahal, yang
> dalam tulisan ini dianggap saja US$ 100 per barrel.
>
> Data yang
> selengkapnya dan sebenarnya sangat sulit atau bahkan tidak mungkin
> diperoleh.
> Maka sekedar untuk mempertanyakan apakah memang ada uang yang harus
> dikeluarkan
> untuk subsidi atau tidak, saya membuat perhitungan seperti Tabel
> terlampir.
>
> Nah kalau perhitungan ini benar, ke mana kelebihan yang Rp. 35
> trilyun ini, dan ke mana uang yang masih akan dikeluarkan untuk apa yang
> dinamakan subsidi sebesar Rp. 153 trilyun itu?
>
> Seperti terlihat dalam
> Tabel perhitungan, uangnya yang keluar tidak ada. Sebaliknya, yang
> ada kelebihan
> uang sebesar Rp. 35,31 trilyun.
>
> PERHITUNGAN ARUS KELUAR MASUKNYA UANG
> TUNAI TENTANG BBM (Harga minyak mentah 100 doll. AS)
>
> DATA DAN
> ASUMSI
>
> Produksi : 1 juta barrel per hari
>
> 70 % dari produksi
> menjadi BBM hak bangsa Indonesia Konsumsi 60 juta kiloliter per tahun Biaya
> lifting, pengilangan dan pengangkutan US $ 10 per barrel
> 1 US $ = Rp.
> 10.000
> Harga Minyak Mentah di pasar internasional Rp. US $ 100 per
> barrel
> 1 barrel = 159 liter
> Dasar perhitungan : Bensin Premium dengan
> harga jual Rp. 4.500 per liter
>
> PERHITUNGAN
>
> Produksi dalam liter
> per tahun : 70 % x (1,000.000 x 159 ) x 365 = 40,624,500,000 Konsumsi dalam
> liter per tahun 60,000,000,000 Kekurangan yang harus diimpor dalam liter
> per
> tahun 19,375,500,000 Rupiah yang harus dikeluarkan untuk impor ini
> (19,375,500,
> 000 : 159) x 100 x 10.000 121,900,000, 000,000 Kelebihan uang dalam rupiah
> dari
> produksi dalam negeri 40,624,500,000 x Rp. 3.870 157,216,815, 000,000
> Walaupun
> harus impor dengan harga US$ 100 per barrel Pemerintah masih kelebihan uang
> tunai sebesar 35,316,815,000, 000
>
> Perhitungan kelebihan penerimaan uang untuk setiap liter bensin
> premium yang dijual, Harga Bensin Premium per liter
> (dalam rupiah) 4,500 Biaya lifting, pengilangan dan transportasi US $
> 10 per barrel atau per liter :
> (10 x 10.000) : 159 = Rp. 630 (dibulatkan) 630
> Kelebihan uang per liter 3,870
>
> Oleh Kwik Kian Gie
>
> 
>

Kirim email ke