K.F. Holle dan Buku Sunda

PENERBITAN buku cetak berbahasa Sunda tidak lepas dari peran orang
Belanda. Salah seorang di antaranya adalah K.F. Holle (1829-1896). Ia
bahkan dianggap sebagai orang Belanda pertama yang mengusahakan
penerbitan buku-buku Sunda. Demikian yang saya baca dari Semangat
Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, Kesastraan Sunda abad ke-19
(Mikihiro Moriyama, 2005). Tetapi orang Sunda lebih terbiasa
menyebutnya sebagai Tuan Hola saja. Tuan Belanda ini lahir di
Amsterdam pada 1829. Pada 1845 ia dibawa orang tuanya ke Hindia
Belanda.

Holle termasuk seorang autodidak dan berpikir pragmatis. Dalam hal
ini, ia menjadikan perkebunannya semacam perkebunan eksperimental. Ia
meneliti berbagai segi pertanian seperti pemanfaatan lahan kering
untuk menanam sayur-sayuran, serta cara pengembangbiakan ikan di
kolam-kolam kecil.

Selain itu, ia menerapkan idealismenya untuk meningkatkan taraf
kehidupan masyarakat miskin di sekitar perkebunannya. Untuk itu, dia
mengajari cara untuk meningkatkan metode penanaman padi.

Tetapi setelah berkeliling untuk mengampanyekan maksudnya, ternyata
sangat sulit dan memakan waktu. Dengan demikian, dia sadar bahwa cara
yang paling efisien untuk menggapai maksudnya adalah dengan mengajari
masyarakat agar bisa membaca.

Ternyata, ia bisa menyebarkan idenya melalui pamflet-pamflet dalam
bahasa Sunda. Sebelumnya, sejak diangkat jadi juru tulis pemerintah
pada 1846, ia tertarik untuk belajar bahasa Sunda serta meneliti
unak-anik budaya Sunda. Dan dia sadar betul betapa pentingnya dapat
berbicara dalam bahasa Sunda layaknya seorang Sunda.

Projek buku Sunda

Oleh karena itulah, ia berusaha membangkitkan kembali bahasa Sunda
sebagai bahasa yang menjadi ciri kebudayaan Sunda. Ia pun mendorong
penggunaan kembali bahasa Sunda sebagai bahasa tulis. Hasilnya dapat
dilihat dari keterlibatannya dalam penerbitan buku-buku Sunda pada
paruh kedua abad ke-19.

Mula-mula ia menerbitkan buku Tjarita Koera-Koera djeung Monjet
(1851). Buku yang ditulis bersama saudaranya, Adriaan Holle ini
membawa pengaruh pada pendidikan masyarakat Sunda.

Pada 1861 Pemerintah menugaskan K.F. Holle untuk menyusun buku-buku
bacaan serta pelajaran bahasa Sunda. Untuk menggarap projek itu,
pemerintah mengeluarkan biaya sebesar f. 1.200.

Untuk melaksanakan tugas ini, Holle dibantu oleh R.H. Moehamad Moesa
beserta para penulis dari lingkungan Holle. Terutama yang tinggal di
sekitar distrik Limbangan. Di antaranya Moesa sendiri berasal dari
Limbangan, Adi Widjaja patih limbangan, dan Brata Widjaja mantan patih
Galuh, Kabupaten Sukapura.

Hasil projek ini, seluruhnya berjumlah 13 judul buku. Tetapi sebagian
besar buku-buku bacaan itu disusun oleh Moesa. Di antara buku-buku
hasil pekerjaan itu, sebagaimana yang dapat dilihat dari buku-buku
teks yang digunakan di sekolah desa di Bandung pada 1863, di
antaranya: Katrangan tina Perkawis Mijara Laoek Tjai (Moehamad Oemar),
Wawatjan Djaka Miskin (Wira Tanoe Baija), Wawatjan Woelang Poetra (Adi
Widjaja), Wawatjan Woelang Krama (Moehamad Moesa), dan Wawatjan Radja
Darma (Danoe Koesoema).

Usaha Holle tak terhenti. Buktinya, selama dasawarsa 1860-an Holle
telah mengawasi tak kurang dari 23 judul buku berbahasa Sunda untuk
sekolah yang diterbitkan oleh pemerintah.

Sampai 1880-an Holle masih berperan dalam produksi buku-buku bahasa
Sunda yang ditulis oleh penulis Sunda. Pekerjaannya baru berakhir pada
1895. Pada tahun itulah ia terakhir mengedit buku Sunda, yaitu Mitra
noe Tani (selanjutnya disingkat MnT).

"Mitra noe Tani"

Melalui buku seri inilah Holle memperbaiki sistem pertanian orang
Sunda. MnT adalah buku yang terdiri dari tulisan-tulisan seputar
pertanian yang ditulis dalam bahasa Sunda. Untuk keterangannya, saya
timba dari Lampiran 1: Senarai Buku-buku Berbahasa Sunda Sebelum 1908
(Moriyama, 2005: 283).

Dari situ diperoleh keterangan: seri ini terbit antara tahun
1874-1899. Penerbitannya tak beraturan. Ada yang setahun dua kali,
tetapi ada juga yang berjarak dua tahun sekali. Juga ada yang setahun
sekali.

Seluruh seri Mnt diterbitkan oleh Landsdrukkerij, penerbit milik
pemerintah kolonial Hindia Belanda. Penerbit ini bertempat di
Weltevreden, atau Menteng sekarang. Khusus buku-buku Sunda, penerbit
ini telah mencetaknya sejak 1853. Dan biasa pula disebut "Kantor
Tjitak Kandjeng Goepernemen".

Dari jilid pertama hingga seri ketujuh, MnT dicetak dengan memakai
huruf cacarakan Jawa. Sementara huruf Latin mulai dipakai dari seri
delapan sampai seri terakhir, jilid 14.

Adapun para penulisnya datang dari beberapa kalangan. Ada pejabat
bangsa Belanda, yang tentu saja telah disundakan oleh penulis lokal.
Begitu pun dengan para penulis pribumi, baik dari kalangan menak Jawa
maupun Sunda. Untuk penyuntingannya, sejak seri pertama hingga jilid
12, MnT diedit oleh K.F. Holle. Karena Holle meninggal pada 1896.
Selanjutnya (dua seri terakhir) MnT diedit oleh H. de Bie, guru pada
Gymnasium Willem III.

Tetapi semuanya mesti berakhir pada 1896. Karena pada tahun itulah
Holle meninggal. Tepatnya pada 3 Mei 1896. Ia pun kemudian dikuburkan
di Tanah Abang, berdampingan dengan ibunya.

ATEP KURNIA,
Penulis lepas, tinggal di Bandung.

Citation: http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=24429

Kirim email ke