Aya anu narik...panulis nyebat..Agama Ahmadiyah....sahiji anu benten
maksadna meureun........

On 6/14/08, Dadi Kurniadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> * Mencermati Beberapa Butir Pernyataan PB JAI
> * Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA
>  Agama Ahmadiyah, dalam perjalanannya di Indonesia ini mengalami berbagai
> macam lika-liku. Bahkan tak jarang terjadi tindakan kekerasan terhadap
> mereka disebabkan ajaran agama mereka yang begitu meresahkan kaum muslimin.
> Karena kecemburuan agama, merekapun bertindak walaupun caranya terkadang tak
> terkendali sehingga terjadi kekeliruan-kekeliruan. Semoga Allah Subhanahu wa
> Ta'ala mengampuni muslimin tersebut.
> Namun sudah semestinya Ahmadiyah mendapatkan tindakan yang keras dari pihak
> yang
> *berwenang/pemerintah ( bukan kelompok kelompok tertentu) *yg agar mereka
> kembali kepada kebenaran atau agar tidak ada lagi upaya penyesatan umat.
> Walhasil, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sempat menfatwakan kesesatan JAI
> pada tahun 1980, lalu pada tahun 2005 masing-masing dari JAI dan GAI
> dinyatakan sesat. BAKOR PAKEM (Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan
> Masyarakat) pun pernah merekomendasikan kepada pemerintah untuk melarang
> keberadaan mereka di seluruh wilayah tanah air. Singkat cerita, sementara
> keputusan pemerintah belum muncul, terjadi perkembangan-perkembangan yang
> sementara ini berakhir pada pernyataan PB JAI yang diwakili oleh Abdul Basit
> sebagai amir JAI yang berjumlah 12 butir pernyataan. Atas dasar 12 butir
> tersebut lalu status mereka menjadi dalam pengawasan untuk melaksanakannya.
> Namun dalam pandangan beberapa pihak yang mencermatinya bahwa itu hanya
> semacam pasal karet. Atau kalau menurut pandangan penulis, itu merupakan
> permainan kata-kata yang tidak mengubah keyakinan asal mereka, atau bahkan
> sebagiannya lebih tepat untuk dinyatakan pernyataan dusta. Di sini kami akan
> menyebutkan beberapa butir tersebut, di antaranya:
> * 1. Kami warga jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua
> kalimat syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad
> Rasulullah SAW yaitu, asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna
> Muhammadar rasulullah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan
> selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah
> Rasullullah.
> * Tanggapan:
> Menghadapi firqah semacam mereka ini, kita tidak boleh bersikap lugu atau
> pura-pura tidak tahu. Kita tidak boleh merasa aman dari kedustaan mereka.
> Sebab, bila nabi mereka saja berani berdusta atas nama Allah Subhanahu wa
> Ta'ala dan berdusta di hadapan manusia, apalagi pengikutnya. Saya mengatakan
> demikian, karena dalam pandangan saya, pernyataan mereka ini tidak mengubah
> keyakinan asli Ahmadiyah. Memang mereka mengikrarkan persaksian yang sama,
> namun maksudnya berbeda.
> Ini pernah dinyatakan oleh putra Ghulam Ahmad yaitu Basyir Ahmad: "Kami
> tidak butuh dalam agama kami kepada kalimat baru untuk syahadat tentang
> kenabian Ghulam Ahmad. Karena tidak ada bedanya antara Nabi dan Ghulam
> Ahmad, sebagaimana dikatakan oleh Ghulam Ahmad sendiri, 'Jadilah
> keberadaanku itu keberadaannya, dan barangsiapa yang membedakan antara aku
> dan Al-Mushthafa maka dia tidak kenal aku.'1
> Ini kenyataan yang ada. Sehingga yang di India pun syahadatnya sama dengan
> muslimin pada umumnya. Namun maksudnya sangat jauh berbeda, karena yang
> mereka maksud dengan Muhammad adalah Ghulam Ahmad.
> * 2. Sejak semula kami warga jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad
> Rasulullah adalah khatamun Nabiyyin (nabi penutup).
> * Tanggapan:
> Pernyataan ini masih juga menyelipkan beberapa tanda tanya. Secara
> tekstual, kata-kata ini bertentangan dengan pengakuan Ghulam Ahmad sendiri,
> sebagaimana yang telah lewat penyebutan sebagiannya. Apalagi dikatakan bahwa
> ini sejak awal, tentunya tidak mungkin.
> Kemudian mereka menyatakan meyakini Nabi Muhammad itu sebagai nabi penutup.
> Penutup apa maksudnya? Di samping mereka sempat meyakini bahwa Ghulam Ahmad
> bukan Nabi yang independen, bahkan ia mengikuti syariat Nabi Muhammad, yang
> Ghulam istilahkan dengan Nabiyyun Muttabi' (Nabi yang mengikuti). Lihat
> pembahasan Sekilas tentang Sejarah Munculnya Ahmadiyah. Sehingga Nabi
> Muhammad adalah penutup untuk Nabi yang membawa syariat yang tersendiri atau
> independen, yang mereka istilahkan dengan (Ash-habusy-syari'ah) (lihat
> pembahasan Kajian Utama 1 Sub Judul Penyelewengan Ahmadiyah terhadap Makna
> Ayat). Itu berarti menurut mereka tidak menutup kemungkinan akan adanya Nabi
> setelah Nabi Muhammad n.
> Dari pernyataan mereka tersebut, tidak berarti mereka menolak eksistensi
> Ghulam Ahmad sebagai Nabi. Tolong dicamkan.
> * 3. Di antara keyakinan kami bahwa hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah
> seorang guru, mursyid, pembawa berita gembira dan peringatan serta pengemban
> mubasysyirat, pendiri dan pemimpin Jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat
> dakwah dan syi'ar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
> * Tanggapan:
> Tentu pembaca memerhatikan awal pernyataan ini yaitu: 'Di antara keyakinan
> kami.' Tentu ini tidak berarti menafikan keberadaan Ghulam Ahmad sebagai
> nabi. Sebab, seandainya saja kita terapkan kata-kata berikut ini: "Di antara
> keyakinan kami bahwa… adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita gembira
> dan peringatan serta pengemban mubasysyirat" pada salah seorang Nabi, tentu
> akan benar.
> Sehingga tak lain, itu hanya permainan kata-kata yang tidak mengubah
> keyakinan mereka yang sesungguhnya. Kalau mereka betul-betul tidak meyakini
> Ghulam Ahmad sebagai Nabi, mengapa ketika Ketua MUI mengusulkan penambahan
> anak kata bahwa 'Mirza Ghulam Ahmad bukan Nabi' tidak ditampung dalam
> pernyataan JAI?
> * 7. Buku Tadzkiroh bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan
> pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan
> serta diberi nama Tadzkiroh oleh pengikutnya pada tahun 1935, yakni 27 tahun
> setelah beliau wafat (1908).
> * Tanggapan:
> Pernyataan ini tidak menafikan bahwa mereka punya kitab suci yang diyakini
> sebagai wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan nama yang lain. Karena
> justru yang dikenal oleh orang-orang Ahmadiyah di sana bahwa nama kitab
> mereka adalah Al-Kitabul Mubin. Muhammad Yusuf Al-Qadiyani mengatakan dalam
> bukunya An-Nubuwwah fil Ilham (hal. 43): "Sesungguhnya Allah menamai
> kumpulan ilham Ghulam Ahmad dengan Al-Kitabul Mubin. Satu ilham disebut satu
> ayat. Maka yang meyakini bahwa seorang Nabi harus memiliki kitab, dia wajib
> mengimani kenabian Ghulam Ahmad dan kerasulannya. Karena Allah telah
> menurunkan kepadanya kitab dan Dia namakan dengan Al-Kitabul Mubin. Ia
> tetapkan baginya sifat ini walaupun orang-orang kafir benci."
> Ghulam Ahmad sendiri pernah mengatakan: "Turun kepadaku Kalamullah dengan
> begitu banyaknya. Seandainya dikumpulkan maka tidak kurang dari 20 juz."
> (Haqiqatul Wahyi hal. 391 karya Ghulam Ahmad, dinukil dari makalah
> Al-Qadiyaniyyah wa 'Aqa`iduha karya Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir hal. 336)
> Demikianlah, agar menjadi perhatian dan agar kaum muslimin senantiasa dalam
> kehati-hatian serta kewaspadaan dari kelompok-kelompok sesat lagi kafir
> semacam mereka. Sengaja kami hanya menampilkan beberapa catatan saja pada
> beberapa butir dari 12 butir pernyataan mereka tersebut, karena keterbatasan
> ruang.
> 1 Al-Fadhl dinukil dari Review of Religions hal. 158 no. 4 juz 14
>
> 
>

Kirim email ke