Mencermati Beberapa Butir Pernyataan PB JAI
  Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA
  
  Agama Ahmadiyah, dalam perjalanannya di Indonesia ini mengalami berbagai 
macam lika-liku. Bahkan tak jarang terjadi tindakan kekerasan terhadap mereka 
disebabkan ajaran agama mereka yang begitu meresahkan kaum muslimin. Karena 
kecemburuan agama, merekapun bertindak walaupun caranya terkadang tak 
terkendali sehingga terjadi kekeliruan-kekeliruan. Semoga Allah Subhanahu wa 
Ta’ala mengampuni muslimin tersebut. 
  Namun sudah semestinya Ahmadiyah mendapatkan tindakan yang keras dari pihak 
yang berwenang/pemerintah ( bukan kelompok kelompok tertentu) yg agar mereka 
kembali kepada kebenaran atau agar tidak ada lagi upaya penyesatan umat. 
Walhasil, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sempat menfatwakan kesesatan JAI pada 
tahun 1980, lalu pada tahun 2005 masing-masing dari JAI dan GAI dinyatakan 
sesat. BAKOR PAKEM (Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) 
pun pernah merekomendasikan kepada pemerintah untuk melarang keberadaan mereka 
di seluruh wilayah tanah air. 
  Singkat cerita, sementara keputusan pemerintah belum muncul, terjadi 
perkembangan-perkembangan yang sementara ini berakhir pada pernyataan PB JAI 
yang diwakili oleh Abdul Basit sebagai amir JAI yang berjumlah 12 butir 
pernyataan. Atas dasar 12 butir tersebut lalu status mereka menjadi dalam 
pengawasan untuk melaksanakannya. Namun dalam pandangan beberapa pihak yang 
mencermatinya bahwa itu hanya semacam pasal karet. Atau kalau menurut pandangan 
penulis, itu merupakan permainan kata-kata yang tidak mengubah keyakinan asal 
mereka, atau bahkan sebagiannya lebih tepat untuk dinyatakan pernyataan dusta. 
Di sini kami akan menyebutkan beberapa butir tersebut, di antaranya: 
  1. Kami warga jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua 
kalimat syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad 
Rasulullah SAW yaitu, asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar 
rasulullah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah 
dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasullullah.
  Tanggapan:
  Menghadapi firqah semacam mereka ini, kita tidak boleh bersikap lugu atau 
pura-pura tidak tahu. Kita tidak boleh merasa aman dari kedustaan mereka. 
Sebab, bila nabi mereka saja berani berdusta atas nama Allah Subhanahu wa 
Ta’ala dan berdusta di hadapan manusia, apalagi pengikutnya. Saya mengatakan 
demikian, karena dalam pandangan saya, pernyataan mereka ini tidak mengubah 
keyakinan asli Ahmadiyah. Memang mereka mengikrarkan persaksian yang sama, 
namun maksudnya berbeda. 
  Ini pernah dinyatakan oleh putra Ghulam Ahmad yaitu Basyir Ahmad: "Kami tidak 
butuh dalam agama kami kepada kalimat baru untuk syahadat tentang kenabian 
Ghulam Ahmad. Karena tidak ada bedanya antara Nabi dan Ghulam Ahmad, 
sebagaimana dikatakan oleh Ghulam Ahmad sendiri, ‘Jadilah keberadaanku itu 
keberadaannya, dan barangsiapa yang membedakan antara aku dan Al-Mushthafa maka 
dia tidak kenal aku.’1 
  Ini kenyataan yang ada. Sehingga yang di India pun syahadatnya sama dengan 
muslimin pada umumnya. Namun maksudnya sangat jauh berbeda, karena yang mereka 
maksud dengan Muhammad adalah Ghulam Ahmad.
  2. Sejak semula kami warga jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad 
Rasulullah adalah khatamun Nabiyyin (nabi penutup).
  Tanggapan:
  Pernyataan ini masih juga menyelipkan beberapa tanda tanya. Secara tekstual, 
kata-kata ini bertentangan dengan pengakuan Ghulam Ahmad sendiri, sebagaimana 
yang telah lewat penyebutan sebagiannya. Apalagi dikatakan bahwa ini sejak 
awal, tentunya tidak mungkin. 
  Kemudian mereka menyatakan meyakini Nabi Muhammad itu sebagai nabi penutup. 
Penutup apa maksudnya? Di samping mereka sempat meyakini bahwa Ghulam Ahmad 
bukan Nabi yang independen, bahkan ia mengikuti syariat Nabi Muhammad, yang 
Ghulam istilahkan dengan Nabiyyun Muttabi’ (Nabi yang mengikuti). Lihat 
pembahasan Sekilas tentang Sejarah Munculnya Ahmadiyah. Sehingga Nabi Muhammad 
adalah penutup untuk Nabi yang membawa syariat yang tersendiri atau independen, 
yang mereka istilahkan dengan (Ash-habusy-syari’ah) (lihat pembahasan Kajian 
Utama 1 Sub Judul Penyelewengan Ahmadiyah terhadap Makna Ayat). Itu berarti 
menurut mereka tidak menutup kemungkinan akan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad 
n. 
  Dari pernyataan mereka tersebut, tidak berarti mereka menolak eksistensi 
Ghulam Ahmad sebagai Nabi. Tolong dicamkan.
  3. Di antara keyakinan kami bahwa hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang 
guru, mursyid, pembawa berita gembira dan peringatan serta pengemban 
mubasysyirat, pendiri dan pemimpin Jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat 
dakwah dan syi’ar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
  Tanggapan:
  Tentu pembaca memerhatikan awal pernyataan ini yaitu: ‘Di antara keyakinan 
kami.’ Tentu ini tidak berarti menafikan keberadaan Ghulam Ahmad sebagai nabi. 
Sebab, seandainya saja kita terapkan kata-kata berikut ini: "Di antara 
keyakinan kami bahwa… adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita gembira dan 
peringatan serta pengemban mubasysyirat" pada salah seorang Nabi, tentu akan 
benar. 
  Sehingga tak lain, itu hanya permainan kata-kata yang tidak mengubah 
keyakinan mereka yang sesungguhnya. Kalau mereka betul-betul tidak meyakini 
Ghulam Ahmad sebagai Nabi, mengapa ketika Ketua MUI mengusulkan penambahan anak 
kata bahwa ‘Mirza Ghulam Ahmad bukan Nabi’ tidak ditampung dalam pernyataan JAI?
  7. Buku Tadzkiroh bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman 
rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi 
nama Tadzkiroh oleh pengikutnya pada tahun 1935, yakni 27 tahun setelah beliau 
wafat (1908).
  Tanggapan: 
  Pernyataan ini tidak menafikan bahwa mereka punya kitab suci yang diyakini 
sebagai wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama yang lain. Karena 
justru yang dikenal oleh orang-orang Ahmadiyah di sana bahwa nama kitab mereka 
adalah Al-Kitabul Mubin. Muhammad Yusuf Al-Qadiyani mengatakan dalam bukunya 
An-Nubuwwah fil Ilham (hal. 43): "Sesungguhnya Allah menamai kumpulan ilham 
Ghulam Ahmad dengan Al-Kitabul Mubin. Satu ilham disebut satu ayat. Maka yang 
meyakini bahwa seorang Nabi harus memiliki kitab, dia wajib mengimani kenabian 
Ghulam Ahmad dan kerasulannya. Karena Allah telah menurunkan kepadanya kitab 
dan Dia namakan dengan Al-Kitabul Mubin. Ia tetapkan baginya sifat ini walaupun 
orang-orang kafir benci." 
  Ghulam Ahmad sendiri pernah mengatakan: "Turun kepadaku Kalamullah dengan 
begitu banyaknya. Seandainya dikumpulkan maka tidak kurang dari 20 juz." 
(Haqiqatul Wahyi hal. 391 karya Ghulam Ahmad, dinukil dari makalah 
Al-Qadiyaniyyah wa ‘Aqa`iduha karya Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir hal. 336)
  Demikianlah, agar menjadi perhatian dan agar kaum muslimin senantiasa dalam 
kehati-hatian serta kewaspadaan dari kelompok-kelompok sesat lagi kafir semacam 
mereka. Sengaja kami hanya menampilkan beberapa catatan saja pada beberapa 
butir dari 12 butir pernyataan mereka tersebut, karena keterbatasan ruang.
  1 Al-Fadhl dinukil dari Review of Religions hal. 158 no. 4 juz 14
  
  
  

       

Kirim email ke