Wanted, Die Or Live!   Sabtu, 14 Jun 08 06:35 WIB 
Kirim teman   Kasus rusuh Monas, Ahad (1/6) lalu masih menyisakan banyak 
pertanyaan. Berbagai media massa sekuler, baik itu media cetak maupun teve, 
tidak lagi terlihat getol memberitakannya. Ini disebabkan pemerintah akhirnya 
mengeluarkan SKB Tiga Menteri yang memerintahkan agar kelompok sesat Ahmadiyah 
berhenti melakukan semua kegiatannya (9/6). 
Tudingan biang keladi rusuh Monas yang tadinya banyak diarahkan ke FPI pun kini 
sudah tidak lagi demikian. Banyak tokoh masyarakat maupun pejabat negara yang 
berbalik menuding AKKBB sebagai pihak yang harus bertanggungjawab. Kapolri 
Jenderal Soetanto sendiri dalam sebuah kesempatan di depan anggota DPR 
menyatakan dengan tegas jika rusuh Monas bisa terjadi karena ulah AKKBB sendiri 
yang menyalahi janji tentang rute aksi demo dan melakukan provokasi kepada 
massa umat Islam di Monas. “AKKBB sendiri yang cari-cari masalah!” tandas 
Kapolri (12/6). 
Hanya saja, pengusutan atas kasus rusuh Monas yang dilakukan oleh pihak 
kepolisian terasa sekali berat sebelah alias tidak memenuhi asas keadilan. 
Ketua FPI Habib Rizieq yang tidak tahu apa-apa, tidak berada di TKP dan tidak 
memerintahkan penyerangan, ditangkap dan ditahan. Namun tokoh-tokoh AKKBB 
sampai hari ini masih saja bebas melenggang dalam kebebasan. Jika polisi adil 
tentu tokoh-tokoh AKKBB juga harus diseret dan dipenjarakan seperti Habib 
Rizieq. Apalagi organisasi bernama AKKBB merupakan organisasi yang tidak 
tercatat keberadaannya di Departemen Dalam Negeri alias organisasi ilegal. 
Salah satu yang harusnya ditelusuri pihak kepolisian dalam kasus rusuh Monas 
adalah seorang pria berkostum AKKBB, berada di tengah-tengah massa AKKBB, yang 
membawa-bawa senjata api dalam aksi unjuk rasa tersebut. Lelaki ini harus 
dikejar, dijadikan buronan (DPO), dicekal tidak boleh keluar negeri, untuk 
diseret ke proses hukum karena melakukan perbuatan yang jelas-jelas melanggar 
hukum. 
Beberapa hari lalu, dalam milis-milis di dunia maya, foto lelaki tersebut 
beredar. Wajahnya jelas dan pistol yang dibawanya pun jelas. Dengan bekal ini 
seharusnya polisi mampu mengejarnya. Jika perlu polisi harus menyebarkan gambar 
tersebut, menggambar ulang wajah tersebut dan menyebarkannya ke semua 
tempat-tempat umum di Indonesia. Gambar-gambar ini harus ditempel di stasiun 
kereta api, bandara udara, terminal, halte bus, rumah-rumah makan, pelabuhan, 
kantor-kantor, pangkalan ojek, dan sebagainya. 
Agar lebih mudah, harusnya polisi menyeret dahulu tokoh-tokoh AKKBB untuk 
bertanggungjawab atas aksi demonya kemarin tersebut, sama seperti cara 
pengusutan polisi terhadap tersangka kasus terorisme. Karena orang yang 
bawa-bawa senjata api dalam aksi demo yang diklaimnya “aksi damai” sama 
saja dengan teroris yang berbahaya. Kita tunggu saja polisi mengejarnya, atau 
jika perlu, umat Islam akan mencarinya sendiri? Die or Live. (rz) 
    Habib Rizieq Desak Polisi Segera Periksa Durahman Cs   Rabu, 11 Jun 08 
07:08 WIB 
Kirim teman   Berkali-kali Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad 
Rizieq Syihab meminta agar pihak kepolisian juga memeriksa Abdurrahman Wahid 
dan tokoh-tokoh yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan 
Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Namun sampai dengan Selasa kemarin (10/6) 
aparat polisi belum juga punya nyali untuk menyeret Sekutu Zionis tersebut ke 
alam proses pemeriksaan terkait insiden Monas, 1 Juni 2008. 
“Mulai hari ini saya tidak mau meneruskan pemeriksaan polisi terhadap saya, 
sebelum polisi memeriksa Gus Dur, Rizal Mallarangeng, dan orang-orang lainnya 
yang tergabung dalam AKKBB!” tegas Habib Rizieq kepada wartawan. 
Nama-nama yang disebutkan Habib Rizieq yang tergabung dalam AKKBB merupakan 
gembong Jaringan Islam Liberal (JIL) yang diyakini merupakan motor penggerak 
dari AKKBB. 
“Kami inginkan keadilan dalam proses hukum ini. Walau saya menolak semua 
tuduhan polisi terhadap saya, namun saya mau mengikuti proses hukum ini. Polisi 
jangan takut untuk seret Gus Dur dan kawan-kawannya ke sini, untuk menemani 
saya di tahanan!” tandas Habib kembali. 
Seperti yang telah diketahui luas, saat terjadinya insiden, massa AKKBB ada 
yang tertangkap basah kamera tengah membawa senjata api. Namun yang 
mengherankan sampai detik ini polisi belum juga memburu pelaku dengan dalih 
kesulitan mengidentifikasi orangnya. Padahal polisi bisa saja memintakan 
pertanggungjawaban hal ini kepada tokoh AKKBB dan memenjarakannya, agar pelaku 
yang sebenarnya bisa keluar dari tempat persembunyian dan tidak bertindak 
pengecut. 
Peristiwa rusuh Monas tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi jika massa AKKBB 
tidak melakukan provokasi dan tindakan menantang massa umat Islam yang tengah 
berdemo. Sebab itu polisi seharusnya menyeret para tokoh AKKBB juga untuk 
dimintai keterangan dan jika perlu dijadikan tersangka. Jika polisi 
sungguh-sungguh profesional, maka hal ini bukanlah hal yang sulit untuk 
dilakukan. Kecuali polisi memang mendapat tekanan dalam kasus ini dari 
Pemerintah SBY atau pihak asing seperti AS sehingga kerjanya berat sebelah. 
(rz) 
 
 

       

Kirim email ke