Ah..janten lapar abdi yeuh..enjing keneh....oge.........

On 6/24/08, Heryadi, Eddy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Daripada lieur ngabandungan Ahmadyah... meuning maca kompas .... punten
> teu disundakeun......
> ....Eleh ku Bondan....  urang bandung sorangan can nyobian yeuh..... hehehe
> jadi lapar ...
>
> Jumat, 20 Juni 2008 | 08:51 WIB
> <<...OLE_Obj...>>
>
> Beberapa kali saya singgah ke Pasar Cihapit di Bandung untuk mencicipi
> masakan Mak Eha yang legendaris. Tetapi, tiga kali saya gagal. Pertama kali
> datang ke sana ternyata saya kesiangan. Mak Eha sudah meninggalkan tempat.
> Kedua kalinya saya datang, Mak Eha tidak berjualan. Ketiga kali, eh,
> ternyata Mak Eha tutup lebih dulu karena dagangannya habis.
>
> Untungnya, Pasar Cihapit punya berbagai pelipur lara. Di sana saya
> menemukan pedagang nasi kuning dengan kualitas unggul di depan pasar. Ada
> juga seorang penjual lontong kari yang boleh diandalkan. Di kelas jajanan,
> ada beberapa juara pula. Ada seorang penjual kripik jamur yang menurut saya
> sangat kreatif. Gorengan jamurnya istimewa. Memang agak mahal untuk kelas
> pasar. Tetapi, jamur 'kan tidak murah? Di samping itu, kualitas juga
> menentukan.
>
> Di Pasar Cihapit juga ada seorang penjual gorengan yang terkenal sejak
> puluhan tahun. Pedagang keturunan Tionghoa ini sudah menjadi langganan
> banyak orang. Orang-orang yang sudah lama meninggalkan Bandung pun masih
> kembali mencari goreng pisang dan goreng tempe dari gerai ini. Ada juga
> seorang penjual uli (juadah ketan) dan tape dari nasi yang dibungkus
> kecil-kecil dalam daun.
>
> Semua makanan dan jajanan yang saya sebut di atas memang berhasil meredam
> kekecewaan saya setiap kali datang ke Pasar Cihapit dan tidak menemukan Mak
> Eha. Tetapi, tetap saja, semakin "panas" mengingini Mak Eha.* Panasaran*!
>
> Rupanya, "peruntungan" saya ada di Gwen, anak kami. Sekalinya saya datang
> ke Pasar Cihapit bersama Gwen, eh Mak Eha ada di sana ...* fully in charge
> *.
>
> Mak Eha sudah sepuh. Barangkali sekitar 70-an tahun. Beberapa putri dan
> menantunya ikut membantunya mengelola warung makan sederhana di tengah pasar
> yang ramai. Tetapi, yang paling ramai tentulah warung Mak Eha. Bangku-bangku
> panjang yang tersedia di sana rupanya tidak cukup untuk menampung
> orang-orang yang ingin makan. Mereka menunggu dengan sabar sampai tersedia
> ruang kosong di antara bangku-bangku itu. Banyak pula orang yang datang
> untuk membeli dan dibawa pulang.
>
> Saya memesan sayur kepala kakap. Namanya memang begitu. Tidak dibilang
> gulai kepala ikan atau sup kepala ikan. Deskripsi untuk makanan yang satu
> ini memang sulit. Sajiannya berkuah santan, dengan bumbu yang kaya dan
> kompleks. Tetapi, rasanya tidak mirip gulai, sekalipun warnanya sama kuning.
> Bumbu-bumbunya sangat* balanced*, sehingga sulit menjejaki apa saja yang
> ada di dalamnya. Tampak lembaran-lembaran lebar daun kunyit dan kemangi di
> dalam kuahnya yang sedikit kental. Sungguh, totalitas citarasanya jauh lebih
> eksotis daripada gulai. Aromanya pun menggoda. Tidak heran bila sayur kepala
> ikan ini merupakan "bintang" di warung Mak Eha. Kalau tidak datang pagi,
> jangan harap masih tersisa untuk Anda. Pedas-pedas gurih, penuh pesona,
> dengan nuansa Sunda yang cukup jelas.* Mak nyuss*!
>
> Semua hidangan Mak Eha mewakili ciri masakan rumahan yang bahkan mungkin
> tidak perlu diberi nama. Pokoknya, yang ini ada jengkolnya, yang itu ada
> tempenya, yang di sana itu pakai teri, dan lain-lain. Mak Eha juga
> sepenuhnya sadar bahwa di dalam setiap keluarga selalu ada anak-anak yang
> lidahnya belum siap untuk masakan pedas, sehingga cukup banyak pula
> masakannya yang berkatagori gurih dan manis.
>
> Di atas tadi saya menulis tentang Mak Eha yang* fully in charge*. Memang
> itulah kesan pertama saya tentang Mak Eha. Ia bagaikan seorang* 
> matriarch*yang menjadi pusat dari semua kegiatan di warungnya. Dengan punggung
> jari-jarinya ia menyentuh makanan-makanan yang disajikan untuk menguji suhu
> masing-masing. Bila perkedel sudah dingin, ia segera memerintahkan agar
> menggoreng perkedel baru. Ketika salah seorang pembantunya mengulek sambal,
> ia datang untuk mencicipi. Lalu menambahkan sedikit garam untuk
> menyeimbangkan cita rasanya. Luar biasa! Mak Eha melakukan* quality
> control* secara terus-menerus terhadap masakannya. Mungkin itulah kiat
> sukses usahanya selama puluhan tahun ini.
>
> Gwen terpesona akan perkedel buatan Mak Eha. Maaf, sekali ini saya terpaksa
> membuat perbandingan langsung tentang perkedel Mak Eha. Anda semua tentunya
> kenal perkedel "misterius" dengan nama aneh yang sangat laku dan dijual
> HANYA mulai tengah malam di kawasan Stasiun Bandung, bukan? Perkedel yang
> satu ini sampai diantre orang. Bahkan sekarang banyak joki yang bersedia
> mengantre untuk Anda agar dapat mencicipi perkedel itu tanpa bersusah payah.
>
> Perkedel Mak Eha tersedia pada saat yang lebih wajar,* civilized hours*.
> He-he-he rasanya? Jauh lebih* mak nyuss*! Bumbunya begitu cantik, dengan
> sedikit daging sapi cincang di dalamnya. Benar-benar gurih. Gwen sampai
> membungkus beberapa perkedel sebagai cemilan di mobil. Cemilan kok perkedel?
>
> Gwen bersepakat dengan saya bahwa semua sajian Mak Eha yang kami cicipi
> memang istimewa.* Out** of this world*, kata Gwen. Lagi-lagi saya harus
> mengakui bahwa Indonesia benar-benar kaya dengan* local talents* seperti
> Mak Eha yang dengan kesederhanaannya berhasil menampilkan pusaka kuliner
> Indonesia* at its best*. Saya sungguh terpukau dan terpesona akan kualitas
> masakan Mak Eha dan putri-putrinya.
>
> Mak Eha membuat saya teringat sebuah warung kecil di Sukoharjo, Solo.
> Warung ini sebenarnya direkomendasikan oleh seseorang yang saya temui dalam
> penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam beberapa tahun yang lalu. Ia sedang
> dalam perjalanan untuk mempromosikan mebel produksinya di Eropa. "Kalau ke
> Sukoharjo, harus dan wajib singgah ke ayam goreng Mbah Karto," katanya.
> "Ayam kampung yang gurih banget dengan sambal yang luar biasa."
>
> Sukoharjo adalah kota yang bertetangga dengan Solo, tetapi saya jarang
> singgah ke sana. Karena itu, dalam kunjungan terakhir, saya sempatkan
> datang. Warungnya menempati sebuah rumah lama berukuran besar. Rumah desa
> dengan dinding dari anyaman bambu. Lantainya dari tanah. Tetapi, rumah ini
> berada di sebuah jalan besar. Di seberangnya ada kantor Perusahaan Listrik
> Negara dan polres. Tidak heran banyak pegawai PLN dan polisi santap siang di
> sana. Kalau Anda sedang masuk DPO (Daftar Pencarian Orang), jangan masuk ke
> sana ya...
>
> Begitu masuk warung, aroma gurih ayam goreng tertebar di dalam rumah yang
> redup dan sejuk itu. Saya memesan ayam goreng dan jeroan yang segera
> tersaji. Warna ayam gorengnya kuning kecoklatan cantik. Dari tampilannya
> tampak bahwa ayam ini tidak dibumbu bacem seperti kebiasaan ayam goreng di
> daerah Jawa Tengah. Tetapi, jelas pula telah diungkep dulu sebelum digoreng.
>
> Ayam gorengnya sungguh gurih. Jangan kaget bila tingkat keasinannya sedikit
> di atas rata-rata. Orang Jawa Tengah memang menyukai ayam goreng yang
> sedikit asin, dengan sambal yang manis. Tingkat keempukan dan tekstur ayam
> gorengnya luar biasa, dengan bumbu yang meresap hingga serat-seratnya yang
> paling dalam. Saya sudah agak lama mengurangi jeroan ayam, tetapi kali ini
> saya membuat perkecualian serius. Sambalnya yang istimewa membuat semua
> orang makan seperti kesetanan di sana.
>
> Bagi saya, satu-satunya ayam goreng yang mampu mendekati kualitas ayam
> goreng Mbah Karto di Sukoharjo ini adalah ayam goreng Mardun Martinah di
> Jalan Mangga Besar dan Asem Reges, Jakarta Pusat. Kalau dibiarkan, saya bisa
> menghabiskan empat potong ayam goreng di masing-masing tempat itu.
>
> *I'll be back*!
>
> *Bondan Winarno*
>
> IMPORTANT NOTICE:
> The information in this email (and any attachments) is confidential. If you
> are not the intended recipient, you must not use or disseminate the
> information. If you have received this email in error, please immediately
> notify me by "Reply" command and permanently delete the original and any
> copies or printouts thereof. Although this email and any attachments are
> believed to be free of any virus or other defect that might affect any
> computer system into which it is received and opened, it is the
> responsibility of the recipient to ensure that it is virus free and no
> responsibility is accepted by American International Group, Inc. or its
> subsidiaries or affiliates either jointly or severally, for any loss or
> damage arising in any way from its use.
>
>
> 
>

Kirim email ke