Menyaksikan Hajat Solokan, Tradisi Masyarakat Cikondang
Her Suganda
AIR bagi petani adalah sumber kehidupan. Tanpa air, sawah dan ladang
akan kering sehingga tanaman padi dan palawija mati dengan sendirinya.
Tanpa air, mereka akan kehausan sampai akhirnya mati perlahan-lahan.
Karena itu, sebelum nasib buruk menimpa, masyarakat Cikondang, Desa
Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung (Jawa Barat),
menyelenggarakan hajat solokan setiap tahun.
Dulu, hujan akan turun pada sore hari setelah siang harinya
diselenggarakan hajat solokan," kata seorang penduduk. Tetapi, kini
alam rupanya sudah tidak mau diajak kompromi dan sulit dibaca walau
masyarakat sudah melakukan upacara ritual.
Hajat solokan artinya ruwatan solokan atau saluran air.
Upacara tersebut diselenggarakan di bendung Kali Cisangkuy, salah satu
anak Sungai Citarum. Dari bendung tersebut, sebagian debit airnya
disalurkan ke selokan sepanjang lebih kurang tiga kilometer untuk
mengairi sawah penduduk Cikondang dan beberapa kampung lainnya di
bagian hilir.
Upacara tersebut diawali dengan menyembelih dua ekor domba jantan di
dekat bangunan pembagi air. Kedua kepala domba tersebut masing-masing
dikubur di bagian hulu dan hilir solokan. Sementara dagingnya diolah
menjadi rendang dan sebagian lagi dipanggang menjadi sate untuk lauk
makan bersama.
Di atas timbunan tanah tempat kepala domba dikubur, ditancapkan sawen
yang terdiri dari jenis daun-daunan. Masing-masing terdiri dari daun
jaringao, jawer kotok, hanjuang, taleus hideung, dan daun labu. Di
sekitar tempat tersebut kemudian dibakar kemenyan.
Seusai penguburan kepala domba, amil yang memimpin upacara melakukan
ruwatan. Akan tetapi, berbeda dengan ruwatan yang diselenggarakan pada
umumnya, upacara ruwatan masyarakat Cikondang tidak dengan
menyelenggarakan pertunjukkan kesenian wayang kulit atau wayang golek.
Upacara ruwatan masyarakat Cikondang dilakukan dengan melemparkan uang
logam. Jumlahnya harus selalu sembilan. Misalnya Rp 90, Rp 900 atau Rp
9.000, Rp 90.000 dan seterusnya dalam kelipatan "sembilan". Uang logam
tersebut tersimpan dalam sesajen yang berisi, bagian atas, nasi
tumpeng yang disebut congcot, buah jambe, serutu, rokok kretek, rokok
daun kawung, pisang, tebu, gula kelapa, daging mentah. Selain itu,
terdapat pula pangradinan yang terdiri dari sirih, gambir, kapur
sirih, dan tembakau. Di atas sesajen disimpan rengginang, makanan
kecil khas pedesaan yang biasa digunakan sebagai lauk minum kopi atau
teh.
Sambil melemparkan uang logam ke hulu solokan, amil membakar kemenyan.
Asapnya mengepul, meninggalkan aroma khas sehingga menimbulkan suasana
magis. Apalagi lokasi yang dijadikan tempat upacara terletak pada dua
tebing curam. Di sebelah timur yang sekaligus menjadi bibir Sungai
Cisangkuy adalah tebing Cihideung tingginya sekitar 30 meter. Pada
sisi lain menjulang tebing batu Cadasgantung setinggi lebih kurang 20
meter. Di bagian bawahnya tumbuh tanaman liar.
Karena terletak di dekat lokasi yang disebut Cadasgantung, penduduk
setempat menamakan bendung tersebut Bendung Cadasgantung.
***
BENDUNG Cadasgantung terletak sekitar 3 kilometer dari perkampungan
penduduk Cikondang. Lokasi bendung tersebut berada di bagian hilir
Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Lamajan yang dibangun Belanda pada
tahun 1920-an. Tenaga listrik yang dihasilkan pada mulanya untuk
penerangan Kota Bandung, terutama daerah yang dijadikan hunian mereka.
Dengan dibangunnya Bendung Cikondang, maka air Sungai Cisangkuy di
bagian hilir PLTA Lamajan terbagi dua. Sebagian debitnya mengalir
melalui palung sungai lama dan sebagian lagi masuk dan mengalir
melalui saluran yang dibangun secara bergotong royong oleh penduduk
setempat. Tetapi, pada awal pembangunannya ternyata tidak mudah
mengalirkan air ke saluran tersebut.
Alkisah, ketika pemuka masyarakat Cikondang, seperti Mak Egoh,
Murnasam, dan penduduk desa lainnya, membangun solokan air ke desanya
pada tahun 1911, mereka kesulitan karena daerah bagian hulu yang
letaknya berdekatan dengan bendung, terhalang batu besar. Saat itu,
mereka hanya mengandalkan cangkul dan peralatan sederhana seadanya.
Melihat betapa sulitnya pekerjaan tersebut, tokoh-tokoh masyarakat
Kampung Cikajang, Cikanyere, dan Tipar mengusulkan agar Lurah
Adiwinata yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa Lamajang meminta
bantuan sesepuh masyarakat setempat yang menjadi polisi desa. Namun,
masyarakat setempat lebih senang menjulukinya "Bah Kulisi".
Julukan bah merupakan singkatan dari abah yang artinya panggilan untuk
orang yang sudah sepuh dan disegani karena memiliki kesaktian. Menurut
penduduk, panggilan itu merupakan nama samaran untuk menghindarkan
pengejaran Belanda.
Malam ketika penduduk lainnya tidur nyenyak, Bah Kulisi menyusuri
solokan yang masih kering menuju batu besar yang menjadi penghalang.
Entah apa yang saat itu dilakukan. Yang jelas, pagi harinya, batu
besar yang menghalangi aliran air Cisangkuy ke solokan yang dibangun
berhasil dihancurkan.
Masyarakat yang semula kebingungan, setelah menyaksikan peristiwa itu
berubah menjadi gembira bercampur kagum. Mereka bangga karena memiliki
sesepuh desa yang dianggap sakti.
***
UPACARA hajat solokan antara lain bertujuan menghormati jasa-jasa Bah
Kulisi dan pemuka masyarakat lainnya, sekaligus sebagai ungkapan rasa
syukur mereka karena memperoleh air yang melimpah. Dengan air tersebut
mereka bisa bercocok tanam padi, palawija dan, sayuran serta dapat
meme-nuhi kebutuhan lainnya.
Sebagai ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan, sejak itu, setiap tahun
mereka selalu menyelenggarakan hajat solokan. Sejak pagi hari, kaum
wanita berbondong-bondong datang ke tempat upacara. Sebagian bekerja
di dapur umum dan sebagian lainnya datang dengan membawa nasi tumpang
lengkap dengan lauk-pauknya. Nasi tumpeng dan lauk-pauknya barulah
bisa dinikmati setelah dilakukan pembacaan doa.
Haji Dasip, salah seorang pemuka masyarakat Cikon-dang, menyatakan,
kegiatan itu merupakan cerminan rasa gotong royong masyarakat yang
masih kuat. Mereka membiayai kegiatan tersebut secara patungan yang
dipungut berdasarkan iuran.
Pada zaman dulu, upacara tersebut biasanya dimeriahkan dengan berbagai
kesenian sehingga upacara tersebut menjadi atraksi menarik, sekaligus
dijadikan ajang silaturahmi sesama warga. Lurah atau kepala desa yang
akan menghadiri upacara tersebut menaiki kuda lalu diiring tetabuhan
beduk, dog-dog, reog, dan kesenian kendang penca. Mereka menyusuri
tanggul saluran sejauh lebih kurang tiga kilometer. Sepanjang
perjalanan, masyarakat bersorak-sorai gembira mengiringi pimpinan
desanya.
Akan tetapi, kesenian yang mengiringi upacara tersebut makin lama
makin berkurang jumlahnya. Salah satu sebabnya adalah
kesenian-kesenian tradisional tersebut sudah berguguran. Akibatnya,
tahun ini, upacara hajat solokan hanya dimeriahkan kacapi yang
diiringi Amih Sarifah, jurukawih yang usianya sudah setengah abad.
(Her Suganda)
Citation: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0211/05/daerah/meny34.htm