Punten ah, ngiring nyalabarkeun dina milis, ieu buku rerencangan abdi.

bilih anu resep buku humor, mangga galeuh ieu buku.

sok lah, nu kersa galeuh, nu teu kersa ulah geuleuh. hehehehe...
Pasti di milis US mah moal aya anu maca komo mairan, soalna lain tentang
Ahmadiyah, Monyet atawa Pulitik.

hehehehe...


 Judul Buku: Jakarta Underkompor
Penulis: Arham_Kendari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Harga: Rp 28.000,-

Di saat semua orang mengadu nasib ke kota-kota besar seperti Jakarta,
seorang Arham justru memilih untuk kembali ke kampung halamannya di Kendari
karena merasa tidak cocok dengan ritme kehidupan metropolitan Jakarta.

Hal-hal yang ia alami selama hidup di Kendari maupun di Jakarta
diceritakannya dalam blog pribadinya. Kemudian blog tersebut dibukukan
menjadi cerita yang lucu, ringan, konyol dan penuh humor yang segar, tanpa
meninggalkan makna kehidupan yang ingin dibaginya bersama pembaca.

Sebagai seorang desainer grafis dan kartunis harian lokal Kendari, Arham
juga membumbui ceritanya dengan ilustrasi yang konyol, foto-foto yang kocak,
yang menjadikan buku ini sangat menghibur. Oleh karena itu pantaslah kita
menjuluki Arham sebagai Blogger <http://www.blogger.com/> Terkonyol dan
Terkreatif.

Salah satunya dari puisi yang dia bikin berdasarkan pengalamannya mencari
nafkah di Jakarta

Baru juga seminggu ku dapat kerjaan

Teman-teman udah pada kreatif buat schedule traktiran

Dari Jakarta Utara sampai Jakarta Selatan

Namun apa daya, tak kuasa ku melawan

Bingung ku memikirkan

Gimana dapatkan tambahan modal secara instan

Apakah jadi preman Tanah Abang?

Ataukah jual diri di Taman Lawang?

Tanggal muda bulan depan

Haruskah ku minta perlindungan ke Komnas HAM

Mungkinkah ku mabur ke Pulau Nusakambangan?

Ataukah invisible for everyone?

oh, Pak Sutiyoso yang ganteng dan rupawan

Mengapa kotamu begitu kejam

Mengapa budaya merokok di tempat umum di larang?

Tetapi budaya traktir gaji pertama dilestarikan?

Oh, Pak SBY yang macho nan jantan

Tak bisakah kau buat kepres dan undang-undang?

Yang melindungi keselamatan warga pendatang?

Yang terbebaskan dari traktiran yang seolah jadi kewajiban?

Oh, teman-teman yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan

Mengertilah diriku yang hanya karyawan kecilan

Kuharap gajian nanti gak minta macam-macam

Kecuali satu diantara kalian bersedia kujadikan istri simpanan

Oh, Emak nun jauh di kampung halaman

Maafkan jika bulan depan gak ada kiriman yang kujanjikan

Terserahlah jika kau anggap anakmu ini Malin Kundang

Asal jangan kau kutuk diriku jadi patung Pancoran

Oh, para pembaca yang budiman

Maafkan jika puisi ini gak sopan

Karena aku bukanlah ponakan Kahlil Gibran

Hanya anak perantauan yang konsisten mempertahankan ketampanan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke