Aya aktivis perdamaian dunya, warga nagara Amerika jeung Kristen, nganjang 
ka Bandung diondang ku Penerbit Mizan nu medalkeun catetan poean sang 
aktivis. Waktu di Bandung, sang aktivis, sanajan Kristen tapi tetep 
sakapeung sok sholat jeung Puasa. Pluralismeu tea kitu?

Nyanggakeun wawancara Pikiran Rakyat 3 Agustus 2008 jeung sang aktivis:

Arthur G. Gish Berani Menghadang Tank Israel
(PR, 3/8-2008)

SEORANG kakek berjanggut lebat berdiri sambil mengangkat kedua tangannya di 
hadapan tank tentara Israel yang tengah menderu dan bersiap memuntahkan hulu 
ledaknya. Moncong senjata tank berkekuatan ledakan dahsyat itu tinggal 
berjarak beberapa inci saja dari dada pria bertopi merah dan sweater biru 
itu. Pria tersebut bergeming dan malah menyeru tentara yang berada di balik 
kemudi tank agar menghentikan langkahnya. Aksi kakek itu menuai amarah 
tentara Israel. Mereka bahkan meludahi sang kakek agar segera mundur dari 
jalur tank.

Setelah bersitegang beberapa lama, tank Israel itu mundur dan mengurungkan 
niatnya membombardir pasar di Al Manara, Hebron, Tepi Barat Palestina. Amuk 
tentara yang membabi buta melumatkan pasar sepanjang dua blok itu perlahan 
berhenti. Sesaat setelah kejadian itu, Gish tertunduk lesu. Berlutut dan 
berdoa. "Aku merasa sendiri, lemah, tak berdaya. Aku hanya bisa menjerit 
kepada Tuhan," ujar Gish (68).

Juru foto dari Kantor Berita Associated Press (AP) beruntung berhasil 
merekam drama menegangkan itu. Keesokan harinya, 31 Januari 2003, foto 
fenomenal itu menjadi headline di setiap surat kabar di dunia. Sejak saat 
itu, kakek bernama Arthur G. Gish itu kian dikenal dunia sebagai aktivis 
perdamaian.

Peristiwa yang membikin jantung berdegup seperti itu tak sekali dua kali 
dialami Gish. Maklum sejak 1995, Gish terjun di tengah situasi konflik di 
Hebron. Banyak kalangan yang menilai langkah Gish sebagai langkah konyol. 
Memasuki daerah konflik agama yang tak kunjung usai dan telah menelan ribuan 
nyawa selama kurun waktu berabad-abad. Konflik yang diwariskan dari sejak 
kematian Nabi Ibrahim, Perang Salib, hingga pendudukan Israel karena dipicu 
munculnya Paham Zionisme.

Gish adalah seorang berkebangsaan Amerika Serikat yang aktif sebagai anggota 
Christian Peace Maker (CPM) yang bermarkas di Ohio, AS. Satu hal yang 
disentuh Gish adalah nurani setiap warga di Palestina, baik itu kalangan 
Muslim, Kristen, maupun Yahudi, bahwa sesungguhnya nurani mereka mendambakan 
perdamaian. Oleh karena itu, kekerasan atas alasan apa pun tidak dibenarkan.

Catatan harian Gish di Hebron yang penuh dengan drama itu dibukukan dengan 
judul Hebron Journal: Stories of Nonviolent Peacemaking yang dicetak oleh 
Herald Press di Kanada pada tahun 2001 cetakan pertama. Di Indonesia, Hebron 
Journal telah dialihbahasakan oleh Penerbit Mizan Juli tahun ini.

Berdasarkan catatan Gish, setidaknya ada tiga peristiwa yang selalu 
dijadikan alasan mereka berkonflik. Pertama, pembantaian Yahudi pada 1929 
oleh kaum Muslim. Kedua, pendudukan Tanah Palestina oleh Israel pada 1948, 
dan pembunuhan kaum Muslim oleh Israel di Masjid Ibrahim pada 1994. Selain 
itu, serentetan dosa sejarah yang ditandai peristiwa-peristiwa pembantaian 
tidak pernah usai hingga saat ini.

Perdamaian seakan menjadi hal yang utopis meski agama yang tengah mereka 
bela itu mengajarkan dan mengutamakan perdamaian. Gish dkk. menerjunkan diri 
untuk memutus dendam kesumat tiga golongan yang mengaku umat Allah itu 
dengan cinta. Tanpa senapan, tanpa bom, bahkan tanpa caci maki.

Dalam situasi konflik, apakah tentara Israel yang menyakiti kaum Muslim 
Palestina atau sebaliknya, Gish berusaha hadir dan menghentikan pertikaian. 
Misalnya, Gish secara aktif mengawal anak-anak Muslim Palestina berangkat ke 
sekolah ketika tentara Israel menghalang-halangi anak-anak tersebut pergi ke 
sekolah. Di peristiwa lainnya, Gish mengawal truk air yang akan mengirimkan 
air bersih untuk keluarga Muslim Palestina ketika tentara Israel dan pemukim 
Israel menyabotase pengiriman air bersih ke wilayah Muslim.

Ajaibnya, perilaku kasar tentara Israel terhadap Muslim Palestina selalu 
berhenti tatkala Gish hadir di tengah-tengah mereka. Efek itu ia namakan 
"Grandmother's Effect". Gish dkk. yakin bahwa cucu tidak akan berani 
bertindak kurang ajar di depan neneknya. Dalam banyak peristiwa, Gish dkk. 
kerap berperan sebagai nenek dan tentara Israel sebagai cucu.
Pikiran Rakyat berkesempatan mewawancarai Gish di sela lawatannya ke 
Indonesia atas undangan Penerbit Mizan. Di Indonesia, Gish dijadwalkan 
mengunjungi beberapa kota, di antaranya Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung 
selama 11 hari. Di kota-kota itu, Gish selalu menyempatkan diri ceramah di 
masjid-masjid. Berikut petikan wawancara dengan Gish seusai ceramah di 
Masjid Mujahiddin, Jln. Sancang, Kota Bandung, pekan lalu.

Foto Anda yang fenomenal menunjukkan Anda tengah menghadang tank Israel di 
Pasar Al Manara. Apa yang Anda pikirkan saat itu?

Entahlah. Itu terjadi begitu cepat. Saya tidak punya waktu untuk berpikir. 
Saya hanya digerakkan oleh semangat Tuhan. Saya tahu, bisa saja saya 
ditembak oleh mereka. Saya tidak bisa membiarkan mereka menembaki para 
pedagang dan Muslim Palestina. Sesaat setelah itu, saya lemas sekali dan 
tidak percaya apa yang saya lakukan. Saat itu, banyak wartawan yang memotret 
di antaranya dari Associated Press (AP). Keesokan harinya, tiap koran 
memasang foto itu.
Ketika Anda tiba di Hebron, apakah Anda bekerja sama dengan kelompok Kristen 
di sana. Dan mengapa memilih Kota Hebron?

Harus Anda ketahui, bahwa tidak ada komunitas Kristen di Hebron. Komunitas 
Kristen hanya ada di kota-kota seperti di Jerusalem, Ramallah, Betlehem. 
Saya datang ke Hebron pada 1995. Saat itu, di Hebron adalah kota yang paling 
terbanyak mengalami kekerasan. Terutama setelah pembantaian 29 lelaki dan 
anak-anak Muslim yang tengah sembahyang di Masjid Ibrahim oleh Baruch 
Goldstein, seorang pemukim Yahudi dari Kiryat Arba. Banyak NGO 
(nongovernment organization) di Betlehem, Jerusalem, dan kota-kota lain. 
Akan tetapi tidak di Hebron. Makanya kami pilih Hebron.

Selama di Hebron, apakah Anda tinggal bersama warga Muslim Palestina?

Tidak. Kami punya rumah sendiri. Namun, kami tinggal di antara permukiman 
keluarga Palestina. Maka, kami pun banyak menghabiskan waktu dengan mereka.

**
Sebagaimana ditulis dalam Hebron Journal, hampir setiap hari, Gish dan 
rekannya di CPT (Christian Peacemaker Team, tim bagian dari CPM), menyusuri 
jalanan Hebron. Gish kerap bertemu dengan tentara Israel yang tengah 
menganiaya warga Palestina. Gish dengan sigap menghampiri tentara-tentara 
itu hanya untuk meminta mereka menghentikan kekerasan. Ia tidak akan pergi 
hingga tentara itu menghentikan aksinya. Pernah suatu kali, tentara Israel 
tetap memukuli warga Palestina itu. "Akhirnya, saya mendekatkan muka saya 
tepat ke muka tentara itu. Saya pandangi dia. Akhirnya, mereka berhenti 
menganiaya warga Palestina," ucap Gish yang pernah mendekam di balik jeruji 
sel tahanan polisi Israel itu lalu tertawa.

Ketika tiba di Hebron, apa yang Anda katakan kepada warga Palestina atau 
pemukim Israel yang ada di sana mengenai diri Anda?

Saya perkenalkan diri sebagai anggota CPT. Kami katakan, kami tidak memihak 
siapa-siapa. Bagi kami, tidak ada musuh. Semuanya adalah saudara dan harus 
saling menghormati karena Tuhan Allah. Mereka semua tahu topi merah yang 
kami kenakan dan bahwa kami adalah CPT.

Anda meyakini prinsip Grandmother's Effect. Tapi kadang banyak "cucu" yang 
nakal dan membandel pada neneknya. Apa yang Anda lakukan?

(tertawa kemudian terdiam sejenak)
Masalah saya terbesar di sana adalah mengatasi kemarahan saya. Banyak 
ketidakadilan di sana yang membuat saya sangat marah. Tapi kalau saya marah, 
pasti akan lebih mudah bagi saya untuk melakukan kekerasan juga. Oleh karena 
itu, tantangan terbesar saya di sana adalah mengatasi kemarahan saya. Hal 
pertama yang saya lakukan ketika marah adalah identifikasi kemarahan kita 
itu, jangan disangkal bahwa kita marah. Akui saja bahwa kita marah. Tapi, 
jangan sampai melakukan kekerasan. Hadapi semuanya dengan cinta. Kemudian 
kami sharing dengan anggota yang lainnya. Perjuangan terberat kami di daerah 
konflik adalah mengalahkan diri sendiri.

**

Di Ohio, Gish dikenal sebagai tokoh perdamaian tidak hanya setelah 
aktivitasnya di Hebron. Sejak tahun 1960-an, Gish muda sudah aktif menentang 
Perang Vietnam. Ia dan istrinya, Peggy Gish, terkenal sebagai dua sejoli 
cinta damai. Setiap Senin, selama 25 tahun terakhir, Gish dan Peggy 
melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Kepala Pemerintahan Ohio.
Tentu saja, aksi mereka itu dilakukan jika mereka kebetulan berada di tanah 
kelahirannya itu. Pasalnya, sejak 1995, setiap musim dingin, Gish pergi ke 
Hebron selama tiga bulan. Sedangkan Peggy yang juga aktivis perdamaian CPT, 
bertugas di Irak.

Anda dan isteri selalu berunjuk rasa di Ohio setiap Senin. Mengapa Senin? 
Dan apa yang Anda suarakan?

Ya, saya telah melakukannya selama 25 tahun ini bersama istri saya. Setiap 
Senin, pukul 11.30 sampai 12.30 siang karena itu waktunya makan siang dan 
banyak orang lalu lalang di jalanan. Saya tidak ingat mengapa harus hari 
Senin. Kami menyuarakan perdamaian.

Lalu, bagaimana respons pemerintah setempat?

Mereka mengabaikan kami. Meski saya kenal wali kotanya dengan baik, saya 
juga sering berbicara dengan mereka. Dengan polisi yang menangkapku juga 
baik dan saya juga respek pada mereka walau mereka sering menahanku selama 
beberapa jam. Setidaknya setahun sekali pasti saya ditahan dan harus 
menyelesaikannya di pengadilan.

Apakah itu taktik Anda untuk merekrut orang muda agar bergabung ke CPT?

Ya. Tapi saya seringnya melakukannya secara tidak langsung. Saya sering 
ceramah di setiap kota di AS. Tanpa saya ajak, mereka akan tertarik sendiri 
ke CPT.
Peggy bertugas di Irak. Sementara Anda di Hebron. Kapan Anda berangkat lagi 
ke Hebron?
Peggy di Irak sudah 9-10 minggu. Empat minggu lagi pulang. Saya akan pergi 
ke Hebron lagi mungkin Desember. Dia pergi ke Irak pada saat musim dingin 
dan musim panas. Kalau saya, hanya di musim dingin.

Mengapa Anda berdua tidak bareng saja?

Kami punya masalah berat. Hati Peggy ada di Irak, sedangkan hati saya di 
Hebron. Masalah kedua, yaitu kami sama-sama keras kepala.

Dari siapa Anda mewarisi sifat-sifat antikekerasan seperti ini? Apakah 
diajarkan orang tua Anda?

Ya. Orang tua saya bilang bahwa perang itu salah. Bahwa kita harus 
menghormati orang dari golongan apa pun, tanpa kekerasan. Orang tua saya 
bilang supaya saya tidak jadi tentara. Saya dibesarkan di lingkungan gereja 
dan itu bagian terpenting dalam hidup saya. Di sekolah, kita malah diajarkan 
untuk mendukung militer dan imperialisme. Padahal, di gereja tidak diajarkan 
seperti itu.

**

Selain sebagai aktivis perdamaian, Gish dan Peggy juga dikenal sebagai sosok 
sangat bersahaja. Di Ohio, kakek nenek dari tiga orang cucu itu berprofesi 
sebagai petani pakcoy dan paria. Kedua jenis sayuran itu mereka tanam tanpa 
menggunakan pupuk kimia sedikit pun. Gish mendapat bibit kedua sayuran itu 
dari satu keluarga Asia yang bermukim di Ohio dan ia menanamnya atas 
permintaan keluarga Asia tersebut.

Selama lawatannya di Indonesia, Gish tidak senang jika harus bermalam di 
hotel, terlebih hotel berbintang. Ia memilih bermalam di rumah penduduk 
asli. Selama di Bandung khususnya, Gish bahkan sempat "merengek" ingin 
membantu petani di bilangan Ciwastra yang sedang mencangkuli lahan sawahnya.

Di sela istirahat di Masjid Mujahiddin, Kota Bandung, Gish sempat menunaikan 
ibadah salat Zuhur. Ya, sebagai penganut Kristen, Gish juga kerap salat lima 
waktu, salat Jumat, bahkan berpuasa. Dalam ceramahnya, Gish kerap mengutip 
ayat-ayat Kitab Suci Alquran menunjukkan bahwa ia juga sedikitnya menguasai 
kitab suci umat Islam. "Bagi saya, bentuk ritual apa pun, pada intinya 
berserah pada Allah," ucapnya.

Ini kunjungan Anda pertama kali ke Indonesia. Bagaimana menurut Anda 
mengenai Indonesia mengingat citra Indonesia cukup muram di mata 
internasional?

I love Indonesia. Di sini tempatnya indah. Masyarakatnya baik. Saya 
benar-benar jatuh cinta kepada masyarakatnya. Mereka yang menganggap buruk 
itu seharusnya datang langsung ke Indonesia dan menghabiskan waktunya 
bersama masyarakat.
Selama di Indonesia, mayoritas "audience" ceramah Anda adalah kalangan 
Muslim. Apakah Anda tidak mengunjungi komunitas Kristen di sini?

Tentu saja saya mau. Tapi waktu saya sangat terbatas. Saya diundang Mizan 
dan saya hanya 11 hari. Tapi saya sudah berkomunikasi dengan salah satu 
pemimpin Kristen di sini. Saya ingin sekali bisa berkomunikasi lebih banyak.

Apa pesan Anda kepada masyarakat Indonesia?

Palestinian sangat menghargai support dari masyarakat seperti Indonesia.

Apa yang bisa kami lakukan?

Educate yourself sehingga bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi sana. 
Bergabunglah bersama organisasi-organisasi solidaritas. Anda tidak usah 
datang langsung ke sana, apalagi menambah kekerasan. Aplikasikan 
prinsip-prinsip perdamaian di mana Anda berpijak. (Lina Nursanty/"PR")*** 

Kirim email ke