Rajah Bubuka Helarfest
Bandung - Ketika Helarfest masih di awal-awal
pelaksanaannya, tak lupa panita pun menggelar Rajah Bubuka Helarfest
yang berarti doa pembuka, memohon restu dari kesepuhan dan berdoa
kepada Tuhan.Meski seremoni Rajah Bubuka kental dengan budaya Sunda
asli, namun tidak ada ikatan religi bagi yang hadir. Setelah meminta
restu dari pada kesepuhan atau orang yang dituakan, acara doa dilakukan
dengan hening cipta dan berdoa menurut kepercayaan masing-masing.
Komunikasi lintas generasi dan budaya ini juga dihadiri komunitas dari
Karo, Bali, Makassar juga Mojokerto.
Acara
yang berlangsung di situs Sumur Bandung di Gedung PLN, Cikapundung,
Kamis (31/8/2008), diawali rajah atau doa dan dilanjutkan dengan
penyampaian rencana panita Helarfest kepada para kasepuhan.
Beberapa
perwakilan kegiatan komunitas satu-satu menyampaikan rencananya seperti
Karinding dari Cicalengka, Celempungan dari Kampung Adat Nagara Banceuy
Gunung Sunda Subang juga Helarfest.
"Kekuatan kultur lokal
menjadi pemicu perubahan global. Kami dari Helarfest yang di dalamnya
ada 31 kegiatan, memohon restu dan doa dari para kesepuhan agar
kegiatan Helarfest lancar," ujar Ketua Helarfest Gustaff H Iskandar.
Di
akhir forum, ditampilkan Pencak Silat dari Paguron Kuta Galuh.
Anak-anak dari usia empat tahun hingga kakek-kakek berkesempatan
ngibing (tampil).
Jika performance dewasa cukup membuat kagum,
lebih lagi saat anak-anak yang bahkan masih belum sekolah ikut tampil.
Tidak ayal hiburan ini mengundang simpati penonton untuk memberikan
sawer. Nilai sawerannya pun lumayan besar, dari mulai pecahan Rp 5.000
hingga Rp 100.000.
Usai pementasan, acara pun diakhiri dengan
salam-salaman dilanjutkan Turun Sajen. Di sesi ini semua yang hadir
diperkenankan menikmati hidangan yang didominasi makanan khas Sunda
seperti Tumpeng Tutug Oncom, Awug Congcot, Putu dan buah-buahan lokal
(detik.com)