rupina... loba bisan benteng di kota sumedang... hebad pisan walanda teh...
hanjakal nu disesakeun jeung di gedekeun ku bangsa nu ngaragragkeun
kahebatan walanda ngan ukur korupsina... sakali deui... hanjakal....
pahlawan ti sumedang jeung indonesia ngan ukur ngorbankeun nyawa .. teu bisa
walayakaya..... punteun teu disundakeun


Minggu , 03 Agustus 2008 ,
  Di Sumedang Benteng Air Pun Ada
 Deddi Rustandi
SELAIN dikelilingi oleh perbukitan, Sumedang Kota juga dikeliling banyak
sekali benteng. Benteng-benteng peninggalan pemerintah kolonial Belanda itu
tersebar di beberapa titik. Sayang tak banyak yang tahu.

KEBANYAKAN orang hanya tahu, benteng peninggalan Belanda di sekeliling
Sumedang hanya berada di Gunung Palasari dan Kunci. Padahal, ada enam titik
benteng yang dibangun Belanda di Sumedang, termasuk benteng air di Sungai
Cipeles yang membelah Sumedang.

Semua benteng dan instalasi militer itu menempati lokasi sangat strategis.
Letaknya berada di puncak bukit, sehingga jika kita berdiri di sana,
Sumedang Kota yang berada di dataran yang lebih rendah bisa dilihat dengan
jelas.

Bahkan dari benteng yang ada di Pasir Bilik, Gunung Datar, perbatasan
Sumedang Utara dan Tanjungkerta, orang bisa melihat Laut Jawa dengan cukup
jelas. Warga setempat menyebut benteng ini dengan nama Gedong Peteng.

Benteng-benteng itu dibangun pada periode tahun 1914- 1918. Benteng di
Gunung Gadung, Pamarisen dan Benteng Darmaga di Darangdan, semuanya dibangun
pada tahun 1915. Benteng-benteng tersebut memiliki fungsi yang berbeda.

Benteng di Pamarisen yang terdiri dari dua bangunan diperkirakan untuk
menyimpan amunisi. Konstruksinya terbuat dari beton bertulang. Bangunan
pertama berukuran 3 x 2,5 meter dan bagunan lainnya berukuran 4 x 2,5 meter.
Tempat benteng ini dikenal dengan sebutan Pamarisen Benteng. Sayang,
sebagian benteng itu kini sudah dirobohkan, berganti menjadi bangunan SD dan
lapangan sepakbola.

Benteng lainnya, dibangun di Gunung Gadung. Benteng ini terdiri dari tiga
bangunan dengan konstruksi beton bertulang yang sangat kokoh. Selain untuk
tempat penyimpanan sejata, benteng tersebut dilengkapi dengan bungker
berjendela yang berfungsi sebagai tempat pengintaian segala aktivitas di
kota Sumedang dari arah selatan.

Salah satu ruang di dalam benteng itu berukuran kurang lebih 18 meter
persegi, dilengkapi ventilasi berupa cerobong udara. Ruang tersebut
diperkirakan tempat tentara Hindia Belanda. Benteng lainnya dinamai Benteng
Darmaga di Darangdan, Kelurahan Kota Kulon. Benteng ini merupakan pintu air
yang membendung sungai Cipeles. Benteng kokoh ini terdiri dari enam pintu
air yang kokoh dan lebih tinggi dari daratan.

"Benteng itu merupakan pertahanan Belanda dengan menggunakan air. Jika pintu
air ditutup maka air Sungai Cipeles meluber dan menggenangi daratan sehingga
bisa menghambat laju gerakan musuh," kata R Moh Achmad Wiriaatmadja,
pemerhati sejarah Sumedang yang juga pengurus Yayasan Pangeran Sumedang.

Benteng berikutnya berada di Gunung Palasari. Dibangun di atas lahan seluas
enam hektare pada ketinggian sekitar 645 meter di atas permukaan laut.  Ada
delapan bangunan beton yang letaknya berdekatan.

Bangunan tersebut memiliki 27 ruangan berpintu yang dilengkapi dengan 25
buah jendela dan 46 lubang yang berfungsi sebagai ventilasi. Karena letaknya
hanya sekitar satu kilometer dari tangsi, benteng tersebut diperkirakan
sebagai tempat pertahanan dan sekaligus sebagai gudang mesiu. Tangsi itu
berada di depan Markas Kodim 0610 Sumedang. (deddi rustandi)

Kuncinya di Gunung KunciDI antara semua benteng yang dibangun di Sumedang,
benteng di Gunung Kunci-lah yang diperkirakan menjadi "kunci" dari
pertahanan Hindia Belanda di wilayah tersebut. Luas bangunan benteng di
gunung ini sekitar 2.600 meter persegi, namun dilengkapi dengan ruang bawah
tanah seluas kurang lebih 450 meter persegi yang berfungsi sebagai bungker.

Di sekelilingnya terdapat tempat pertahanan, sedangkan di bagian puncaknya
tersembul tembok benteng yang menyerupai motor tempel dengan panjang 70
meter dan lebar 30 meter. Di bagian tengah benteng itu tersembunyi bangunan
berupa kamar-kamar yang rata-rata menampung lima sampai tujuh tempat tidur.
Untuk mengelabui musuh, bagian atasnya ditimbun tanah sehingga menyerupai
puncak bukit.

Di bawah puncak bukit itu terdapat bangunan bertingkat dua. Ruang atas
diperkirakan untuk perwira, sedangkan ruang bawah untuk bintara atau
prajurit. Karena masing-masing kamar dibatasi tembok setebal 1,2 meter, maka
komunikasi masing-masing kamar dilakukan melalui lubang khusus pada dinding
tembok.

Dari bangunan bertingkat itu terdapat lorong gua sepanjang kurang lebih 200
meter yang menghubungkan kamar-kamar di bawah tanah dan antar pintu yang
menuju pintu masuk ke bagian dalam benteng. Di dalamnya terdapat 17 buah goa
buatan.

Bentuk kamar-kamar di benteng tersebut umumnya persegi panjang dengan
langit-langit melengkung. Di dalamnya terdapat pula ruang bulat yang
tersembunyi yang bentuknya menyerupai menara dengan garis tengah sekitar
tiga meter. (deddi rustandi)

-- 
Aldo Desatura (R) & (c)

========
" Lebih mudah memaafkan orang yang salah daripada yang benar .... "

Kirim email ke