tah iyeu aya deui hiji contoh.... da mun ka cirebon ayeuna mah teu pati rame
siga masa kapungkur.... can aya jalan tol dimana2 rame pisan cirebon teh...
tingali ayeuna tabu 9 tos rada sepi jalan na



Cirebon (Bakal) Dilupakan
 Rabu, 20 Agustus 2008 | 11:11 WIB

Pelabuhan Cirebon mulai berkurang aktivitasnya ketika sore menjelang. Hanya
beberapa buruh angkut batu bara yang masih bekerja, sebagian duduk menunggu
giliran. Buruh angkut berlega hati. Masuknya satu tongkang batu bara untuk
dibongkar berarti pemasukan untuk mereka pada hari itu.

Dulgani (47), salah satu sopir angkut batu bara, mengakui, pendapatan mereka
bulan ini lumayan tinggi. Karena bongkar muat batu bara bisa dilakukan
setiap hari, ia bisa memperoleh Rp 100.000 per hari.

Namun, dua bulan mendatang, pendapatan buruh mungkin menjadi tak pasti lagi.
Jika ombak laut tinggi, tidak ada kapal merapat. Kegiatan bongkar muat pun
tak ada. Sulit berharap banyak karena kini Pelabuhan Cirebon hanya untuk
bongkar muat batu bara.

Pelabuhan yang kini sepi, dulunya merupakan pelabuhan besar yang dibangun
pada abad ke-15. Pada "Babad Cirebon" disebutkan bahwa Cirebon merupakan
salah satu pelabuhan ramai di Jawa. Pedagang datang dari berbagai negara,
mulai dari Arab, Hindia, dan China.

Di sinilah Sunan Gunung Jati awalnya menapakkan kaki di tanah Jawa, kemudian
menyebarkan Islam di Jawa Barat serta membangun Kerajaan Cirebon. Pada masa
kolonial, ketika Priangan dan Cirebon menjadi pusat perkebunan teh, kopi,
dan tebu; pelabuhan kian ramai.

Dalam buku Sejarah Perkebunan Indonesia; Kajian Sosial Ekonomi karya Sartono
Kartodirjo, pada tahun 1725 produksi kopi jawa mengungguli Yaman. Sekitar
tahun 1865, Pemerintah Belanda membangun pelabuhan baru untuk mendukung lalu
lintas perdagangan. Pada tahun 1890, pelabuhan ini dilengkapi dengan gudang
penyimpanan berbagai hasil bumi yang hendak dikirim ke Eropa.

Sejarawan Cirebon TD Sudjana mengatakan, komoditas perkebunan dulu dikirim
dari pusat perkebunan menggunakan kereta yang bermuara di pelabuhan.
"Pelabuhan inilah yang menggerakkan urat nadi ekonomi Kota Cirebon dan
sekitarnya," ujar Sudjana.

Hingga era kemerdekaan, Cirebon tumbuh sebagai kota usaha dan dagang.
Pertambakan udang juga menjadi komoditas utama di kota dan kabupaten
Cirebon. Komoditas itu menggiurkan karena harga udang saat itu dinilai
dengan dollar. Namun, imbas negatifnya adalah hutan bakau yang dibabat
menjadi pertambakan udang.

Pada tahun 1973, industri rotan Cirebon mulai bangkit karena bisa menembus
pasar ekspor. Tahun 1986 ketika keran ekspor rotan mentah ditutup
pemerintah, industri ini berkembang pesat. Dari sekadar kelas lokal,
industri rotan Cirebon mampu menguasai pasar dunia. Meski industri rotan
bertumpu di kabupaten, dampaknya bisa dirasakan di Kota Cirebon.

Cirebon boleh jadi bukan kota wisata, tetapi hotel kelas kecil hingga
berbintang banyak berdiri di sana. Bisnis dan usaha menjadi lebih hidup dan
berkembang di kota kerajaan ini.

Akan tetapi, zaman keemasan itu telah berakhir. Udang yang menjadi ikon
Cirebon hilang. Kegagalan panen terus terjadi karena kondisi ekologi yang
memburuk. Rotan yang sempat menguasai ekspor pasar dunia terpuruk karena
industrinya tak bisa mendapatkan bahan baku akibat dibukanya lagi keran
ekspor rotan mentah.

Pengangguran menjadi persoalan baru karena 50.000 tenaga kerja yang bisa
diserap industri rotan harus menganggur. Geliatekonomi bisnis kota pun
terganggu. Pendangkalan mempercepat kemunduran Pelabuhan Cirebon. Hanya
kapal-kapal batu bara yang masih setia bersandar. Kapal pengangkut kayu
tinggal 2 atau 4 kali dalam sebulan.

Wali Kota Cirebon Subardi dalam berbagai kesempatan mengakui bahwa Kota
Cirebon bukan lagi kota udang dalam arti sebenarnya. Cirebon menjadi kota
usaha dan dagang. Pembangunan kota pun bertumpu pada berkembangnya pasar
jasa. Ruko-ruko tumbuh di berbagai jalan utama, juga mal besar.

Prof Dr Abdullah Ali, sosiolog dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
(STAIN) Cirebon, pun mengakui, memang hanya itu yang bisa dijual Cirebon
masa kini. Namun, berdirinya pusat perbelanjaan baru telah mematikan pusat
perbelanjaan lama. Perkembangan ekonomi Cirebon pun seolah jalan di tempat
dan rentan masalah.

Satu-satunya hal yang masih menjadikan Cirebon ramai adalah posisinya
sebagai lokasi persinggahan.  Namun, ketika nanti jalan tol trans Jawa
selesai dibangun, dipertanyakan posisi Cirebon sebagai persinggahan itu.
Sekitar 200 tahun silam, saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem
Daendels membangun jalan raya Anyer-Panarukan, Cirebon menjadi salah satu
kota yang hidup. Cirebon berkembang menjadi pusat perdagangan komoditas dari
Priangan.

Kini setelah zaman perkebunan lewat, rotan tak bisa jadi harapan, udang
mulai hilang, dan pelabuhan sudah jarang didatangi kapal, Cirebon bisa
menjadi kota yang bakal dilupakan. Atau, jangan-jangan memang Cirebon kini
telah terlupakan?

-- 
Aldo Desatura (R) & (c)

========
" Lebih mudah memaafkan orang yang salah daripada yang benar .... "

" Kekuasaan akan berjalan baik bila diberikan kepada orang yang tidak
mencarinya " Prof. Albus Dumbledore

Kirim email ke