Cirebon baheula larang. Kabuyutan Sunda nu nyamuni.
 
Kiwari Cirebon kasilih kujunti. Kaasupan ku sekeler sejen nu hayang misahkeun 
Cirebon ti Sunda.
 
Lamun Cirebon balik deui jadi sepi nyamuni, eta leuwih hade. Sekeseler padatang 
anyar sugan bisa nyingkah deui.
 
 


--- On Thu, 8/21/08, MRachmat Rawyani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: MRachmat Rawyani <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [Urang Sunda] Cirebon (Bakal) Dilupakan..pamingpin bodo
To: [email protected]
Date: Thursday, August 21, 2008, 5:03 AM











Aneh oge nya, kaayaan Cirebon siga kitu make hayang misahkeun maneh jadi 
propinsi sorangan. Banten wae anu jadi propinsi "kadodoran", lamun teu dibantu 
ku PAD Kabupaten Tangerang.
 
Ceuk kuring mah, pamingpin jeung birokrat Cirebon anu bodo. (punten pami aya 
anggota milis KUSnet anu janten birokrat di Cirebon). Teu boga pamikiran anu 
kreatif jeung inovatif.
Padahal potensi alam sabudeureun wewengkon Cirebon luar biasa beungharna. Nya 
kitu oge dina perkara SDM, asana teh loba putra daerah Cirebon anu palalinter 
jeung geus mentas di tingkat nasional. Maenya maranehanana rek cicingeun wae 
lamun dipenta bantuan pikeun ngamajukeun Cirebon.
Hiji ciri pasipatan anu ngancik dina pamingpin anu goreng patut, nyaeta cadu 
menta bantuan ka jalma pinter. Sieun kanyahoan kagorenganana (bodo, atawa 
korup) atawa sieun wibawana bakal ngurangan.
Tah, upama boga pamingpin siga kitu, anu jadi korban rahayat.
 
baktos,
 
mrachmatrawyani
 

--- On Wed, 8/20/08, Aldo Desatura ™ <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Aldo Desatura ™ <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [Urang Sunda] Cirebon (Bakal) Dilupakan
To: "baraya_sunda@ yahoogroups. com" <baraya_sunda@ yahoogroups. com>, 
"urangsunda@ yahoogroups. com" <[EMAIL PROTECTED] ups.com>
Date: Wednesday, August 20, 2008, 2:23 PM





tah iyeu aya deui hiji contoh.... da mun ka cirebon ayeuna mah teu pati rame 
siga masa kapungkur... . can aya jalan tol dimana2 rame pisan cirebon teh.... 
tingali ayeuna tabu 9 tos rada sepi jalan na




Cirebon (Bakal) Dilupakan 
Rabu, 20 Agustus 2008 | 11:11 WIB
Pelabuhan Cirebon mulai berkurang aktivitasnya ketika sore menjelang. Hanya 
beberapa buruh angkut batu bara yang masih bekerja, sebagian duduk menunggu 
giliran. Buruh angkut berlega hati. Masuknya satu tongkang batu bara untuk 
dibongkar berarti pemasukan untuk mereka pada hari itu. 

Dulgani (47), salah satu sopir angkut batu bara, mengakui, pendapatan mereka 
bulan ini lumayan tinggi. Karena bongkar muat batu bara bisa dilakukan setiap 
hari, ia bisa memperoleh Rp 100.000 per hari. 

Namun, dua bulan mendatang, pendapatan buruh mungkin menjadi tak pasti lagi.. 
Jika ombak laut tinggi, tidak ada kapal merapat. Kegiatan bongkar muat pun tak 
ada. Sulit berharap banyak karena kini Pelabuhan Cirebon hanya untuk bongkar 
muat batu bara. 

Pelabuhan yang kini sepi, dulunya merupakan pelabuhan besar yang dibangun pada 
abad ke-15. Pada "Babad Cirebon" disebutkan bahwa Cirebon merupakan salah satu 
pelabuhan ramai di Jawa. Pedagang datang dari berbagai negara, mulai dari Arab, 
Hindia, dan China. 

Di sinilah Sunan Gunung Jati awalnya menapakkan kaki di tanah Jawa, kemudian 
menyebarkan Islam di Jawa Barat serta membangun Kerajaan Cirebon. Pada masa 
kolonial, ketika Priangan dan Cirebon menjadi pusat perkebunan teh, kopi, dan 
tebu; pelabuhan kian ramai. 

Dalam buku Sejarah Perkebunan Indonesia; Kajian Sosial Ekonomi karya Sartono 
Kartodirjo, pada tahun 1725 produksi kopi jawa mengungguli Yaman. Sekitar tahun 
1865, Pemerintah Belanda membangun pelabuhan baru untuk mendukung lalu lintas 
perdagangan. Pada tahun 1890, pelabuhan ini dilengkapi dengan gudang 
penyimpanan berbagai hasil bumi yang hendak dikirim ke Eropa. 

Sejarawan Cirebon TD Sudjana mengatakan, komoditas perkebunan dulu dikirim dari 
pusat perkebunan menggunakan kereta yang bermuara di pelabuhan. "Pelabuhan 
inilah yang menggerakkan urat nadi ekonomi Kota Cirebon dan sekitarnya," ujar 
Sudjana. 

Hingga era kemerdekaan, Cirebon tumbuh sebagai kota usaha dan dagang. 
Pertambakan udang juga menjadi komoditas utama di kota dan kabupaten Cirebon. 
Komoditas itu menggiurkan karena harga udang saat itu dinilai dengan dollar. 
Namun, imbas negatifnya adalah hutan bakau yang dibabat menjadi pertambakan 
udang. 

Pada tahun 1973, industri rotan Cirebon mulai bangkit karena bisa menembus 
pasar ekspor. Tahun 1986 ketika keran ekspor rotan mentah ditutup pemerintah, 
industri ini berkembang pesat. Dari sekadar kelas lokal, industri rotan Cirebon 
mampu menguasai pasar dunia. Meski industri rotan bertumpu di kabupaten, 
dampaknya bisa dirasakan di Kota Cirebon. 

Cirebon boleh jadi bukan kota wisata, tetapi hotel kelas kecil hingga 
berbintang banyak berdiri di sana. Bisnis dan usaha menjadi lebih hidup dan 
berkembang di kota kerajaan ini. 

Akan tetapi, zaman keemasan itu telah berakhir. Udang yang menjadi ikon Cirebon 
hilang. Kegagalan panen terus terjadi karena kondisi ekologi yang memburuk. 
Rotan yang sempat menguasai ekspor pasar dunia terpuruk karena industrinya tak 
bisa mendapatkan bahan baku akibat dibukanya lagi keran ekspor rotan mentah. 

Pengangguran menjadi persoalan baru karena 50.000 tenaga kerja yang bisa 
diserap industri rotan harus menganggur. Geliatekonomi bisnis kota pun 
terganggu. Pendangkalan mempercepat kemunduran Pelabuhan Cirebon. Hanya 
kapal-kapal batu bara yang masih setia bersandar. Kapal pengangkut kayu tinggal 
2 atau 4 kali dalam sebulan. 

Wali Kota Cirebon Subardi dalam berbagai kesempatan mengakui bahwa Kota Cirebon 
bukan lagi kota udang dalam arti sebenarnya. Cirebon menjadi kota usaha dan 
dagang. Pembangunan kota pun bertumpu pada berkembangnya pasar jasa. Ruko-ruko 
tumbuh di berbagai jalan utama, juga mal besar. 

Prof Dr Abdullah Ali, sosiolog dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) 
Cirebon, pun mengakui, memang hanya itu yang bisa dijual Cirebon masa kini. 
Namun, berdirinya pusat perbelanjaan baru telah mematikan pusat perbelanjaan 
lama. Perkembangan ekonomi Cirebon pun seolah jalan di tempat dan rentan 
masalah. 

Satu-satunya hal yang masih menjadikan Cirebon ramai adalah posisinya sebagai 
lokasi persinggahan.  Namun, ketika nanti jalan tol trans Jawa selesai 
dibangun, dipertanyakan posisi Cirebon sebagai persinggahan itu. 
Sekitar 200 tahun silam, saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem 
Daendels membangun jalan raya Anyer-Panarukan, Cirebon menjadi salah satu kota 
yang hidup. Cirebon berkembang menjadi pusat perdagangan komoditas dari 
Priangan. 

Kini setelah zaman perkebunan lewat, rotan tak bisa jadi harapan, udang mulai 
hilang, dan pelabuhan sudah jarang didatangi kapal, Cirebon bisa menjadi kota 
yang bakal dilupakan. Atau, jangan-jangan memang Cirebon kini telah terlupakan?
-- 
Aldo Desatura ® & ©

========
" Lebih mudah memaafkan orang yang salah daripada yang benar .... "

" Kekuasaan akan berjalan baik bila diberikan kepada orang yang tidak 
mencarinya " Prof. Albus Dumbledore


 














      

Kirim email ke