Ganitri, Pohon Mata Dewa Penyerap Polutan

Di Cipagalo dan Cipadung, Bandung, ada tempat bernama Ciganitri.
Ganitri adalah nama pohon, yang bijinya keras dengan permukaannya
seperti yang termakan cacing, terukir alur-alur dengan aneka bentuk
yang indah. Kini, biji ganitri banyak dimanfaatkan sebagai hiasan
bunga kering, dan bagi pemeluk agama Hindu, biji ganitri digunakan
sebagai sarana peribadatan.

Konon, pada suatu saat, air mata Siwa menitik, lalu tumbuh menjadi
pohon rudraksa dan menyebar di Negeri Bharatawarsa dan sekitarnya,
kemudian menyebar sampai ke bumi nusantara, nama populernya ganitri
atau genitri.

Rudraksa, berasal dari kata rudra (Siwa) dan aksa (mata). Rudraksa itu
buah kesayangan Siwa sehingga dianggap tinggi kesuciannya. Biji mata
Siwa ini oleh penganutnya dipercaya dapat membersihkan dosa dengan
melihatnya, bersentuhan, maupun dengan memakainya sebagai sarana japa.
Oleh karena itu, biji-biji itu diuntai, dipergunakan untuk japa mala.
Japa artinya mengulang-ulang kata suci, sedangkan mala adalah kata
lain untuk tasbih atau rosario, rangkaian biji-bijian, permata,
mutiara, mute, merjan, butiran keramik, atau cendana.

Selain pengaruh religius, bagi pemakainya, rudraksa dipercaya dapat
memberikan efek biomedis dan bioelektromagnetis sehingga memberikan
efek kesehatan, kesegaran, dan kebugaran.

Di Indonesia, pohon rudraksa disebut ganitri (Elaeocarpus ganitrus).
Ada tiga jenis ganitri dan empat jenis agak berlainan yang dinamai
katulampa (Elaeocarpus glabra BL.). Tinggi pohon ganitri mencapai 30
meter dengan besar batang 30-40 cm. Buahnya bulat, tergantung di ujung
tangkai ranting, dengan warna biru agak ungu yang cerah dan sangat
indah. Burung besar menyukai buah ini sehingga bijinya yang keluar
dari kotoran burung itu warnanya cokelat yang indah.

Dalam catatan Heyne (1927), daging buahnya yang tipis itu rasanya
seperti minuman anggur, oleh anak-anak gembala dimakan menjadi
penyegar di saat terik matahari. Namun belum ada yang penasaran
menyelidikinya untuk dibuat sirup atau selai, misalnya, sehingga
pemanfaatannya bukan saja bijinya namun juga daging buahnya.

**

Ganitri dipercaya dapat menyerap polutan sehingga di beberapa jalan di
Bandung ditanam ganitri sebagai pohon pelindung jalan. Pohon ini
paling banyak ditanam di Jawa Tengah, Sumatra, Kalimantan, Bali, dan
Timor, dengan tujuan utama diambil bijinya.

Indonesia adalah pemasok 70% kebutuhan biji ganitri dunia. Nilai
transaksinya mencapai ratusan miliar rupiah. Menurut beberapa sumber,
pengekspor membutuhkan 350 ton biji kering ganitri sekali kirim.
Kelangkaan dan tingginya kebutuhan akan biji ganitri dunia dan
banyaknya lahan kritis di lereng terjal, adalah paduan yang mungkin.

Biji ganitri yang keras dan awet itu turut menentukan harga jualnya.
Ukurannya dikelompokkan menjadi 10 nomor. Nomor 1 ukuran diameternya 5
mm adalah yang terkecil, namun harganya termahal. Harga per butirnya
turun sebanding dengan setiap kenaikan 0,5 mm. Nomor 1-9 dihargai per
butir, sedangkan nomor 10 dihargai per kg.

Dalam penyebutan ukuran biji ganitri di Jawa pada zaman kolonial
Belanda menggunakan nama anggota badan, seperti: 1. endas (kepala), 2.
gulu (leher), 3. asta (lengan), 4. dada (dada), 5. weteng (perut), 6.
bokong (pantat), 7. pupu (paha), 8. dengkul (lutut), 9. kental
(betis), dan 10. kikil (kaki). Ukuran sesuai posisi anggota badan itu
menunjukkan ukuran butiran sekaligus harganya. Semakin atas ukurannya
semakin kecil, tentu harganya semakin mahal.

Oleh karena buah ganitri yang kecil mempunyai harga tinggi, para
pemiliknya, seperti ditulis Heyne (1927), meniru bagaimana orang Cina
yang menyewa pohon ganitri dari masyarakat, mempertahankan agar
buahnya itu tidak terus membesar. Segera setelah buahnya jadi, kulit
ranting-rantingnya dikerat dengan pisau tajam, tapi tidak sampai putus
sehingga dapat mengurangi pengaliran zat makanan. Kerugiannya, pada
saat panen, ranting-ranting itu dipatahkan, dan memerlukan waktu untuk
pulih kembali.

Selain ukurannya, semakin bulat biji dan banyak mukhis-nya, jumlah
lekukan, harganya semakin tinggi. Biji ganitri memiliki mukhis yang
berbeda, bervariasi dari 1 hingga 21 mukhis yang masing-masing
memiliki arti. Warna yang disukai adalah warna cokelat kemerahan yang
cerah dengan alur-alur kekuningan. Warna cokelat tua, apalagi
bentuknya tidak bulat benar, tidak disukai. Untuk mendapatkan warna
yang bagus, biji ganitri terlebih dahulu direndam dalam air laut.

Bila lereng-lereng terjal ada yang dihijaukan dengan pohon ganitri,
fungsi lingkungan terjaga baik karena tidak ditebang pohonnya. Fungsi
ekonomi masyarakat pun terpenuhi karena dapat menikmati hasil yang
luar biasa besarnya dengan memanen bijinya pada bulan
September-Februari, bukan menebang pohonnya seperti bila dihijaukan
dengan pohon pinus.

Tentu saja, hutan produksi yang multifungsi itu bukan hanya ditanam
ganitri, namun bisa juga dengan pohon kosambi atau pohon yang pucuk
dan bunganya menghasilkan atsiri. Di sempadan sungai pun sebenarnya
dapat ditanam pohon mata dewa ini.

Di Bandung saat ini, pohon ganitri lebih dikenal sebagai pohon
pelindung. Pada tahun 1909 diketahui bahwa di Cicalengka, Tasikmalaya,
dan Banjar, pohon ganitri dibudidayakan dalam talun ganitri. Namun
sayang kini sudah tak dikenal lagi adanya talun ganitri, padahal
kebutuhan biji ganitri dunia terus meningkat. Bila tidak diekspor
dalam bentuk biji kering, ganitri diolah menjadi kerajinan bunga
kering dan untaian mala untuk peribadatan.

Warga Cilacap dan warga Desa Gadungrejo, Kebumen, Jateng ada yang
membuat talun ganitri. Di sana ada warga yang hanya memiliki lahan
seluas 200 m2, lalu ditanami 8 pohon ganitri. Panen perdana dari tiga
pohon yang baru belajar berbuah menghasilkan 17.000-an biji senilai Rp
2,1 juta.***

T. Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset
Cekungan Bandung.

Citation: 
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=29619

Kirim email ke