Ganja yang diharamkan, harganya malah mahal. 
Sent from my BlackBerry� wireless device from XL GPRS network

-----Original Message-----
From: "H Surtiwa" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Thu, 4 Sep 2008 08:06:19 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Urang Sunda] Fw: RE: MUI Siapkan =>Kang Die Cikiray


Kengen cutatan tina site GP-Ansor NU;
"Pamekasan (GP-Ansor): Wacana fatwa haram merokok oleh Majelis Ulama
Indonesia (MUI) membuat resah kalangan petani tembakau di Pamekasan, Madura,
Jawa Timur. "Jika MUI nantinya benar-benar mengeluarkan fatwanya bahwa
merokok itu haram, dampaknya jelas akan sangat dirasakan para petani
tembakau. Masalahnya, dengan fatwa tersebut bisa mengurangi dan bahkan akan
membuat harga tembakau turun drastis," kata Mustain, petani tembakau di Desa
Gagah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, kemarin.

Pihak gudang, lanjut Mustain, akan membeli tembakau petani dengan harga
relatif murah, dengan alasan harga jual rokok di pasaran kurang laku. "Saya
berharap, MUI bisa memikirkan rakyat kecil. Kenapa baru sekarang ada rencana
mengeluarkan fatwa bahwa rokok itu haram. Dari dulu MUI ke mana. Padahal,
saat ini petani tembakau sudah menjamur, termasuk di Pamekasan," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Suryadi, produsen rokok lokal Pamekasan.
Menurut dia, jika MUI nantinya mengeluarkan fatwa haram rokok, ratusan
perusahaan rokok lokal di Pamekasan akan terancam gulung tikar dan ribuan
pekerjanya terancam di-PHK. "Di Pamekasan ini perusahaan rokok lokal yang
tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Rokok Lintingan (Aprolip) berjumlah 240
dengan jumlah tenaga kerja sekitar 6.000 orang. Kalau mereka terpaksa tutup
hanya karena fatwa haram, lalu siapa yang akan menampung ribuan orang yang
kehilangan pekerjaannya ini," kata Suryadi mempertanyakan.

Kalangan Pesantren Menolak

Sebelumnya, kalangan pondok pesantren besar di Jawa Timur menolak rencana
Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang akan mengeluarkan fatwa mengenai larangan
merokok. "Saya yakin akan lebih banyak menimbulkan mudarat (dampak
negatif,red.) daripada manfaatnya kalau masalah merokok itu disikapi MUI
dengan mengeluarkan fatwa," kata Pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Salahuddin
Wahid (Gus Sholah) saat dihubungi dari Surabaya, Kamis (14/8).

Dampak negatif tersebut, lanjut mantan anggota Komnas HAM itu, di antaranya
adalah terganggunya kebutuhan ekonomi masyarakat. "Bisa dibayangkan, berapa
ratus ribu orang akan kehilangan pekerjaan. Belum lagi pada lapisan
masyarakat lainnya, seperti pedagang rokok dan petani tembakau yang akan
kena dampaknya," kata adik kandung mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Karena itu, dia menyarankan MUI agar dalam menyikapi masalah rokok yang
sudah meracuni anak-anak dan remaja itu melalui pesan yang bijak. "Akan
sangat bagus, kalau disampaikan dalam bentuk imbauan melalui media massa.
MUI bisa bekerja sama dengan praktisi periklanan, bagaimana pesan tersebut
bisa efektif diterima masyarakat," kata Gus Sholah yang mengaku bukan
perokok itu.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh pengasuh Ponpes Al Falah, Ploso,
Kabupaten Kediri, KH Zainuddin Djazuli (Gus Din). "Saya yakin tidak akan
efektif. Buktinya sampai sekarang orang merokok masih banyak, padahal di
mana-mana ada peringatan larangan merokok," katanya.

Justru dia mengingatkan MUI agar melihat sisi positifnya rokok dalam
memberikan kontribusi pendapatan negara. "Rokok sudah menyumbang cukai Rp 9
miliar per hari kepada negara, ini kan sisi positifnya rokok," kata Gus Din
yang dikenal sebagai perokok berat itu.

Pengasuh Ponpes Lirboyo, K.H. Idris Marzuqi (Mbah Idris) sebelumnya meminta
MUI tidak tergesa-gesa dulu menanggapi usulan Komnas Perlindungan Anak
dengan mengeluarkan fatwa antirokok. "Agama (Islam) tidak mengharamkan
rokok. Oleh karena itu, tidak perlu MUI melarangnya dengan dalam bentuk
fatwa," kata ulama sepuh NU yang juga perokok itu.

Meski tak setuju dengan rencana MUI, selama ini Ponpes Lirboyo dan Ponpes
Tebuireng yang memiliki santri di atas 5.000 orang itu melarang santrinya
merokok .

Berbeda dengan Ponpes Al Falah, yang selama ini dikenal sebagai salah satu
pesantren yang membebaskan ribuan santri putranya merokok tanpa membedakan
usia. "Mana mungkin kami melarang, lha wong kiainya saja pemabuk rokok.
Biarkan saja mereka merokok asal jangan keterlaluan karena bisa menimbulkan
pemborosan," kata Kiai Din. Kendati masih sebatas wacana, kalangan
perusahaan rokok, terutama berskala kecil, merasa resah dengan larang
merokok.

"Kami berharap MUI nantinya berbicara dulu dengan kalangan perusahaan
rokok," kata Ketua Pelaksana Harian Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero),
Kasiati.

Ia menyebutkan, perusahaan rokok yang termasuk dalam kategori usaha mikro,
kecil, dan menengah (UMKM) sudah terpukul dengan kebijakan baru mengenai
tarif cukai yang berlaku awal tahun ini. (nuo). "



On 9/4/08, joko tingkir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>     Leres saurna awet ngora da teu tepi ka kolot.
>
> --- On *Wed, 9/3/08, hahn is hanhan <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
> From: hahn is hanhan <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: [Urang Sunda] Fw: RE: MUI Siapkan =>Kang Die Cikiray
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, September 3, 2008, 10:05 PM
>
>  Teu kudu di jentrekeun naon kauntungan tina ngarokok
>>
> naha kang? sugan weh simkuring jadi hoyong ngaroko hehe..
>
> OOT: peroko mah cenah biasana awet ngora :D. Leres teu eta teh?
>
> --
> logic-simple-more fun
> level on linux: pra-newbie
> http://matcherapy.blogspot.com -- seil.wordpress.com --------
> http://isola-pos.upi.edu ----------
>
>
>
> 
>

Kirim email ke