Sanajan 17 Agustus geus kaliwat, ieu aya artikel ti Majalah Tempo soal
pejuang AR Baswedan, urang Indonesia katurunan Arab, nu berjuang keur
Indonesia nu prural bin bhineka ....
Seorang Nasionalis Berdarah Arab
Abdurrahman Baswedan gigih menumbuhkan nasionalisme keturunan Arab di
Indonesia. Piawai sebagai diplomat, pergaulan dia amat luas, melintasi
berbagai kalangan. Lahir pada 9 September 1908, riwayat pejuang kemerdekaan
itu kini genap satu abad.
***
Yogyakarta, akhir 1970-an. A.R. Baswedan, yang sudah menapak usia senja,
terkena stroke di rumahnya di kawasan Taman Yuwono. Kondisi pejuang
kemerdekaan itu agak mengkhawatirkan. Di Gereja Katolik Kota Baru--salah
satu gereja tertua dan terbesar di kota pelajar itu--Romo Dick Hartoko SJ
sedang bersiap memimpin misa bagi umatnya.
Mendengar kabar geringnya A.R. Baswedan, Romo Dick spontan meminta jemaat
gereja ikut mendoakan kesembuhan tokoh Islam itu. "Peristiwa itu membuat
Yogyakarta gempar," ujar Samhari Baswedan, anak bungsu A.R. Baswedan. Ketika
itu, ayah Samhari adalah Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Yogyakarta.
Adapun Romo Dick Hartoko merupakan tokoh Katolik terkemuka di kota itu.
"Warna" mereka berlainan. Namun keduanya berkawan akrab.
"Hubungan pribadi mereka baik sekali," Samhari menambahkan. Keduanya kerap
saling kunjung. Dalam berdiskusi, mereka tak selalu sepaham tapi tetap
saling menghormati pendapat masing-masing.
Selain dengan Romo Dick Hartoko, A.R. Baswedan berkarib dengan Yap Kie Tong,
dokter mata terkenal di Yogyakarta pada masa itu. Dia pun akrab dengan Dr
Johan Syahruzad, yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal Partai Sosialis
Indonesia.
Lahir di Kampung Ampel, Surabaya, riwayat pejuang kemerdekaan itu kini genap
berusia 100 tahun. Bernama lengkap Abdurrahman Baswedan, dia dikenal mudah
bergaul dengan berbagai kalangan. Saat usianya masih 20-an tahun, dia sudah
gigih mendorong tumbuhnya semangat persatuan komunitas Hadramaut (Yaman) di
Nusantara. Ketika itu, mereka terpecah di antara keturunan Sayyid, Gabili,
Syekh, dan rakyat biasa.
Baswedan muda kemudian mengarahkan persatuan keturunan Arab untuk mendukung
kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Dia mendirikan wadah
Persatuan Arab Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Partai Arab
Indonesia. Dan dia bergaul akrab dengan tokoh-tokoh nasional, antara lain Dr
Sutomo.
Secara tegas Baswedan menyatakan tanah air keturunan Arab bukanlah
Hadramaut, melainkan Indonesia. Dia juga menyebut keturunan Arab sebagai
bagian dari bangsa Indonesia. Sikap itu sesungguhnya "menurunkan derajat"
komunitas tersebut--yang oleh Belanda dimasukkan ke kelompok Timur Asing.
Dalam mars Partai Arab Indonesia yang dikarangnya bersama Umar Baraja,
tergambarlah nasionalisme para pemuda keturunan Hadramaut. Ini salah satu
baitnya:
Indonesia! Semboyan Persatuanku
Indonesia! Tanah Tumpah Darahku
Persatuan! Arab Indonesia
Makin lama makin bercahaya
Kita tetap setia
Untuk menunjukkan keindonesiaannya, dalam beberapa pertemuan, A.R. Baswedan
tak sungkan mengenakan surjan Jawa--tindakan itu mulanya dianggap tak lazim,
tapi lama-kelamaan bisa diterima oleh komunitas Arab Indonesia. Dia juga
pernah terjun menjadi wartawan, bergabung dengan harian Sin Tit Po, yang
propergerakan nasional. Di sana, dia berkawan akrab dan banyak belajar
tentang jurnalisme dari Liem Koen Hian, pemimpin harian tersebut.
Di masa pendudukan Jepang, A.R. Baswedan memutuskan bergerak di bawah tanah.
Dia menggabungkan diri dengan kelompok pemuda di sekitar Sutan Sjahrir.
Pekerjaan mereka memantau radio siaran luar negeri--tugas yang berisiko
tinggi karena semua radio disegel tentara Jepang.
Suatu ketika, dia tepergok Kempetai--polisi rahasia Jepang--sedang menyimak
radio luar negeri. Mereka menggelandangnya ke markas. Dia divonis mati.
Eksekusi akan dilakukan esok siangnya. Pagi harinya, dia dijemur di
pekarangan bersama sejumlah tawanan lain.
Di saat genting itu datang Mr Singgih dari Jakarta. Dia anggota Pusat Tenaga
Rakyat yang dipimpin Soekarno. Melihat Baswedan, Mr Singgih segera
menghampiri dan meminta polisi Jepang membebaskannya. "Mr Singgih berdalih
Bapak adalah anak buahnya," tutur Samhari. Nyawa A.R. Baswedan bisa
diselamatkan.
Setelah proklamasi dikumandangkan, Partai Arab Indonesia membubarkan diri.
Anggota-anggotanya menyebar ke berbagai partai. Hamid Algadri, misalnya,
masuk Partai Sosialis Indonesia. Abdulah Baraba memilih Partai Komunis
Indonesia. Yuslam Badres bergabung ke Partai Nasional Indonesia. Abdurrahman
Shihab--ayah Quraish Shihab dan Alwi Shihab--menggabungkan diri ke Masyumi.
A.R. Baswedan ketika itu masih memilih jalan independen. Dia diangkat
Perdana Menteri Sjahrir sebagai Menteri Muda Penerangan. Pada 1947, dia ikut
rombongan Menteri Luar Negeri Agus Salim berkunjung ke Kairo, Mesir. Mereka
berdiplomasi agar dunia internasional mengakui kemerdekaan Indonesia.
Tiga tahun kemudian, tokoh yang fasih berbahasa Inggris, Belanda, dan Arab
itu bergabung dengan Masyumi. Selain kagum atas kejujuran Mohamad
Natsir--pemimpin Masyumi--dia menegaskan tindakannya didorong oleh keinginan
memperkuat orientasi nasionalistis partai itu.
Tatkala Masyumi dibubarkan pemerintah Orde Lama dan tak boleh direhabilitasi
oleh pemerintah Orde Baru, Baswedan memilih bergerak di jalur budaya. Dia
mendirikan Badan Koordinasi Kebudayaan Islam Yogyakarta dan menjadi
pelindung Teater Muslim. Mereka mementaskan drama Iblis tentang kisah Nabi
Ibrahim, yang waktu itu tergolong kontroversial.
Seniman Yogyakarta seperti Arifin C. Noer, Abdurrahman Saleh, Taufiq
Effendi, dan Chaerul Umam adalah kawan-kawannya. Dia ikut membantu ketika
Rendra mementaskan Kasidah Barzanji. "Rumahnya terbuka untuk semua orang.
Dia seperti orang tua kami," kata Syu'bah Asa, yang ketika itu aktif
berteater di Yogyakarta.
Di pengujung hidupnya, A.R. Baswedan bersahabat dengan Romo Mangunwijaya.
Dengan gayeng keduanya kerap mendiskusikan masalah Irak-Iran,
Palestina-Israel, dan korupsi di dalam negeri. Pada 1986, A.R. Baswedan
menutup mata di Jakarta. Tiga hari setelah kematiannya, Romo Mangun
bertakziyah. "Beliau rawuh dari Yogyakarta dan ikut memberikan tausiyah,"
ujar Samhari.
Nugroho Dewanto
(Majalah Tempo, Senin 8 September 2008)