Ahmad Mansur Suryanegara, "Masjid Adalah Sumber Api Islam"

mat Islam di Indonesia berani mengeluarkan biaya besar untuk berbagai
kegiatan ritual, tetapi kurang perhatian pada keperluan dana
penelitian dan penulisan kembali sejarah perjuangan umat Islam
Indonesia. Kelemahan ini melahirkan sejarah yang ditulis oleh "orang
lain" yang hanya mendasarkan observasinya pada "jendela" kehidupan
umat Islam tanpa pernah masuk dan melihat ke dalam "rumah" umat Islam.

Pernyataan kerpihatinan itu konsisten dipegang oleh Ahmad Mansur
Suryanegara, sejarawan yang lebih sering berada di luar "arus utama"
penulisan sejarah Indonesia. Sebagai orang yang terlibat langsung
dalam berbagai pergerakan Islam, Mansur tak mau sekadar protes. Dengan
biaya pribadi, bertahun-tahun ia melakukan riset, mengumpulkan bahan
untuk sebuah buku "babon" yang akan banyak mengungkap sejarah
pergerakan umat Islam Indonesia. Judulnya, Api Sejarah, Mahakarya
Ulama dan Santri dalam Menegakkan NKRI.

Sebuah buku sejarah memang tak bisa ditulis instan, serampangan, dan
asal comot data. Penulisan sejarah menuntut komitmen keilmuan yang
tinggi, integritas yang penuh, dan dibalut moralitas yang bisa
dipertanggungjawabkan. "Saya masih mencari penerbit yang cocok dan
"berani" untuk menerbitkan buku ini," ujar Mansur. Ia memang harus
pilih-pilih penerbit karena di dalam buku itu terdapat fakta-fakta
baru yang boleh jadi kontroversial, yang belum banyak diketahui
publik. Berikut petikan perbincangan "PR" dengan kakek berambut
keperakan berusia 76 tahun tetapi masih tampak energik itu.

Bagaimana Islam masuk ke Indonesia?

Islam masuk ke Indonesia melalui jalur niaga, dibawa oleh para
usahawan. Dari alur itu, komunitas pertama yang terbentuk adalah
pasar, di tepi pantai atau sungai. Pasar ini menjadi arena pertukaran
urf (adat), melahirkan bahasa pasar yang dipahami bersama, dan menjadi
persemaian akidah Islam. Dari pasar lalu berkembang pada kebutuhan
untuk berjemaah, maka muncullah masjid. Di sekitar masjid lalu
terbentuk madrasah dan pesantren. Masjid pun menjadi pusat kegiatan
umat, mulai dari beribadah, belajar, dan berekonomi. Dari masjid
itulah api Islam menyala dan terus dikobarkan. Masjid menjadi sumber
api Islam. Kelak setelah kekuatan umat kuat, lahirlah kekuatan politik
dan berdirilah pendopo kabupaten atau keraton. Jadi, tiga kekuatan
pasar-masjid-pendopo itu menunjukkan proses islamisasi.

Mengapa fungsi masjid itu kemudian menurun?

Karena umat Islam terdesak dari pusat-pusat perniagaan. Oleh VOC
mereka didesak dari tepi pantai dan sungai, masuk jauh ke pedalaman.
Maka, pesantren-pesantren kemudian berada di pedalaman. Lalu oleh
pemerintah Hindia Belanda, setelah berada di pedalaman, mereka dipaksa
melakukan kerja paksa, kuli kontrak, dan bentuk intimidasi lain. Kelak
menjelang awal kemerdekaan, hampir semua tokoh nasional adalah produk
pendidikan Belanda. Beruntung kita memiliki sejumlah tokoh nasional
dari kalangan ulama yang mampu berdaya tawar dengan para tokoh itu,
seperti Wachid Hasjim, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Kasman Singodimedjo,
dan Mr. T. Mohammad Hasan. Tokoh Islam seperti merekalah yang
memberikan warna keislaman pada pembukaan dan isi konstitusi kita,
mengimbangi universalitas Barat yang ditawarkan tokoh seperti Hatta
dan Soepomo. Lalu seiring dengan menguatnya gerakan komunis, perhatian
kepada masjid kian berkurang. Di sisi lain, pengaruh arsitektur Barat
pada pembangunan masjid masih sangat kuat, misalnya penggunaan kusen
yang berbentuk palang seperti palang salib.

Bagaimana contohnya di Jawa Barat?

Pembangunan Masjid Agung Bandung itu contoh yang menarik. Pemerintah
Hindia Belanda mengizinkan pembangunannya, tetapi berbagai cara
dilakukan agar kekhusyukan beribadah terganggu. Tak jauh dari masjid,
di sebelah timur Alun-alun, dibangun bioskop agar umat lupa berjemaah.
Kalau bulan Puasa di Alun-alun ada pasar malam, jadi umat lupa
bertarawih dan bertadarus. Sampai kini, tak jauh dari masjid dengan
mudah bisa didapatkan VCD/DVD bajakan yang macam-macam isinya itu.
Jadi sampai sekarang, sulit sekali untuk bisa khusyuk di masjid
Bandung itu.

Kapan perhatian terhadap masjid itu menguat lagi?

Setelah peristiwa G 30 S 1965. Atas saran K.H. E.Z. Muttaqin, Pak
Harto membentuk Yayasan Amal Muslim Pancasila (YAMP). Masjid-masjid
YAMP memulai pemakaian kusen tanpa bentuk palang dan mengambil model
arsitektur lokal. Setelah masjid berkembang kembali, mulailah
dipikirkan suatu perbankan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi
umat yang berada di seputar masjid itu. Maka, lahirlah Bank Muamalah.
Dari sini lalu berkembang lagi menjadi bank syariah. Jangan lupa,
kebangkitan ini diawali dari meningkatnya pengelolaan masjid oleh
umat.

Lalu muncullah masjid di berbagai tempat termasuk di pompa bensin?

Ya, itu harus kita syukuri. Kita perlu mengapresiasi H. Ma`soem yang
memelopori musala di SPBU yang dikelolanya. Pada awalnya hal itu
ditentang oleh Pertamina. Sekarang, kalau musala atau masjidnya tidak
bagus, sebuah SPBU akan ditinggal pembeli.

**

Sebagai sejarawan, Mansur mengaku mencintai semua umat Islam dari
berbagai ormas. Dia merasa telah belajar soal bid`ah dari Persis
sehingga bisa berhati-hati dalam menerima semua ajaran. Belajar
berorganisasi dari Muhammadiyah sampai ikut mendirikan Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah. Dan, dari ulama tasawuf berkultur NU ia
mendapat bimbingan bagaimana mendekatkan diri kepada Allah. Menurut
Mansur, kekurangan umat Islam adalah kemauan untuk latihan pribadi
(mujahadah) untuk mendekatkan diri kepada Allah. "Mereka tahu,
mengerti, tapi belum mau mengamalkan," katanya menjelaskan. Sementara
untuk disiplin sejarah, Mansur mengaku belajar banyak dari dosennya R.
Muhammad Ali yang dianggapnya berhasil menanamkan rasa kenasionalan
yang tinggi kepada mahasiswa. Berbeda dengan M. Yamin, Ali punya
perhatian yang baik terhadap sejarah Islam. Kemudian dari R. Said
Raksakusuma, ia belajar banyak soal kebudayaan. "Dua tokoh inilah yang
membentuk saya seperti sekarang sehingga saya cinta Islam dan hal-hal
yang bersifat kebudayaan," ucapnya dengan jujur.

Kalau mengikuti keterangan Anda, umat Islam Indonesia itu maju pesat, ya?

Memang iya. Hanya masalahnya kita berhadapan dengan kampanye keburukan
Asia-Afrika yang sangat gencar dikembangkan Barat. Kalau kita cermati
bukunya Anthony Smith, The Geopolitics of Information, tergambar cukup
jelas. Sekalipun banyak kemajuannya, kita yang Asia ini dianggap
selalu kurang. Sebaliknya sekalipun kejahatan terus berlangsung di
Barat, kita yang di Asia dipaksa memaklumi semuanya dan Barat tetaplah
dianggap ideal.

Apa saja kemajuan bangsa Indonesia ini menurut Anda?

Setiap tahun jutaan kendaraan bermotor dibeli oleh orang Indonesia.
Mobil mewah tak pernah kekurangan pembeli. Setiap produk otomotif baru
mucul, daftar pemesanan selalu panjang. Jemaah haji terbesar itu dari
negara kita. Itu semua kan kemampuan daya beli yang kuat. Akumulasi
keuangan yang sangat besar. Setiap menjelang Lebaran, arus uang
mengalir deras ke berbagai pelosok negeri dibawa jutaan pemudik. Lalu
perbankan syariah menjadi tren, setiap bank konvensional sekarang ikut
memberikan layanan syariah. Mengapa itu tidak dilihat sebagai
kemajuan? Kalau melihat kekurangan, semua negara juga punya
kekurangan. Sejak awal kita tidak pernah bermasalah dengan saudara
kita dari Irian, tetapi di Amerika dan Eropa, rasisme itu masih
dirasakan hingga sekarang. Sekalipun begitu, tetap saja kita yang
dianggap kurang dan melanggar HAM. Akhirnya, kita juga jadi merasa
selalu kurang dalam segala hal.

Apakah kita harus mengubah cara pandang terhadap bangsa sendiri?

Benar. Kita jangan terjebak dalam kampanye keburukan Asia yang
dikembangkan Barat, yang sayangnya, ikut dikampanyekan oleh
intelektual kita juga. Lebih baik kita syukuri perkembangan yang ada
dengan mengembangkan toleransi antarsesama warga bangsa.

Penjelasan Anda sangat optimis dengan masa depan Indonesia, ya?

Saya selalu optimistis. Kita merdeka pada Jumat Legi, 17 Agustus 1945,
bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 H. Kemerdekaan bangsa ini kita raih
berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa. Jangan sampai kita abaikan
kenyataan itu. (Iip D. Yahya) ***

Citation: 
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=35110

Kirim email ke