Kisah Tiga Masjid

Menurut Mansur, ada tiga masjid di Indonesia yang mengiringi langkah
perjuangan bangsa menuju kemerdekaan. Pertama, masjid di lingkungan
Istana Negara yang dinamakan Baiturrahim. Nama ini untuk selalu
mengingatkan pada pengakuan bahwa Indonesia adalah tanah airku, tanah
tumpah darahku, di sanalah aku berdiri menjadi pandu ibuku.

Kedua, masjid yang mengabadikan Yogyakarta sebagai ibu kota perjuangan
yang dinamakan Syuhada. Panitia masjid ini dibentuk pada 14 Oktober
1949 pada saat Menteri Agama dijabat oleh K.H. Masykur. Karena
pergantian sistem pemerintahan, panitia masjid berganti beberapa kali,
tetapi ketua panitianya tetap, yakni Mr. Assat gelar Datuk Mudo,
mantan acting Presiden Indonesia. Garis kiblat ditetapkan pada 17
Agustus 1950 oleh K.H. Badawi. Pada tahun yang sama, 23 September, Sri
Sultan Hamengku Buwono IX meletakkan batu pertama. Masjid yang akan
selalu mengingatkan kepada para pahlawan yang menjadi korban
perjuangan itu diresmikan pemakaiannya pada 20 September 1952.

Ketiga, Masjid Istiqlal. Istiqlal berarti kemerdekaan. Pada mulanya
rencana pembangunan ini diprotes oleh I.J. Kasimo dari Partai Katholik
karena berada tepat di depan Gereja Katedral. Namun, Bung Karno
bergeming. Ia beralasan bahwa dulu di tempat itu telah berdiri masjid
yang dibangun oleh Sunan Gunung Jati. Oleh VOC, masjid itu
dihancurkan. Jadi, menurut Bung Karno, umat Islam membangun kembali
masjid yang lebih dulu ada jauh sebelum ada gereja. Satu hal yang unik
dari pembangunan masjid ini karena waktunya bersamaan dengan
pembangunan Monumen Nasional (Monas). Presiden Soekarno waktu itu
mendahulukan penyelesaian Monas. Menurut dia, kalau dia wafat sebelum
Monas jadi, tidak akan ada yang mau menyelesaikan pembangunannya. Akan
tetapi, jika ia wafat sebelum Istiqlal jadi, umat Islam pasti tidak
akan membiarkan pembangunan masjid itu telantar. Pembangunan Istiqlal
dirampungkan pada masa kepemimpinan Soeharto.

"Monumen perjuangan kita ditandai dengan masjid-masjid. Perjuangan
kemerdekaan kita pun ditegakkan oleh orang-orang yang memakmurkan
masjid. Itu patut kita syukuri," tutur Mansur. (Iip)***

Citation:

Kirim email ke