Tadina mah teu pati ngarti naon ari Pleonoxia teh, tapi sanggeus maca 
Catatan Pinggir GM dina Tempo minggu ieu, kakara ngarti: Panyakit jiwa nu 
ngadorong hayang leuwih jeung leuwih .....

Nyanggakeun seratan GM, meunang copy-paste, kanggo lenyepaneun urang dina 
nyanghareupan krisis nu sabenerna teu pati kaharti ku kuring ....

Pleonoxia
(Tempo 34/XXXVII 13 Oktober 2008)

Apa gerangan yang akan dikatakan pangeran Jawa yang meninggalkan istana itu, 
Ki Ageng Suryomentaram, seandainya ia hidup pada hari ini? Seandainya ia 
berjalan di Sudirman Business District, Jakarta, antara Pacific Place yang 
memamerkan benda-benda mentereng dan ruang BEJ di mana harga saham rontok, 
para pemilik dana panik, dan di langit-langitnya bergaung rasa cemas?

Mungkin inilah yang akan kita dengar dari Ki Ageng: "Yang menangis adalah 
yang berpunya. Yang berpunya adalah yang kehilangan. Yang kehilangan adalah 
mereka yang ingin."

Tapi mungkin tak seorang pun akan memahaminya.

Ia memang lain. Ia lahir pada 20 Mei 1892 di Keraton Yogyakarta. Ia pangeran 
ke-55 di antara sederet putra Sultan Hamengku Buwono VII. Ibunya seorang 
garwa ampilan. Pengeran kecil ini bersekolah di Srimenganti, yang dikelola 
istana. Pendidikan formalnya tipis, tapi ia berbahasa Belanda dengan baik, 
dan kemudian belajar bahasa Arab dan Inggris. Dan ia membaca.

Pada umur 18 ia jadi Pangeran, dengan gelar "Bendara Pangeran Harya 
Suryomentaram". Kita tak tahu bagaimana hidupnya pada masa itu, tapi ada 
sebuah kejadian yang membuat masa depannya berubah.

Dalam sebuah tulisan yang dimuat jurnal Archipel (nomor 16, tahun 1978), 
Marcel Boneff menceritakan kembali kejadian itu. Pada suatu hari, dalam 
perjalanan ke sebuah pesta perkawinan di Keraton Surakarta, dari jendela 
kereta api sang Pangeran melihat ke luar. Di bentangan sawah, sejumlah 
manusia berkeringat, bersusah payah, mencari sesuap nasi. Sementara itu di 
gerbong itu ia duduk dengan megah dan nyaman: kenikmatan yang diperolehnya 
semata-mata karena ia dilahirkan di suatu tempat yang tak harus diraih. 
Bisakah ia berbahagia?

Sejak itu Suryomentaram mempertanyakan hal yang oleh orang lain didiamkan: 
arti benda bagi hidup, arti punya bagi manusia.

Dalam bahasa Jawa ada dua kata yang hampir mirip, milik dan mélik. Yang 
pertama berarti "punya" atau "harta". Yang kedua berarti "keinginan yang 
cemburu untuk mendapatkan sesuatu".

Kini milik begitu penting dan mélik dilembagakan sebagai perilaku yang 
wajar; keduanya dianggap bagus buat pertumbuhan ekonomi. Dan jika dari 
kesibukan dengan milik dan mélik itu lahir sifat tamak, Sudirman Business 
District adalah saksinya. Di sini bergema kata-kata Walter Williams, ekonom 
dari George Mason University, tentang the virtue of greed: "Sebutlah itu 
tamak, atau egoisme, atau kepentingan diri yang tak sempit, tapi akhirnya 
motivasi inilah yang membuat hal ihwal jadi".
Mungkinkah itu sebabnya "pasar"-yang digerakkan milik dan mélik-tak mudah 
ditertibkan oleh Negara? Bank sentral dan kementerian keuangan di seluruh 
dunia bergerak. Mereka hendak membendung arus jatuh pasar saham, yang makin 
mempengaruhi perekonomian secara keseluruhan. Tapi sejauh ini sia-sia. 
Sejauh ini tampak bahwa Negara, yang bekerja untuk kepentingan umum, tak 
berdaya menghadapi pasar yang tamak yang tak mengacuhkan res publica.

Yang tak selamanya disadari adalah cepatnya gerak milik dan mélik pada zaman 
ini. Bersama cepatnya alir kekayaan dari tempat ke tempat-ya, itulah 
globalisasi-terjadilah akselerasi hasrat. Kepuasan akan satu benda dengan 
segera dihapus oleh hasrat baru. "Benda"-yang telah berubah jadi 
komoditas-kini jadi lambang ke-baru-an. Maka ada orang yang punya 10 mobil 
Jaguar: ketika puas hilang, satu Jaguar lagi terbilang. Terus-menerus.

Menyimpan akhirnya jadi tak menarik. Masa depan, ditandai dengan yang "baru", 
jadi kian cepat tiba. Menabung kehilangan alasannya. Kapitalisme zaman ini 
makin mengukuhkan dalil Leon Levy ("investor genius dari Wall Street", kata 
majalah Forbes), bahwa "tiap satu persen tabungan naik di masyarakat, laba 
perusahaan akan turun 11 persen".
Ada yang patologis dalam gejala itu. Kita hidup dengan "pleonoxia", penyakit 
jiwa yang didera keinginan segera mendapatkan lagi, lagi, lebih, lebih.

Itu sebabnya saya teringat Ki Ageng Suryomentaram. Apa gerangan yang akan 
dikatakannya? Pada masa hidupnya, ia tauladan. Ia melihat bagaimana 
pleonoxia datang setapak demi setapak. Pangeran itu mencegahnya dengan 
drastis: ia meninggalkan keraton. Sebelum umurnya 30, ia mengajukan surat 
agar gelar Pangerannya dibatalkan. Salah satu bangsawan terkaya di 
Yogyakarta ini pun memberikan mobilnya kepada sopirnya, menyerahkan 
kuda-kudanya kepada pekatiknya. Lalu ia berangkat ke arah Banyumas. Ia 
memakai nama "Notodongso" dan praktis menghilang. Ketika Raja menyuruh orang 
mencari putranya yang ganjil ini, mereka menemukannya di Kota Kroya: sedang 
menggali sumur.

Apa yang dicarinya? "Suprana-supréné, aku kok durung tau kepethuk wong," 
konon begitulah yang dikatakannya. "Selama ini, aku belum pernah berjumpa 
manusia." Ia tahu, manusia lebur di antara milik dan mélik.

Syahdan, ia pun memilih hidup sebagai petani di Dusun Bringin. Orang 
melihatnya selalu hanya memakai kathok pendek hitam, tak bersandal. Di 
lehernya terkalung sehelai batik bermotif parang rusak barong yang konon 
melambangkan resistansi. Mungkin dengan itulah manusia muncul, 
kadang-kadang: dalam menampik tamak, ia mencintai hidup dengan cara 
sederhana, menghargai liyan dengan mulut membisu.

Syahdan, pada suatu hari ia hendak pergi naik bus. Menjelang masuk, seorang 
penumpang lain yang menyangka Suryomentaram seorang kuli menyerahkan sebuah 
koper agar diangkat. Dengan patuh Ki Ageng meletakkannya di dalam bus- dan 
segera setelah itu, ia turun lagi. Ia membatalkan pergi. Ia tak ingin 
penumpang tadi jadi malu, telah salah menyuruhnya.

Begitu merendah-seorang yang tak akan kelihatan dari lantai tinggi Sudirman 
Business District, seorang yang seakan-akan menunjukkan: "Lihat, tanganku di 
dekat akar rumput. Lebih banyak yang bisa kita sentuh. Lebih banyak 
ketimbang yang bisa kau rengkuh."

Goenawan Mohamad 

Kirim email ke