meungpeung rame... neruskeun ti milis sabeulah
---------- Forwarded message ----------
From: SFdFilms Forum Sineas Medan <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/10/22
Subject: [jurnalisme] Fenomena Perkawinan Usia Dini di Nias Difilmkan
PressRelles:
Fenomena Perkawinan Usia Dini di Nias Difilmkan
*Diputar di Lapangan Merdeka Gunung Sitoli
Kisah perkawinan usia dini di Kabupaten Nias bukan merupakan hal baru yang
kita dengar. Berdasarkan penelitian Pusat Kajian dan Perlindungan Anak
(PKPA), sepanjang 2005 – 2007 tercatat 109 kasus kekerasan terhadap
perempuan, dengan dominasi kasus perkawinan usia dini.
Karenanya, PKPA bekerjasama dengan Sineas Film Documentary (SFD)
dan didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, membuat film bergenre
dokudrama yang mengangkat fenomena kentalnya perkawinan dini di beberapa
daerah di Indonesia, termasuk Nias.
Film berjudul "Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan" dan berdurasi 35
menit ini akan ditayangkan di Lapangan Merdeka Gunung Sitoli, Sabtu malam
(25/10), setelah sebelumnya ditayangkan di Kecamatan Lahewa pada Selasa
(21/10) dan di Desa Sawo, Rabu (23/10).
"Film ini merupakan kisah nyata yang berangkat dari hasil
penelitian PKPA atas kekerasan terhadap anak dan perempuan, terutama tentang
perkawinan di usia dini. Film ini adalah sebuah kampanye betapa kekerasan
terhadap perempuan tidak seharusnya terjadi lagi," kata Direktur PKPA Medan,
Ahmad Sofyan, kepada wartawan, Rabu (22/10).
Film dokudrama ini diproduksi untuk tidak dikomersilkan. Film
ini diproduksi sebagai media kampanye PKPA menolak segala bentuk kekerasan
terhadap anak dan perempuan terutama menolak pernikahan di usia dini.
Film berkisah tentang Yanti, anak perempuan Nias berusia 15
tahun yang cantik, energik dan cerdas, yang ingin melanjutkan pendidikan ke
SMA favorit dengan beasiswa yang ia peroleh karena prestasinya. Namun,
keinginannya tersebut terkendala karena tiba-tiba ia mendengar bahwa dirinya
akan segera dinikahkan dengan keluarga terpandang di desa mereka. Bahkan,
jujuran (uang pinangan) sudah dipersiapkan. Tak ingin adiknya mengalami
pernikahan dini yang bakal menyeretnya dalam penderitaan sebagaimana yang
dialaminya, Mira sang kakak mencoba berbagai cara untuk menggagalkan rencana
yang sudah disusun sang ayah meski harus mendapat berbagai perlakuan kasar
dan kekerasan.
"Kisah Yanti tentu merupakan fakta yang semestinya tidak boleh
terjadi lagi di saat dunia menjunjung tinggi derajat perempuan. Tapi, di
beberapa daerah di Indonesia, fakta-fakta ini masih dapat diendus dengan
begitu mudah. Di Nias, kawin paksa yang lebih identik dengan kekerasan
terhadap perempuan lebih cenderung dilatarbelakangi penafsiran adat dan
agama yang bias gender," ujar Producer Film Perempuan Nias Meretas Jalan
Kesetaraan, Misran Lubis
Di mata sutradara dokudrama ini , Onny Kresnawan yang juga
Direktur SFD, ada fenomena sosial yang terjadi di Nias sehingga menggerakkan
SFD dengan PKPA untuk membuat film dokudrama, dimana 50 persen di antaranya
merupakan fakta dan 50 persen lainnya merupakan bumbu-bumbu dari
sinematografi.
Penggarapan fim ini memakan waktu 13 hari (10 shooting di
lapangan dan 3 hari audisi pemain). Pemain-pemain sendiri berasal dari
daerah yang dalam penelitian PKPA termasuk daerah dengan angka tertinggi
dalam kasus kekerasan terhadap perempuan, di antaranya di Desa Sawo,
Kecamatan Tuhemberua, Kab. Nias.
Meski bukan aktor dan aktris, namun dengan semangat yang cukup
tinggi, sejumlah pemain yang direkrut dengan tokoh utama Vini S Zega sebagai
Yanti dan Noveria Zega sebagai Mira serta dibantu beberapa warga setempat
serta personil PKPA, dapat menghasilkan sebuah film non komersil yang layak
tonton.
Saat draft editing film 75 persen dikerjakan SFD, dan kemudian
dilakukan evaluasi yang melibatkan beberapa tokoh masyarakat, pihak
kepolisian dan stakeholder di Gunung Sitoli mendapat respon positif.
"Ternyata, di luar dugaan film ini diakui mereka sebagai karya besar Ono
Niha, bahwa film ini merupakan karya anak Nias yang cukup membanggakan. Dan
mereka meminta agar film ini diputar secara umum," ujar Onny.
Film ini juga menjadi pemicu bagi SFD untuk memproduksi
film-film dokudrama sejenis bersama anak-anak di tingkat II se-Sumatetra
Utara dengan thema "Suara Anak Bawah Langit". "Film ini akan berkonsep
tentang kisah anak-anak di beberapa daerah, dengan persoalan mereka
masing-masing dan didaerah masing-masing. Misalnya di Labuhan Batu, kita
bisa membuat dokudrama tentang pekerja anak di perkebunan. Di Langkat, bisa
diangkat kehidupan anak-anak di jermal," jelas Onny yang tahun lalu karya
Film Dokumenternya "Pantang di Jaring Halus" dan "BADAI" merai anugrah film
terbaik di J-Festival Jawa Timur dan Juara III di Jakarta.
"Saya optimis masyarakat Nias akan tumpah ke Lapangan Merdeka
Gunung Sitoli karena film ini berbau edukasi sekaligus menggambarkan
keindahan fanorama alam dan kebudayaan di Nias. Saya optimis ini akan
disambut baik masyarakat Nias," tutur Onny***
TTD
Fahriz Tanjung
._,___
--
d-: dudi herlianto :-q
~sok ngawaraduq sugan wé jadi gas bulao~