Dikirimkeun ka dieu teh alatan aya sunda kasubat-kasabet. wilujeng maca dudi ---
Kamis, 16 Oktober 2008 00:03 WIB Bahasa Indonesia, Mukjizat Abad Ini TIDAK terlalu berlebihan kalau Sutan Takdir Alisyahbana pernah memuji bahasa Indonesia sebagai mukjizat abad ini. Kalau dibandingkan dengan bahasa Urdu, misalnya, tidak semua lapisan masyarakat di India mau menerima bahasa nasional yang diangkat dari bangsa Hindustan tersebut. Contoh lain seperti bahasa Tagalog di Filipina, bernasib tidak jauh berbeda. Tidak semua masyarakat mau menerima. Lain halnya dengan bahasa Indonesia. Aneka suku, budaya, dan latar belakang agama meleburkan diri dalam bahasa yang diadaptasi dari Melayu dan memakainya sebagai bahasa percakapan nasional. Bukan tanpa kesulitan, pasalnya menurut ahli bahasa Indonesia dari Universitas Negeri Padang Atmazaki, saat Indonesia memilih bahasa nasionalnya ada dua bahasa yang juga dominan ketimbang Melayu, yaitu bahasa Jawa dan Sunda. Tetapi Melayu kemudian dipilih karena bahasa ini sudah lebih lama diserap sebagai bahasa pasar dan bahasa perdagangan antardaerah. "Masyarakat tempo dulu menggunakannya ketika berjalan keliling Nusantara," imbuh Atmazaki. Alias, bahasa tersebut sanggup lintas etnis atau lingua franca. Strukturnya pun sederhana dan relatif cepat dipelajari. Di samping faktor penting bahwa ada kerelaan dan kebesaran hati dari suku berpenutur banyak untuk menerimanya sebagai bahasa nasional. Menurut Kepala Bidang Pembinaan Pusat Bahasa Depdiknas, Mustakim, pada masa itu bahasa Indonesia juga diprediksi bisa menampung perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Kalau menghitung usianya, bahasa ini sudah berkembang selama delapan dekade, sejak diputuskan sebagai bahasa pemersatu pada 1928 sampai sekarang.(AA/N-4) http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzY4MjE= _ __ -- d-: dudi herlianto :-q ~sok ngawaraduq sugan wé jadi gas bulao~

