"Sorodot Gaplok" Ada di Olimpiade

MASIH ingat dengan istilah egrang, sorodot gaplok, toktak, atau
mengbal? Ya, itu adalah beberapa jenis permainan tradisional khas Jawa
Barat yang kini semakin langka dimainkan.

Egrang atau jajangkungan, jenis permainan dengan menggunakan bambu
yang mengharuskan peserta untuk berjalan dengan ketinggian pijakan
tertentu. Sorodot gaplok, jenis permainan menggunakan batu yang harus
dilontarkan dengan menggunakan kaki. Toktak, permainan mirip badminton
tapi alat yang digunakan terbuat dari kayu, dan mengbal atau sejenis
futsal mini.

Sungguh suatu hal yang menggembirakan, karena permainan itu kini masuk
olimpiade. Memang sih, bukan tingkat dunia, tapi paling tidak kaulinan
urang Sunda itu mulai dilirik para elite.

Dengan tujuan ingin melestarikan permainan tradisional atau kaulinan
urang Sunda, Universitas Padjadjaran menggelar Olimpiade Olah Raga
Tradisional, Sabtu (1/11) di kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung.
Sekitar 1.277 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, staf, dan
karyawan Unpad, bertanding dalam cabang permainan tradisional ini.

Rektor Unpad Ganjar Kurnia yang juga turut serta sebagai peserta grand
prix egrang menuturkan, permainan tradisional sebenarnya memiliki
makna lebih dari sekadar olah raga. Sebab untuk bisa melakukan
kaulinan tradisional ini dituntut kreativitas terutama dalam membuat
alat permainan.

"Ke depan akan terus kita kembangkan dengan berbagai jenis permainan
lainnya. Minimal kita bekerja sama dengan pemda sehingga kabupaten
kota juga mengirimkan kontingennya. Kalau dilombakan pasti bisa
bertahan," katanya seraya menambahkan kegiatan ini merupakan bagian
dari rangkaian Dies Natalis ke-51 Unpad.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Lex Laksamana yang hadir dalam
kesempatan tersebut, juga berharap ke depan ajang seperti ini bisa
dilakukan di semua daerah di Jawa Barat. Bahkan bukan tidak mungkin
bisa menjadi salah satu ajang wisata budaya Jawa Barat.

Dona, salah seorang peserta olimpiade, mengaku, cukup antusias
mengikuti kegiatan ini. Terlebih selama ini, kata Dona yang mahasiswa
Fakultas Hukum Unpad ini, dirinya tidak pernah tahu kalau ada
permainan menarik seperti ini di Jawa Barat.

Senada dengan Dona, mahasiswa Unpad lainnya Ega mengaku antusias dan
bangga bisa menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal Sunda.
Ke depan, kata Ega, sosialisasi mengenai permainan tradisional ini
harus dilakukan terutama kepada generasi muda. Sebab saat ini, kata
dia sudah banyak generasi muda yang berangsur melupakan permainan
tradisional. (Nuryani/"PR")***

Cita: 
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&kd_sup=1&id=40638

Kirim email ke