si kuring ngarasa perlu nyemplungkeun ieu tulisan, sabab nu nulisna,
sanajan dosen di Amerika, tapi ngarana Deden Rukmana. heuheu


----
Tinjauan Jalan Tol Trans-Jawa
Kamis, 20 November 2008 | 00:57 WIB

Oleh Deden Rukmana

Pembangunan jalan tol trans-Jawa sepanjang 652 kilometer dari Cikampek,
Jawa Barat, sampai Surabaya, Jawa Timur, dianggap kunci perkembangan
ekonomi di Pulau Jawa, khususnya sektor industri.

Para perencana dan pengambil keputusan menganggap, saat ini, prasarana
transportasi—khususnya jalan raya—tidak mendukung perkembangan industri
untuk bersaing global. Kini, kondisi jalan raya di Pulau Jawa dianggap
penghambat daya saing sektor industri. Apakah pembangunan jalan tol
trans-Jawa menjadi solusi terbaik perkembangan ekonomi di Pulau Jawa?

Dalam pembangunan berkelanjutan di Pulau Jawa, layakkah pembangunan tol
Trans-Jawa ini? Harian Kompas, (17/11/2008) memaparkan, jalan tol
trans-Jawa akan mengonversi 655.400 hektar lahan pertanian. Hal ini jelas
akan mengancam ketahanan pangan nasional, mengingat peran Pulau Jawa
memasok 53 persen kebutuhan pangan nasional.

Konversi lahan pertanian sebanyak itu akan terus bertambah seiring
pembangunan sektor perkotaan sepanjang jalan tol itu, khususnya di
pintu-pintu keluar tol. Konversi guna lahan juga akan berpengaruh terhadap
perubahan struktur mata pencarian penduduk. Dipastikan tenaga kerja sektor
pertanian di Pulau Jawa akan banyak beralih ke perkotaan. Lambat laun
pertanian di Pulau Jawa menjadi sektor marjinal dan menjadi ancaman serius
ketahanan pangan nasional.

Kereta api

Di AS, pembangunan jalan bebas hambatan antarnegara bagian (interstate
highways) dimulai tahun 1956 dan bukan menjadi kunci utama perkembangan
sektor perkotaan. Jauh sebelum moda transportasi jalan raya berkembang,
sistem perkeretaapian menjadi kunci perkembangan sektor perkotaan di AS
sejak pertengahan abad ke-18.

Sistem kereta api di AS menghubungkan sebagian besar wilayah AS dari
kota-kota di pantai Timur ke pantai Barat. Kota-kota besar, seperti
Chicago, Detroit, dan Atlanta, adalah contoh kota yang berkembang pesat
karena prasarana kereta api. Perkembangan moda transportasi darat dan
pembangunan jalan bebas hambatan menjadi alternatif untuk mendistribusikan
bahan baku dan produk industri tanpa mematikan peran kereta api.

Dengan menghangatnya isu pemanasan global dan krisis energi, keberadaan
jalan-jalan bebas hambatan di AS ditengarai sebagai penyebab tingginya
penggunaan bahan bakar minyak dan emisi karbon dioksida. Jalan-jalan bebas
hambatan itu menyebabkan berkembangnya kawasan permukiman di suburb dan
pertumbuhan kawasan perkotaan yang kian sprawling. Pertumbuhan kota-kota
ini menyebabkan pelayanan transportasi publik tidak efisien dan kian
meningkatkan ketergantungan penduduk terhadap penggunaan kendaraan
pribadi.

Konsumsi bahan bakar

Indonesia seharusnya mencontoh eksternalitas negatif pembangunan jalan
bebas hambatan di AS. Pembangunan jalan tol trans-Jawa bukan hanya
mengancam ketahanan pangan nasional akibat konversi lahan pertanian dan
tenaga kerja pertanian ke sektor perkotaan, tetapi juga akan kian
meningkatkan konsumsi bahan bakar minyak akibat peningkatan penggunaan
moda transportasi jalan raya.

Dampak negatif pembangunan tol trans-Jawa ini akan bertambah bila kita
menghitung dampak lingkungan dari berkurangnya lahan terbuka hijau,
termasuk hutan dan perkebunan di Pulau Jawa. Pembangunan jalan tol juga
akan berpengaruh terhadap perkembangan kota-kota di sepanjang jalan tol
yang akan menjadi sprawling.

Alternatif yang bisa disampaikan untuk meningkatkan perkembangan
perekonomian di Pulau Jawa adalah mengembangkan sistem perkeretaapian.

Pengembangan jalur ganda rel kereta api di Pulau Jawa dapat menjadi
alternatif utama untuk membantu distribusi bahan baku dan produk dari
sektor industri di Pulau Jawa. Begitu pula dengan mengaktifkan kembali
jalur-jalur kereta api yang dulu sempat dibangun Belanda. Pengembangan rel
ganda kereta api tidak akan mengonversi lahan pertanian sebanyak
pembangunan jalan tol. Pengembangan sistem perkeretaapian juga tidak akan
mengonsumsi energi sebanyak konsumsi moda transportasi jalan raya.

Secara ringkas dapat disampaikan, pembangunan jalan tol trans-Jawa bukan
solusi yang berkelanjutan untuk mengembangkan perekonomian di Pulau Jawa.
Solusi ini hanya menjadi ancaman bagi ketahanan pangan dan energi
nasional. Pembangunan jalan tol trans-Jawa lebih banyak ruginya bagi
kepentingan nasional. Sebagai alternatif, kita dapat mempertimbangkan
pengembangan sistem perkeretaapian yang lebih hemat energi dan tidak
mengonversi banyak lahan pertanian.

Deden Rukmana
 Koordinator Program Pascasarjana Studi dan Perencanaan Kota di Savannah
State University, Amerika Serikat

mj

http://geocities.com/mangjamal
http://mangjamal.multiply.com



Kirim email ke