Ceuk abdi mah Kang Dadang beurat teuing kana solusi mutlak2an..ngan ningali
tina sisi sektor wungkul nyaeta agro..mun hoyong komprehensif integral
mah..nyaeta kedah hibrida..jalan tol..jalan biasa..jalan kareta api...kaasup
pulik mass transportaion..tidinya didamel "kasaimbangan" (ngacu ka markal =
market allocation). lamun keukeuh wae agro hoyong dinomorhijikeun..pasti
industri moyodok..pangembangan profesi kirang variasi.jrrd keur masyarakat
kota anu parantos dinamis oge utamina buruh aya 2 paktor ; Transport sareng
Imah. Cobi urang pesek skedule pangaluaran;

Gajih = Rp 1 juta/bulan
Transport = Rp 300,000/bulan
Imah  =  Nyewa Rp 3 jt/taun atanapi Rp 250,000/bulan

Artos kanggo hirup praktis tinggal Rp 450,000/bulan. teu heran lamun terus
ngiridit motor keur ngurangan ongkos transport.

Janten tangtangan keur Paqmarentah kedah ngayakeun Mass Transport anu cukup
jeung murah plus parumahan murah (Singapur dengan HDB Flat murah keur
rakyatna) anu bisa bener2 dikiridit. Mass tarnsport anu alus aya oge
patalina jeung ayana jaringan Jalan Tol jeung Jalan KA. naekna konsumsi BBM
mu aya jalan Tol tog dipikasieun teuing..saha anu bade nganggo jalan tol teh
pan anu mangpu golongan rolling class...paling2 bengsinns ulah
disubsidi...Tah ieu anu bakal jadi aneh..kumargi di RI mah aneh...barang
kabutuhan diankut ku Kapal laut anu make Solar, KA make Solar, Truk2
Tronton, Eld, Dyna anu make sola4r...Naha ari harga bengsin naek eta kabeh
komoditas milu naek ? Kitu oge jeung $...Jelas anu langsung kana kurs mah
pasti naek Sapertos Monitorna Kang W..tapi diurang mah anu teu aya patalina
oge milu naek...cenah..keur usum naek..janten langkung seueur masalh
psikologis tibatan hukum ekonomi........

On 11/21/08, mj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> si kuring ngarasa perlu nyemplungkeun ieu tulisan, sabab nu nulisna,
> sanajan dosen di Amerika, tapi ngarana Deden Rukmana. heuheu
>
> ----
> Tinjauan Jalan Tol Trans-Jawa
> Kamis, 20 November 2008 | 00:57 WIB
>
> Oleh Deden Rukmana
>
> Pembangunan jalan tol trans-Jawa sepanjang 652 kilometer dari Cikampek,
> Jawa Barat, sampai Surabaya, Jawa Timur, dianggap kunci perkembangan
> ekonomi di Pulau Jawa, khususnya sektor industri.
>
> Para perencana dan pengambil keputusan menganggap, saat ini, prasarana
> transportasi—khususnya jalan raya—tidak mendukung perkembangan industri
> untuk bersaing global. Kini, kondisi jalan raya di Pulau Jawa dianggap
> penghambat daya saing sektor industri. Apakah pembangunan jalan tol
> trans-Jawa menjadi solusi terbaik perkembangan ekonomi di Pulau Jawa?
>
> Dalam pembangunan berkelanjutan di Pulau Jawa, layakkah pembangunan tol
> Trans-Jawa ini? Harian Kompas, (17/11/2008) memaparkan, jalan tol
> trans-Jawa akan mengonversi 655.400 hektar lahan pertanian. Hal ini jelas
> akan mengancam ketahanan pangan nasional, mengingat peran Pulau Jawa
> memasok 53 persen kebutuhan pangan nasional.
>
> Konversi lahan pertanian sebanyak itu akan terus bertambah seiring
> pembangunan sektor perkotaan sepanjang jalan tol itu, khususnya di
> pintu-pintu keluar tol. Konversi guna lahan juga akan berpengaruh terhadap
> perubahan struktur mata pencarian penduduk. Dipastikan tenaga kerja sektor
> pertanian di Pulau Jawa akan banyak beralih ke perkotaan. Lambat laun
> pertanian di Pulau Jawa menjadi sektor marjinal dan menjadi ancaman serius
> ketahanan pangan nasional.
>
> Kereta api
>
> Di AS, pembangunan jalan bebas hambatan antarnegara bagian (interstate
> highways) dimulai tahun 1956 dan bukan menjadi kunci utama perkembangan
> sektor perkotaan. Jauh sebelum moda transportasi jalan raya berkembang,
> sistem perkeretaapian menjadi kunci perkembangan sektor perkotaan di AS
> sejak pertengahan abad ke-18.
>
> Sistem kereta api di AS menghubungkan sebagian besar wilayah AS dari
> kota-kota di pantai Timur ke pantai Barat. Kota-kota besar, seperti
> Chicago, Detroit, dan Atlanta, adalah contoh kota yang berkembang pesat
> karena prasarana kereta api. Perkembangan moda transportasi darat dan
> pembangunan jalan bebas hambatan menjadi alternatif untuk mendistribusikan
> bahan baku dan produk industri tanpa mematikan peran kereta api.
>
> Dengan menghangatnya isu pemanasan global dan krisis energi, keberadaan
> jalan-jalan bebas hambatan di AS ditengarai sebagai penyebab tingginya
> penggunaan bahan bakar minyak dan emisi karbon dioksida. Jalan-jalan bebas
> hambatan itu menyebabkan berkembangnya kawasan permukiman di suburb dan
> pertumbuhan kawasan perkotaan yang kian sprawling. Pertumbuhan kota-kota
> ini menyebabkan pelayanan transportasi publik tidak efisien dan kian
> meningkatkan ketergantungan penduduk terhadap penggunaan kendaraan
> pribadi.
>
> Konsumsi bahan bakar
>
> Indonesia seharusnya mencontoh eksternalitas negatif pembangunan jalan
> bebas hambatan di AS. Pembangunan jalan tol trans-Jawa bukan hanya
> mengancam ketahanan pangan nasional akibat konversi lahan pertanian dan
> tenaga kerja pertanian ke sektor perkotaan, tetapi juga akan kian
> meningkatkan konsumsi bahan bakar minyak akibat peningkatan penggunaan
> moda transportasi jalan raya.
>
> Dampak negatif pembangunan tol trans-Jawa ini akan bertambah bila kita
> menghitung dampak lingkungan dari berkurangnya lahan terbuka hijau,
> termasuk hutan dan perkebunan di Pulau Jawa. Pembangunan jalan tol juga
> akan berpengaruh terhadap perkembangan kota-kota di sepanjang jalan tol
> yang akan menjadi sprawling.
>
> Alternatif yang bisa disampaikan untuk meningkatkan perkembangan
> perekonomian di Pulau Jawa adalah mengembangkan sistem perkeretaapian.
>
> Pengembangan jalur ganda rel kereta api di Pulau Jawa dapat menjadi
> alternatif utama untuk membantu distribusi bahan baku dan produk dari
> sektor industri di Pulau Jawa. Begitu pula dengan mengaktifkan kembali
> jalur-jalur kereta api yang dulu sempat dibangun Belanda. Pengembangan rel
> ganda kereta api tidak akan mengonversi lahan pertanian sebanyak
> pembangunan jalan tol. Pengembangan sistem perkeretaapian juga tidak akan
> mengonsumsi energi sebanyak konsumsi moda transportasi jalan raya.
>
> Secara ringkas dapat disampaikan, pembangunan jalan tol trans-Jawa bukan
> solusi yang berkelanjutan untuk mengembangkan perekonomian di Pulau Jawa.
> Solusi ini hanya menjadi ancaman bagi ketahanan pangan dan energi
> nasional. Pembangunan jalan tol trans-Jawa lebih banyak ruginya bagi
> kepentingan nasional. Sebagai alternatif, kita dapat mempertimbangkan
> pengembangan sistem perkeretaapian yang lebih hemat energi dan tidak
> mengonversi banyak lahan pertanian.
>
> Deden Rukmana
> Koordinator Program Pascasarjana Studi dan Perencanaan Kota di Savannah
> State University, Amerika Serikat
>
> mj
>
> http://geocities.com/mangjamal
> http://mangjamal.multiply.com
>
>  
>

Kirim email ke