Lain ngeunaan Jakarta-na, pangangguran bae hayang nyaho inohong2 Sunda nu
midang dina media massa...

   KOMPAS/WISNU
WIDIANTORO<http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2009/01/08/21463933/urbanisasi.di.jakarta.salah.arah.#>
Pemandangan Jakarta dari gedung bertingkat di kawasan segitiga emas
Kuningan-Sudirman-Thamrin, November lalu. Saat ini banyak ruang terbuka
hijau di Jakarta beralih fungsi untuk berbagai kepentingan.

 Kamis, 8 Januari 2009 | 21:46 WIB

*JAKARTA, KAMIS *— Pola perkembangan kota atau urbanisasi di Jakarta
mengarah kepada pola pertumbuhan yang sangat cepat. Namun, pertumbuhan
tersebut diikuti pula dengan mengorbankan lingkungan.

Hal inilah yang dinilai Rektor Universitas Indonesia Prof Gumilar R.
Somantri menyebabkan masalah-masalah perkotaan di Jakarta tidak kunjung
selesai. Apa yang terjadi di Kali Ciliwung saat ini, misalnya, dinilainya
sebagai produk kapitalisme yang haus energi, bukan hanya akibat perilaku
masyarakat dan produk kebijakan saja.

Ia mengatakan dari dulu hingga sekarang pola pertumbuhan Kota Jakarta sama
saja, yakni terjadi integrasi antara daerah pengembangan baru dengan daerah
utama. Hal ini mempercepat munculnya kawasan *low income neighbourhood *seperti
permukiman rumah-rumah kumuh di bantaran Sungai Ciliwung.

"Dulu sebenarnya ada konsep Bopunjur (Bogor-Puncak-Cianjur) sebagai daerah
konservasi, kemudian Depok sebagai daerah pembangun terbatas, dan Jakarta
dengan pembangunan lebih terbatas lagi, tapi kita tak pernah disiplin,"
ujarnya dalam diskusi mengenai Kali Ciliwung di kantor redaksi Harian *
Kompas*, Kamis (8/1).

Untuk mengatasi kondisi yang sudah ada saat ini, menurutnya, daya dukung
lingkungan harus dikembalikan. Harus ada upaya sungguh-sungguh dari
pemerintah dan dukungan penuh masyarakat.

"Pemerintah harus keras, terukur, tapi manusiawi, tentu tegas. Tapi harus
dengan rencana strategis ke depan mau dibawa ke mana," ujar Gumilar.
Misalnya, masyarakat yang terlanjur menempati bantaran kali harus disediakan
tempat baru, rusunawa misalnya, atau dikembalikan ke daerah asal dengan
bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat.

Dengan upaya yang sungguh-sungguh, hal ini dapat diwujudkan. Ia mencontohkan
kasus Sungai Kanda di Tokyo, Jepang, dan Sungai Han di Seoul, Korea Selatan,
yang pulih kembali setelah mengalami pencemaran berat.

"Sungai Kanda di Tokyo dulu sangat kotor di awal industrialisasi tahun
70-an. Namun, ada upaya sungguh-sungguh memulihkannya kembali," ujar
Gumilar. Bahkan, gerombolan ikan koi dapat dilihat di sungai tersebut saat
ini. Sungai Han yang dulu tercemar zat kimia saat ini malah menjadi sumber
air utama di Korea Selatan dan kota-kota yang ada di dekat pantai.

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2009/01/08/21463933/urbanisasi.di.jakarta.salah.arah
.

Kirim email ke