asana kang oman tah nu aktif dina masalah ieu teh. utamana ngokolakeun
pupukna. cobaan geura ngadongeng tah jeung kang oman. mun teu salah
ujicobana kungsi nepi ka sulawesi sagala.

salam,
mh

2009/1/27 Irpan rispandi <[email protected]>:
> baraya, kuring meunang artikel tina website.
> hapura teu disundakeun.
>
> naha bener ieu teh,hasil panen pare tina 4 ton jadi 8 ton.
>
> lamun enya, aya nu nyaho saha PPL na?
> cikan ondang sina bagi pangalaman di KusNet.
>
>
>
> http://www.majalahpengusaha.com/content/view/819/38/
>
> System of Rice Intensification, Nasinya Tahan Tiga Hari!!!
> Monday, 22 December 2008
>
> Salah kaprah dalam penanaman padi sudah berlangsung berabad-abad.
> Akhirnya krisis pangan tak terelakkan. SRI mencoba memberi solusi.
> Russanti Lubis
>
> Tahukah Anda, jika sistem penanaman padi yang selama ini dilakukan para
> petani kita itu, ternyata salah, terutama setelah munculnya
> intensifikasi pupuk? Hal ini, terbukti dari adanya perbandingan yang
> tajam antara tingginya biaya produksi dengan semakin rendahnya jumlah
> beras yang dihasilkan. Di sisi lain, hal itu juga semakin membuktikan
> bahwa 35 tahun pupuk digunakan dalam sistem pertanian kita, ternyata
> tetap tidak mampu menggantikan pekerjaan kompos dalam tanah.
>
> Namun, mengapa sistem yang telah dijalankan selama berabad-abad itu
> tetap dilakukan? Jawabannya gampang saja yaitu adanya pihak-pihak
> tertentu yang tidak mau mengakui kesalahan tersebut dan menolak hadirnya
> teknik baru dalam penanaman padi. Seperti ketika System of Rice
> Intensification (SRI), yang terlahir di Madagaskar lebih dari 20 tahun
> lalu, diperkenalkan ke seluruh penjuru dunia (termasuk Indonesia, red.)
> pada tahun 1999.
>
> SRI yang sudah dipraktikkan di tanah air kita sejak tahun 1997, tapi
> baru booming pada tahun 2006 ini, dianggap sebagai kebohongan. Sehingga,
> tidak mendapat tanggapan yang bagus dari berbagai instansi pemerintah
> maupun swasta. Penolakan ini sebenarnya lebih terkait pada masalah
> arogansi di bidang keilmuwan.
>
> "Kemudian, seorang PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dari Jawa Barat
> dengan menggunakan data-data dari internet, mencoba teknik ini dan
> berhasil. Tapi, gara-gara hal itu, ia justru akan dipecat. Karena, ia
> dianggap melawan program pemerintah. Lalu, ia meminta perlindungan pada
> Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda di mana saya adalah
> salah seorang sesepuhnya. Kami menanggapi dengan mengecek fakta yang ada
> dan ternyata benar," jelas Mubiar Purwasasmita.
>
> Fakta ini, Mubiar melanjutkan, memang mengagetkan sehingga membuat risih
> para peneliti. Sebab, terdapat meningkatan produktivitas beras dari
> semula 4 ton menjadi 8 ton, kemudian 9 ton, dan seterusnya.
> "Produktivitas beras yang semakin lama semakin tinggi membuat para
> peneliti semakin tidak percaya. Karena, secara genetika, potensinya
> hanya mencapai 10 ton. Jadi, tidak mungkin lebih daripada itu," kata
> Dosen Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
>
> Pada tahun 2003, seorang dosen junior di program studi yang sama,
> melalui buku-buku yang dibacanya, memperkenalkan istilah intensifikasi
> proses kepada Mubiar. "Sesudah saya pelajari, saya menarik kesimpulan
> bahwa saya dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar insinyur
> teknik kimia dari ITB ini.
>
> Jadi, apa itu SRI? "Kami tetap menamainya intensifikasi proses. Nama
> populernya yakni System of Rice Intensification yang disingkat SRI,
> mendekati nama Dewi Sri atau dewi padi. Sedangkan penemunya yaitu
> Katayama, seorang ilmuwan Jepang. Jadi seharusnya dinamai Katayama
> Method," tutur doktor dari Institut National Polytechnique de Lorraine,
> Prancis, ini.
>
> Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 83/2008
>
> ------------------------------------
>
> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>

Kirim email ke