baraya, kuring meunang artikel tina website.
hapura teu disundakeun.

naha bener ieu teh,hasil panen pare tina 4 ton jadi 8 ton.

lamun enya, aya nu nyaho saha PPL na?
cikan ondang sina bagi pangalaman di KusNet.



http://www.majalahpengusaha.com/content/view/819/38/

System of Rice Intensification, Nasinya Tahan Tiga Hari!!!
Monday, 22 December 2008

Salah kaprah dalam penanaman padi sudah berlangsung berabad-abad. 
Akhirnya krisis pangan tak terelakkan. SRI mencoba memberi solusi. 
Russanti Lubis

Tahukah Anda, jika sistem penanaman padi yang selama ini dilakukan para 
petani kita itu, ternyata salah, terutama setelah munculnya 
intensifikasi pupuk? Hal ini, terbukti dari adanya perbandingan yang 
tajam antara tingginya biaya produksi dengan semakin rendahnya jumlah 
beras yang dihasilkan. Di sisi lain, hal itu juga semakin membuktikan 
bahwa 35 tahun pupuk digunakan dalam sistem pertanian kita, ternyata 
tetap tidak mampu menggantikan pekerjaan kompos dalam tanah.

Namun, mengapa sistem yang telah dijalankan selama berabad-abad itu 
tetap dilakukan? Jawabannya gampang saja yaitu adanya pihak-pihak 
tertentu yang tidak mau mengakui kesalahan tersebut dan menolak hadirnya 
teknik baru dalam penanaman padi. Seperti ketika System of Rice 
Intensification (SRI), yang terlahir di Madagaskar lebih dari 20 tahun 
lalu, diperkenalkan ke seluruh penjuru dunia (termasuk Indonesia, red.) 
pada tahun 1999.

SRI yang sudah dipraktikkan di tanah air kita sejak tahun 1997, tapi 
baru booming pada tahun 2006 ini, dianggap sebagai kebohongan. Sehingga, 
tidak mendapat tanggapan yang bagus dari berbagai instansi pemerintah 
maupun swasta. Penolakan ini sebenarnya lebih terkait pada masalah 
arogansi di bidang keilmuwan.

“Kemudian, seorang PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dari Jawa Barat 
dengan menggunakan data-data dari internet, mencoba teknik ini dan 
berhasil. Tapi, gara-gara hal itu, ia justru akan dipecat. Karena, ia 
dianggap melawan program pemerintah. Lalu, ia meminta perlindungan pada 
Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda di mana saya adalah 
salah seorang sesepuhnya. Kami menanggapi dengan mengecek fakta yang ada 
dan ternyata benar,” jelas Mubiar Purwasasmita.

Fakta ini, Mubiar melanjutkan, memang mengagetkan sehingga membuat risih 
para peneliti. Sebab, terdapat meningkatan produktivitas beras dari 
semula 4 ton menjadi 8 ton, kemudian 9 ton, dan seterusnya. 
“Produktivitas beras yang semakin lama semakin tinggi membuat para 
peneliti semakin tidak percaya. Karena, secara genetika, potensinya 
hanya mencapai 10 ton. Jadi, tidak mungkin lebih daripada itu,” kata 
Dosen Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Pada tahun 2003, seorang dosen junior di program studi yang sama, 
melalui buku-buku yang dibacanya, memperkenalkan istilah intensifikasi 
proses kepada Mubiar. “Sesudah saya pelajari, saya menarik kesimpulan 
bahwa saya dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” ujar insinyur 
teknik kimia dari ITB ini.

Jadi, apa itu SRI? “Kami tetap menamainya intensifikasi proses. Nama 
populernya yakni System of Rice Intensification yang disingkat SRI, 
mendekati nama Dewi Sri atau dewi padi. Sedangkan penemunya yaitu 
Katayama, seorang ilmuwan Jepang. Jadi seharusnya dinamai Katayama 
Method,” tutur doktor dari Institut National Polytechnique de Lorraine, 
Prancis, ini.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 83/2008


Kirim email ke