Disukai Karena Fleksibel Megamendung memang bukan satu-satunya batik khas pesisir Cirebon. Namun, motif tersebut memiliki keunggulan karena keluwesan atau fleksibilitasnya. Itu pula mengapa di antara banyak motif batik cirebonan, megamendung paling banyak digandrungi dan dicari penggemar batik.
Tak hanya di Jabar dan Jawa, megamendung juga disukai masyarakat batik di seluruh nusantara. Dalam sepuluh tahun terakhir, masyarakat batik internasional ikut-ikutan 'memburu' batik khas Cirebon ini. Saking masyhurnya, megamendung pernah menjadi cover buku batik internasional berjudul Batik Design karya Pepin Van Roojen, Belanda. Oleh karena itu, tidak salah bila megamendung kini menjadi ikon batik cirebon. "Sebenarnya Cirebon memiliki segudang kekayaan motif batik. Hanya, selama ini, pasar terfokus pada megamendung. Ini fenomena pencitraan pasar. Hanya, terlepas dari itu, harus diakui, megamendung itu plastis dan fleksibel. Untuk kebaya, sarung maupun pakaian, itu ok. Mudah dibentuk dan cocok untuk semua lapisan masyarakat," tutur H. Komarudin Kudiya, S.I.P., M.Ds. (40), Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) yang ditemui di workshop Batik Komar, di sentra batik cirebon di Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. Booming batik trusmi atau batik cirebon dalam beberapa tahun terakhir, juga didominasi pasar megamendung. Oleh karena itu, YBJB melalui "Batik Komar", kini mengembangkan motif megamendung yang ternyata juga sangat beragam. "Sudah ada 12 motif megamendung klasik yang dirancang. Semua berbentuk batik tulis. Sekarang dalam proses produksi, bila sudah selesai akan kami launching," tuturnya. Pria yang akrab disapa Komar itu mengumpulkan motif megamendung dari khazanah klasik pernik-pernik seni tradisional Cirebon. Sejauh ini, baru 12 yang dikembangkan, akan tetapi kalau terus digali bisa lebih banyak. "Saking fleksibelnya, motif ini bisa dirancang inovatif dengan sentuhan modern. Motif ini memang dikenal dinamis, bisa dirancang disesuaikan konteks perkembangan zaman," tutur pengurus Yayasan Batik Indonesia (YBI), bagian sumber daya dan desain ini. Dua belas motif yang dikembangkan di antaranya megamendung enggok, oleng, pilar, bunga, sekar pandan, barong bayang, menyan kobar, jentikan, lung pinggir, angkin, panjang, dan inggil. Kesemuanya dalam proses pengerjaan. Rencananya sebelum April sudah selesai. ** Dari motif yang sudah ada, meski motif dasarnya megamendung, namun rancangan gambar keseluruhannya memiliki kekhasan dan perbedaan mencolok. Pada pilar misalnya, gambarnya bercirikan tegak vertikal, diambil dari ukiran dan pahatan pada pilar pendopo keraton, sekar pandan bentuk gambar secara umum merupakan kembang pandan dan barong bayang sepintas mirip wajah barong khas Bali. "Bila dicermati, megamendung banyak sekali variasinya. Ada yang lancip, bulat tumpul pada ujungnya, ada yang memiliki lekukan menyudut pada lengkungannya. Juga ada yang melebar dan beragam formasi gambar yang unik dan menarik," tutur pemrakarsa gelar batik terpanjang dunia itu. Dua belas motif megamendung itu akan dipublikasikan pada dua pameran batik nasional di Jakarta Convention Centre (JCC) bulan April (Pameran Batik Adiwastra) dan Agustus (Pameran Batik Nusantara) 2009 mendatang. Dengan cara itu, diharapkan makin menunjukkan kekuatan batik trusmi (Cirebon) kepada masyarakat. Dari 12 motif tadi, akan diungkap pula bagaimana megamendung sangat mirip dengan motif klasik Cirebon lain, yakni wadasan. Namun, pada detail-detail tertentu sangat berbeda. Dari 12 motif tadi, ciri khas megamendung, yakni pada gradasi warna-warna cerah seperti merah, biru, hijau, akan lebih dieksploitasi. Semua motif lengkap dengan gradasi warna, hingga tujuh lapis. Semuanya dikerjakan dengan teknik dan ketekunan tinggi. "Kita akan eksplorasi motif megamendung, baik dari bentuk gambar maupun komposisi warna," tutur juara I Lomba Cipta Desain Selendang Batik Internasioanl 1997 dan peraih Penghargaan Upakarti Jasa Kepeloporan ini. (Agung Nugroho/"PR")*** Cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=57418

