kecap2 paradoksal sareng bombastis teh ngan salh sawios cara kanggo ngayakinkeun batur kana dangan urang...dagang konsepsi...Tapi mun urang teu munapek mah kedah wantun sacara teges pamadegan sapertos keiu " Saya ingin kaya dan bahagia". janten teu aya anu paradoksalna....
On 2/16/09, Anwar Holid <[email protected]> wrote: > > > > Model Komprehensif tentang Kebahagiaan > --Anwar Holid > > The 7 Laws of Happiness - Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia > Penulis: Arvan Pradiansyah > Penerbit: Kaifa, September 2008 > Halaman: 428 > ISBN: 978-979-1284-20-2 > Harga: Rp 72.500,- > > KITA kerap mendengar orang berkata, "Semoga hidupmu bahagia" atau dengan > nada emosional mengucapkan, "Saya rela miskin, asal bahagia." Sesungguhnya, > bahagia seperti apa yang dia maksud? Apa bahagia itu identik dengan senang? > Bagaimana bila dibandingkan dengan perasaan sejenis, misalnya beruntung, > sukses, mujur, dan puas? > > "Bahagia itu rentang waktunya panjang, sementara senang itu berjangka > pendek," demikian pernyataan awal Arvan Pradiansyah dalam The 7 Laws of > Happiness. Buku ini berusaha secara meyakinkan dan mudah dipahami membahas > salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia, yaitu kebahagiaan. > Sebagai seorang ahli sumber daya manusia dan pembicara publik, Arvan telah > menghasilkan empat buku bertema manajemen kepemimpinan (leadership) dan > manajemen kehidupan (life management.) The 7 Laws of Happiness termasuk > kategori manajemen kehidupan, terutama karena ia secara persuasif mengajak > agar pembaca menemukan dan membukakan jalan hidup yang bahagia. > > Arvan menggunakan pendekatan neurosains dan Psikologi Positif untuk > membukakan wawasan tentang meraih kebahagiaan. Neurosains ialah studi > saintifik terhadap sistem saraf, terutama sekali sistem jaringan otak. > Sebagian ahli otak mengatakan bahwa pusat manusia ada pada akal, yaitu > proses berpikir yang terjadi di dalam otak. Arvan yakin bahwa kunci > kepribadian dan watak manusia berada pada otaknya (hal. 41.) > > Psikologi Positif lahir dari kegalauan Martin E. P. Seligman ketika menjadi > presiden American Psychological Association (APA) pada 1998. Dia secara > komprehensif menuliskan landasan teori dan praktik cabang psikologi ini > dalam bukunya yang sangat berpengaruh dan terkemuka, Authentic Happiness. > Beberapa koleganya merasakan kecenderungan serupa, dan akhirnya saling > mendukung dan mengisi gagasan tersebut hingga menjadi disiplin yang padu. > Psikologi ini lebih berusaha menekankan pada kesehatan mental. Aliran ini > merupakan generasi baru Psikologi Humanistik yang berhasil membangun > dukungan bukti empirik, menyediakan landasan sainstifik kuat bagi studi > tentang kebahagiaan manusia dan fungsi optimal manusia, menambah sisi > positif dari psikologi yang terlalu dikuasai sisi negatif manusia. > > Sesuai hasil penelitian neurosains, Arvan berpendapat bahwa kunci bahagia > manusia itu ada dalam pikirannya. "Kekuatan terbesar manusia ada dalam > memilih pikiran," ungkapnya. Dengan pikiran, orang bisa memilih keputusan > apa pun untuk hidupnya. Arvan merancang buku ini secara komprehensif agar > pembaca bisa cukup terlatih untuk memulai mengambil keputusan demi > kebahagiaan hidupnya. Pendekatan penulisannya juga termasuk menarik. Sambil > berargumen mengungkapkan bagaimana prinsip-prinsip kebahagiaan bisa > berlangsung dalam kehidupan manusia, dia menjabarkan pemikiran dengan bahasa > mudah dipahami, ditambah petikan kisah (kebanyakan kisah nyata), dan > sejumlah praktik tes psikologi. Lay out buku ini, baik dari pilihan font, > desain, dan ilustrasi membuat kenyamanan membaca jadi makin maksimal. > > Salah satu prasangka umum terhadap bahagia yang dipatahkan Arvan ialah > anggapan bahwa orang bisa bahagia meskipun ia tak punya apa-apa, seakan-akan > bahagia tidak butuh materi apa pun. "Anggapan ini terdengar bagus, tapi > sangat tidak realistis," tulis Arvan. Bagaimana mungkin kita bisa bahagia > tanpa memiliki apa pun padahal kita ini masih merupakan makhluk fisik juga? > (hal. 32), demikian ungkap Arvan retorik. Dia menyatakan, meski ada faktor > yang dapat mempengaruhi kebahagiaan, penentunya tetap pikiran. Secara > faktual, orang sehat dengan pikiran damai akan lebih bahagian daripada orang > sakit dengan pikiran damai. "Pikiran itu mirip kebun, bila dipupuk dengan > baik, hasilnya tentu kebaikan." > > Untuk memupuk dan melatih pikiran agar terbiasa melahirkan kebahagiaan, > Arvan mengajukan tujuh syarat. Tiga syarat pertama ialah Intrapersonal > Relation, merupakan syarat bahagia untuk diri sendiri, terdiri dari sabar, > syukur, dan sederhana (kemampuan menangkap esensi). Tiga syarat kedua ialah > Interpersonal Relation, merupakan kebahagiaan terkait dengan orang lain, > terdiri dari kasih, memberi, dan memaafkan. Puncaknya ialah Spiritual > Relation, berupa kemampuan berserah diri dan percaya seratus persen kepada > Tuhan (pasrah.) Arvan memberi contoh dan inspirasi nyata betapa meraih > kebahagiaan puncak itu tidaklah hadir sekonyong-konyong, tetapi dengan > disiplin, perjuangan, dan pelatihan berat. > > SELINTAS The 7 Laws of Happiness tampak sama dengan tipikal buku self-help > dan motivasi (pengembangan diri) yang kerap dituduh menyederhanakan masalah > serius dengan pendekatan instan, sejenis cara jawaban gampang bagi masalah > kehidupan yang terlalu sukar. Pengkritik self-help mengindikasikan bahwa > buku seperti itu sejenis pseudosains yang cenderung malah menyesatkan > alih-alih memberi jawaban manjur. Mereka terutama kerap menyerang klaim dan > buku karya orang yang bergerak di bidang ini. > > Arvan Pradiansyah membangun argumen dari sumber nan luas, terutama dari > literatur Psikologi Positif, studi perilaku terbaru, neurosains, ditambah > dari tradisi agama-agama dan ajaran moral, dan ilmu sosial. Bukunya > menawarkan universalitas yang kaya. Audifax Prasetya, peneliti psikologi > asal Surabaya telah menguji kadar keilmuan The 7 Laws of Happiness. "Gagasan > Arvan memiliki fondasi kuat untuk tumbuh dan berkembang menjadi sebuah > pemikiran yang brilian. Saya melihat pemikiran Arvan bisa dikembangkan lebih > jauh ke hal-hal yang aplikatif dan berguna bagi banyak orang. Buku ini > mengajak orang untuk melihat secara mendalam melalui sebuah kajian teoretis > yang dibangun secara serius." > > Boleh jadi karena itu, pendengar tertentu yang mengenal maupun terpengaruh > oleh Arvan sebagai pembicara publik, fasilitator, dan trainer, mantan dosen > FISIP UI ini bukanlah tipe motivator yang gegap gempita dan bombastik dalam > menyampaikan pendapatnya. Bersama lembaga pelatihan dan konsultasi sumber > daya manusia yang sekarang dia pimpin, Institute for Leadership & Life > Management (ILM), dia lebih banyak mengeluarkan issue kemanusiaan---misalnya > kejujuran, persahabatan, dan memaafkan. Pada sejumlah pertemuan, dia > menekankan rendah hati, menemukan misi hidup bagi diri sendiri, bersikap > empatik dan positif, alih-alih semata-mata sukses finansial, kesejahteraan > luar biasa, maupun puncak karir. Tanpa kebahagiaan dan kepuasan hakiki, > semua itu akan sia-sia. > > Tiga buku karya Arvan sebelumnya secara kontinu meneruskan pencarian > manusia terhadap kebahagiaan, seiring dinamika pengalaman hidupnya. The 7 > Laws of Happiness merupakan puncak pemikirannya; dia mengambil sari-sari > berbagai pemikiran dan menggunakannya untuk mengungkap sebuah konsep > komprehensif mengenai model kebahagiaan.[] > > ANWAR HOLID, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai editor & > penulis freelance. > > KONTAK: [email protected] <wartax%40yahoo.com> | Tel.: (022) 2037348 | HP: > 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141 > > Resensi ini awalnya dimuat di rubrik RESENSI Bisnis Indonesia Minggu, 8 > Februari 2009. > > Copyright (c) 2009 oleh Anwar Holid > > Situs terkait: > > http://www.mizan.com > http://www.ilm.co.id > http://www.arvanpradiansyah.com (under construction) > > Hubungi Arvan Pradiansyah via http://www.facebook.com > > >

