Gugum Gumbira Tirasondjaja : Kini Lebih Tenang<http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/5718/gugum-gumbira-tirasondjaja-kini-lebih-tenang> Minggu, 22 Februari 2009 | 15:03 WIB
*ADA *yang berubah dari sosok Gugum Gumbira Tirasondjaja. Pria kelahiran Bandung, April 1945 itu kini tak lagi meledak-ledak. "Sekarang hidup saya memang terasa jauh lebih tenang," ujarnya. DITEMUI di Padepokan Jugala miliknya di Jalan Kopo No 15-17, Kamis (19/2) petang lalu, Gugum baru saja melepas kru sebuah televisi swasta yang hari itu datang berkunjung. Parasnya sumringah. Tak sedikit pun terlihat lelah sekalipun dalam dua pekan terakhir, wartawan intens "memburunya" gara-gara heboh 3G, alias goyang, gitek, dan geol jaipong, yang mendadak ramai menyusul tersiarnya kabar imbauan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, agar seniman jaipong memperhalus gerak tarian tersebut hingga tak terkesan erotis. "Soal jaipong itu terlalu dibesar-besarkan. Sebenarnya tak ada masalah," cetusnya pelan, seolah enggan kembali berbincang tentang kontroversi itu. Bahkan alin-alih bicara banyak soal jaipong, Gugum malah bercerita bahwa di luar aktivitas berkeseniannya, kini ia begitu menikmati kegiatan mengelola pertanian dan peternakan yang dimiliknya di kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung. Ia juga lebih dalam mempelajari tasawuf yang dirasakannya amat mempengaruhi kehidupannya kini. "Sekarang malah katambahan jadi bandar beas. Bukan itu saja, saya juga jadi bandar lauk di kabupaten," ujarnya sambil tersenyum. Sejak mulai mendalami tasawuf, beberapa tahun lalu, terang Gugum, selain merasa jauh lebih dekat tenang dan tentram, sejumlah kebiasaan yang sempat seolah menjadi "trademark"-nya juga ikut berubah. "Sekarang saya tak lagi ingin hidup boros. Saya juga menjadi lebih cermat mempertimbangkan baik buruknya ucapan maupun tindakan yang akan saya lakukan. Semua itu melatih saya mengurangi rasa marah, sekaligus mempertinggi rasa syukur," ungkap Gugum. Gugum mengaku, rasa syukur ini pula sebenarnya yang langsung ia rasakan saat mendengar adanya rumor mengenai adanya pelarangan jaipong. Dalam pandangannya, kritik, saran, bahkan hujatan sekalipun adalah salah satu bentuk apresiasi yang menandakan bahwa sebuah karya telah dan akan terus berkembang. Kemajuan sebuah karya seni termasuk jaipong, terang Gugum, memang hanya tergantung pada dua hal: para seniman dan apresiatornya. "Ketiadaan satu dari keduanya membuat seni itu tak lagi berarti," ujar Gugum. Karena itu, tambahnya, adalah mutlak bagi setiap koreografer jaipong untuk selalu memperhatikan berbagai masukkan dari para penontonnya. "Sebab, bagaimana pun, mereka adalah apresiator karya kita. Jangan sampai para koreografer terjebak menunjukkan keindahan jaipong hanya dengan menampilkan gerakan-gerakan erotis. Sebab, masih banyak gerakan lain yang bisa ditampilkan untuk mengungkap keindahan, tak memlulu harus erotis," ujar Gugum. Pria bermata tajam ini lantas bercerita, jaipong yang untuk pertama kalinya ia ciptakan tahun 1974, sebenarnya juga muncul kegundahan hati. "Ada gejolak jiwa yang ingin saya curahkan, dan itu saya keluarkan melalui bahasa tubuh atau gerak tari," ungkap pensiunan PNS Disbudpar Jawa Barat ini dengan wajah serius. Kegelisahan sendiri, kisah Gugum, merupakan akumulasi dari gejolak perasaannnya setelah puluhan tahun belajar seni tradisi masyarakat Sunda kepada para guru di pelosok Jawa Barat. "Di tahun 1961, Presiden Soekarno mulai membatasi budaya asing termasuk musik-musik barat. Saat itu, beliau justru mendorong seniman tradisional mau menunjukkan ragam tarian etnik dari daerah-daerah di Indonesia, di tingkat internasional," terang pria berambut putih sebahu ini. Dengan bekal pengetahuan seni tradisional inilah, kata Gugum, gerak tari jaipong akhirnya tercipta. Namun, kata Gugum, jaipong yang ia ciptakan adalah sebuah tarian modern, sekalipun gerakan dasarnya adalah gerakan yang diambil dari beberapa tari tradisional. "Di awal penciptaannya jaipong justru mendapat banyak pengaruh dari gerak dinamis tari Bali yang dipadukan dengan unsur kelembutan dari tari Jawa." Namun, seiring perkembangannya, kata Gugum, para koreografer jaipong pun mulai banyak melakukan berbagai terobosan, termasuk memasukkan gerakan dari tari-tarian negara lain, termasuk musik modern. Menurut Gugum, ini adalah bukti bahwa jaipong telah semakin berkembang. "Selama unsur asing yang dikolaborasikan itu tak sampai mendominasi dan menghilangkan ciri khas jaipong, semua akan baik-baik saja."(*ricky reynald yulman*) *Ilham Putri Panglima SEHARI* bersama Gugum Gumbira, takkan cukup untuk membedah keunikan jaipong sebagai satu identitas budaya masyarakat Jawa Barat. Melalui jaipong, dosen luar biasa STSI Bandung ini tak sekadar ingin berbagi rasa. Tapi juga berbagi etika dan nilai-nilai moral kepada masyarakat. Seperti terekam dari dua karya jaipongnya yang terkenal tahun 1080-an, Daun Pulus Keser Bojong dan Kawung Anten. Daun Pulus Keser Bojong terinspirasi kisah perjuangan hidup manusia yang pantang menyerah menghadapi rintangan. Sementara Kawung Anten diilhami sosok putri Panglima Jaya Perkasa dari Sumedang yang pada masanya begitu gencar memperjuangkan emansipasi wanita. Saat ini, sudah ratusan karya tari jaipong telah diciptakan Gugum Gumbira. Tangan dingin Gugum juga telah melahirkan ribuan penari jaipong ternama yang gencar mengenalkan jaipong ke seluruh penjuru dunia, seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. "Tarian jaipong dari Padepokan Jugala bahkan sudah pernah dimainkan di semua benua, kecuali Australia. Tahun 2010 nanti rencananya kita main di Belanda. Popularitas tari jaipong di mata masyarakat dunia kini tidak kalah dengan tari Bali. Workshop tari jaipong tiap kali selesai pementasan selalu ramai diikuti warga setempat. Apresiasi yang luarbiasa itu sungguh membuat kami bersyukur," ujar Gugum. (*ricky reynald yulman*) -- sikandar

