Ada Saja Pelaku "Darmaji" "KANTIN Jujur; Watak Jujur Cermin Negara Makmur". Kalimat itu tertera pada kain berukuran 1 x 2 meter di sebuah kantin, di Kompleks Pemerintah Kab. Bandung. Itulah salah satu kantin kejujuran yang diresmikan Bupati Obar Sobarna, setahun lalu. Sejak program itu dicanangkan KPK pada 2005 silam, Kab. Bandung memang merupakan salah satu daerah yang bersemangat menggalakkan kantin kejujuran.
"Kantin jujur ini, awalnya dulu, untuk mengetes apa orang-orang di sini pada jujur atau tidak," kata Oom, penunggu salah satu kantin yang menyediakan berbagai menu makanan. Akan tetapi, siang itu, ada suatu kejanggalan pada kantin tersebut. Kebetulan, ketika "PR" berkunjung, kantin mulai ramai karena jam makan siang tiba. Pasalnya, "prosedur tetap" (protap) kantin kejujuran tak berlaku di sana. Selesai bersantap, sejumlah pegawai menghampiri penunggu kantin lalu berucap, "Sabarahaeun, Bu?" Adegan semacam itu, seharusnya tak terjadi di kantin kejujuran. Sebab, berdasarkan "protap", seharusnya para pembeli mengambil sendiri makanan yang diinginkan lalu meletakkan uang pembayaran di kotak yang disediakan. Kalau perlu uang kembalian, pembeli juga harus mengambil sendiri. "Sekarang sudah enggak. Kadang-kadang aja sih kotaknya dipakai," ujar Oom. Ia mengatakan, sulit menerapkan pola kantin kejujuran di sana. Soalnya, makanan yang dijual bukan makanan kemasan yang memudahkan diambil dengan harga yang pasti. Contohnya harga sayur, sulit menakarnya. "Dulu sih ada daftar harganya. Misalnya sayur apa gitu harganya sekian untuk sekian sendok. Tapi, nggak bertahan lama. Kayaknya, pembeli belum terbiasa. Mereka inginnya praktis, tanya harga langsung bayar," tuturnya. Akhirnya, kantin itu pun kembali ke pola lama. Pedagang kembali disibukkan melayani pesanan pembeli. "Waktu awal-awal diresmikan, ya sempat rugi juga. Namanya juga manusia ya, ada saja yang tidak jujur," ujarnya. Berdasarkan pemantauan "PR", kini nyaris semua kantin kejujuran di lingkungan Pemkab Bandung mengalami nasib yang sama. Di sana, yang tertinggal hanyalah spanduk-spanduk bertuliskan slogan kejujuran. ** KANTIN kejujuran di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jabar di Jln. L.L.R.E. Martadinata Kota Bandung lebih beruntung. Sejak dibuka pada 9 Desember 2008, bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia (HAM), hingga hari ini belum pernah merugi. Modal sebesar Rp 1,5 juta digunakan untuk menyediakan berbagai alat tulis kantor (ATK), minuman, dan makanan ringan. Pengelola kantin itu Yeni Sulastri mengatakan, dulu, pendapatan kantin hanya Rp 50.000,00-Rp 60.000,00 per hari. Sekarang, bisa mencapai Rp 100.000,00 setiap harinya. Selain produk pabrikan, kantin itu juga membuka kesempatan bagi pegawai yang hendak menitipkan barang dagangan. Dari segi pendapatan, kantin itu memang tidak pernah merugi. Namun, hal itu tidak serta merta mencerminkan kejujuran seluruh pegawai di dalamnya. Apalagi, tak semua pegawai memanfaatkan keberadaan kantin itu, apalagi pejabat dari tingkatan menengah ke atas. Untuk memenuhi keperluan, mereka kerap meminta bantuan office boy. "Jarang sekali pejabat turun langsung. Jadi, yang belajar jujur, ya tingkat bawah. Saya berharap, sesekali, perlu juga datang langsung ke kantin kejujuran ini," kata Yeni. ** KANTIN kejujuran di SMP Assalaam Kota Bandung, barangkali menjadi salah satu contoh sukses kantin kejujuran. Kantin yang luasnya hanya 3 x 2,5 meter itu tidak pernah sepi. Pada jam-jam istirahat, para murid berjubel membeli jajanan yang disediakan di sana. Meskipun tidak ada kasir yang menjaga, mereka tetap meletakkan uang dan jika perlu, mengambil uang kembaliannya sendiri. Merugi? Oh, tidak, malah untung. "Modal dari pinjaman sekolah sebesar Rp 6 juta sudah dikembalikan. Sekarang, omzet kami sudah Rp 6 juta setiap bulannya," kata Wakil Kepala SMP Assalaam Deden Syamsul Romly. Ia mengakui sempat ada beberapa anak yang melakukan praktik "darmaji", dahar lima ngaku hiji. Namun, ia menganggap hal itu sebagai kenakalan yang biasa dilakukan anak-anak. Tidak ada sanksi keras bagi mereka yang tidak jujur di kantin. "Awalnya disindir dulu. Kalau masih melakukan kesalahan yang sama sampai tiga kali, baru kami panggil. Tapi, dalam berbagai kesempatan, kami selalu mengingatkan anak-anak akan pentingnya berbuat jujur. Setiap ketitidakjujuran pasti akan mendapat balasan," tuturnya. Uniknya, di setiap sudut kantin tersebut dipasang kamera. Tapi, bukan kamera beneran, melainkan boongan. "Kamera" itu, kata Deden, cuma untuk mengingatkan bahwa apa pun perbuatan manusia tidak akan pernah lepas dari pengawasan. "Kami tahu itu kameranya boongan, tapi gimana ya, rasanya tuh emang seperti diawasi. Jadi, kalau mau tidak jujur itu takut," kata Novie Adi Restuti (14), murid kelas IX. Satu hal lagi, harga jual semua barang di kantin itu di bawah harga pasar. Sebab, sekolah ingin semua murid hanya jajan di sekolah. Dengan begitu, diharapkan kantin akan tetap diminati. (Catur Ratna Wulandari/"PR")*** Cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=61101

