Daur Ulang Sampah Plastik di Lhokseumawe Dilirik Perusahaan Dunia
/
 

Sugan we aya anu rek mem-followup.
kuring ngomporan yeuh he..he..he..



Kamis, 26 Maret 2009 | 20:23 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Khaerudin


LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com - Upaya daur ulang sampah plastik yang dilakukan 
Palapa Plastic Recycle Foundation, sebuah lembaga yang dibentuk 
masyarakat Lhokseumawe untuk mengatasi persoalan sampah plastik, kini 
mulai dilirik perusahaan pendaur ulang sampah plastik terbesar di dunia. 
Lembaga ini ditawari kesempatan mengekspor sampah plastik yang telah diolah.

Menurut Chairman Palapa Plastik Recycle Foundation (PPRF) Baharudin 
Sanian, yayasannya menampung berbagai sampah plastik yang dikumpulkan 
pemulung. Berbeda dengan agen barang bekas, yayasan ini menurut 
Baharudin , memberdayakan pemulung dengan cara membantu mereka 
mengetahui nilai ekonomis sampah plastik. Jika sebelumnya pemulung 
menyerahkan sampah plastik berbagai jenis dalam bentuk aslinya, yayasan 
membantu pemulung memisahkan berbagai jenis sampah plastik tersebut 
sesuai unsur kimianya masing-masing.

"Dengan cara membagi semua jenis sampah plastik menurut unsur kimianya 
masing-masing, secara langsung membuat harga jual sampah plastik 
tersebut meningkat. Dulu ketika pemulung menyerahkan sampah plastik 
dalam bentuk utuh dan berca mpur baur, dihargai oleh agen pengumpul 
hanya Rp 1000 perkilogram. Tetapi ketika sampah plastik tersebut mulai 
dibagi dan dikelompokan sesuai unsur kimianya, harganya meningkat 
berkali lipat," ujar Baharudin.

Dia mencontohkan, satu botol minuman bisa terdiri dari dua jenis sampah 
plastik yang berbeda, botol dan tutupnya. Ketika keduanya dipisahkan dan 
digabungkan dengan jenis yang sama, maka harga sampah plastik tersebut 
bisa lebih mahal dibanding saat pemulung menjual botol dan tutupnya tak 
terpisah. "Kami butuh waktu sampai dua tahun membuat pemulung tahu 
membedakan jenis-jenis sampah plastik," ujar Baharudin.

PPRF kini memiliki sebuah tempat penampungan dan pabrik pengolahan 
sampah plastik. Pabrik ini berfungsi menggiling sampah-sampah plastik 
yang telah dipisahkan ke dalam berbagai jenis, menjadi serpihan kecil 
atau plastic chips. "Kalau dijual dalam bentuk plastic chips ini, 
harganya lebih mahal lagi, " kata Baharudin.

PPRF menurut Baharudin sempat dibantu lembaga donor yang datang ke 
Lhokseumawe pascatsunami. Dari lembaga donor inilah, PPRF mendapatkan 
konsultasi bisnis dan dihubungkan dengan salah satu perusahaan pengolah 
sampah plastik terbesar di dunia yang berbasis di Hong Kong, Fukutomi.

Perwakilan Fukutomi telah datang ke Lhokseumawe dan tertarik dengan apa 
yang kami lakukan. Mereka meminta kami mengekspor sebesar dua kontainer 
sampah plastik yang telah digiling tersebut, ujar Baharudin sembari 
mengatakan, dalam sebulan PPRF bisa menjual 150 ton sampah plastik yang 
telah diolah ke pabrik pengolahan.

Namun upaya Baharudin dan PPRF mengatasi persoalan sampah plastik ini 
tak sepenuhnya didukung Pemerintah Kota Lhokseumawe. Mereka malah 
membebani PPRF agar membantu Pemkot menyediakan tempat sampah untuk 
berbagai jenis sampah berbeda.

"Padahal kami minta Pemkot agar mau mendidik masyarakat, membuang sampah 
dengan memilah jenisnya. Ini untuk membantu pemulung memungut 
sampah-sampah plastik, " ujar Public Outreach PPRF Surya Aslim. Surya 
mengatakan, upaya PPRF sebenarnya secara langsung telah membantu 
mengatasi persoalan sampah plastik di Lhokseumawe.

-- 
Sent NOT from my BlackBerry®
powered NOT by Sinyal Kuat INDOSAT/XL/whatever
***Gue gak punya blackberry, puas?!


Kirim email ke