Wisata Berlanja
Ramai "Mak Cik" Datang ke Bandung

Setahun ini, tingkat kunjungan wisatawan dari Malaysia meningkat
tajam. Murni mengandalkan informasi dari mulut ke mulut, tanpa promosi
dari pemerintah.

TAK sulit menemukan wisatawan asal Malaysia di Bandung, terutama di
Pasar Baru. Apalagi pada akhir pekan. Kita bisa dengan segera
mengenali mak cik dan pak cik di sana. Satu cirinya, berbelanja dalam
jumlah yang banyak.

Pelancong asal Malaysia memang mendominasi kunjungan ke Pasar Baru,
disusul turis asal Singapura dan Thailand. Berdasarkan catatan
pengelola Pasar Baru, pada Februari, sedikitnya terdapat 4.227
wisatawan asing yang berkunjung ke pusat perbelanjaan tersebut.
Biasanya, puncak kunjungan terjadi di ujung tahun, Desember. Pada
bulan itu, jumlah pengunjung naik dua kali lipat, menembus angka
delapan ribu orang. Data itu hanya berdasarkan jumlah bus yang datang,
belum termasuk para pelancong yang datang dari Jakarta dengan menyewa
mobil.

Semua bermula sejak dibukanya rute penerbangan Kuala Lumpur-Bandung,
setahun lalu. Bandung kian mudah dijangkau. Bayangkan saja, setiap
hari, terdapat tiga penerbangan yang membawa pelancong Malaysia masuk
ke Bandung. Pesawat jenis Boeing 737-300 yang berkapasitas 142
penumpang, selalu terisi 80% tiap kali terbang. Diperkirakan, setiap
hari, tak kurang dari 600 pelancong asal Malaysia yang masuk ke
Bandung. Sekitar 250-300 wisatawan langsung masuk ke Bandung, sisanya
melalui Jakarta.

Jumlah pelancong yang berkunjung ke kota ini, diperkirakan, bakal
bertambah seiring dengan dibukanya rute Singapura-Bandung. Tidak hanya
dari Asia Tenggara, tetapi juga dari Timur Tengah. Soalnya, banyak
maskapai penerbangan dari Timur Tengah yang masuk ke Singapura sebelum
ke Indonesia.

General Manager PT Angkasa Pura II Husein Sastranegara Bandung Mulya
Abdi mengatakan, selain yang sudah beroperasi, beberapa maskapai
mengaku tertarik untuk membuka rute penerbangan menuju Bandung. "Dulu,
banyak yang berpikir, bandara ini kecil sehingga maskapai minta kantor
saja susah. Sekarang tidak begitu. Kami akan usahakan semaksimal
mungkin," ujarnya.

Ia mengatakan, Bandara Husein Sastranegara masih sanggup menambah lima
slot penerbangan lagi. Namun, penambahan tersebut nantinya memerlukan
penjadwalan ulang.

**

KEGEMARAN turis Malaysia tidak jauh dari kegemaran orang Indonesia
jika melancong ke luar negeri, belanja. Sangat jarang turis Malaysia
mengagendakan kunjungan ke museum atau gedung bersejarah yang ada di
Bandung. "Saya dengar di sini banyak factory outlet. Jadi, habis dari
Pasar Baru, kami mau ke sana. Kami juga ingin ke Cibaduyut. Katanya di
sana banyak sepatu dari kulit," ungkap Siti Zaleha (41), wisatawan
asal Johor Bahru, Malaysia, yang melancong bersama enam anggota
keluarganya.

Lantas, dari mana mereka memperoleh informasi ihwal Bandung? Siti
mengaku tahu Bandung dari cerita kawan atau kerabat yang lebih dulu
berkunjung. Begitu pula pengakuan keluarga Moh. Zaimi, pelancong asal
Kuala Lumpur. "Mereka cerita soal Pasar Baru, Setiabudhi, Cibaduyut,
Cihampelas, dan kawasan factory outlet di Jalan Riau (Jln. L.L.R.E.
Martadinata, red.)," ungkap Zaimi.

Dari sekian banyak wilayah yang dikenal itu, ada tiga tempat yang
paling sering dikunjungi para pelancong, yakni Pasar Baru, Setiabudhi,
dan Riau. "Kalaupun ada tambahan tempat, paling, Saung Angklung Udjo.
Berdasarkan informasi dari para pemimpin tur, tujuan wisata bergantung
kepada permintaan turis itu sendiri," Sunardi Rustandi, Center Manager
Pasar Baru Trade Center.

Menurut dia, daya pikat wisata belanja di Kota Bandung terletak pada
harga, murah dan masih bisa ditawar. Berdasarkan hasil survei yang
dilakukan pada 2008, dalam satu hari, setiap keluarga pelancong
(terutama Malaysia) menghabiskan uang senilai Rp 10 juta untuk membeli
pakaian jadi, termasuk seprai dan bed cover.

**

YA, pelancong datang tanpa promosi yang gencar. Itu tadi, informasi
tentang Bandung diperoleh dari mulut ke mulut. Kalaupun ada promosi,
kata Sunardi, itu dilakukan para pelaku bisnis secara perseorangan.
"Biasanya, via internet. Soalnya, sebelum bepergian, wisatawan asing
terlebih dahulu mencari informasi melalui internet," katanya. Ia
berharap, ke depan, pemerintah bisa membantu berpromosi ke luar
negeri.

Sejumlah pelancong yang ditemui "PR" mengaku, sebenarnya, tak mendapat
informasi cukup mengenai Bandung. "Apalagi, wisatawan yang pertama
kali datang seperti saya. Oleh karena itu, saya cuma mengandalkan
informasi dari mulut ke muluti itu," kata Zaimi.

Ketua Badan Pembinaan dan Promosi Pariwisata Kota Bandung Yachya
Machmoed mengakui hal itu. Sebagai daerah tujuan, Kota Bandung belum
menampakkan performanya sebagai kota wisata. "Rambu-rambu jalan kurang
lengkap, pusat-pusat informasi bagi wisatawan belum optimal. Ini yang
harus dibenahi," tuturnya.

Soal ini, sebenarnya, PT Angkasa Pura siap membantu Pemkot Bandung.
Mereka mempersilakan pemkot untuk membuat semacam pusat informasi
wisata di Bandara Husein Sastranegara. "Asal bukan untuk tujuan
komersial, kami gratiskan. Tetapi begitu ada unsur komersial, ya tidak
bisa," ujar Mulya Abdi. Apalagi, kata dia, banyaknya wisatawan yang
berkunjung ke Bandung akan turut menguntungkan BUMN itu.

**

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Priana Wirasaputra
mengatakan, sarana informasi wisata akan menjadi salah satu fokus
pengembangan wisata tahun 2009. Pusat informasi bagi wisatawan akan
didirikan di pusat-pusat keramaian yang menjadi tujuan wisatawan
asing. "Selain di tujuan wisata, pusat informasi itu juga didirikan di
’pintu gerbang’ kota, seperti di bandara dan stasiun," ujarnya.

Selain pusat informasi, papan penunjuk arah juga akan dilengkapi.
Penunjuk arah yang saat ini sudah ada sering kalah oleh papan reklame
atau penunjuk arah yang dibuat oleh pelaku usaha swasta. Hal itu
memudahkan wisatawan menjelajahi objek wisata di Kota Bandung. "Ke
depan, kami berharap juga ada semacam peta wisata," ujar Priana.
(Catur Ratna Wulandari/"PR")***

Cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=67247

Kirim email ke