Mereka Harus Dimanja

KOTA Bandung kadung ditahbiskan sebagai surga berbelanja. Padahal,
masih banyak tempat di kota ini yang juga memiliki daya tarik. Potensi
itulah yang kini coba dikembangkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
(Disbudpar) Kota Bandung. Salah satunya adalah edutourism, wisata yang
sarat nilai pendidikan. Model ini, misalnya, akan menjual daya tarik
PT Pindad sebagai pabrik senjata, Biofarma (pabrik farmasi), dan PT
Dirgantara Indonesia (pabrik pesawat terbang).

Selain itu, Pemkot Bandung juga mencoba mengembangkan kawasan batik di
Cigadung dan kawasan lukis di Jalan Braga. "Ini patut diangkat,"
ungkap Kepala Disbudpar Kota Bandung Priana Wirasaputra.

Pengembangan objek wisata juga diarahkan melalui kerja sama dengan
pemerintah daerah di sekitar Kota Bandung, terutama Kab. Bandung dan
Kab. Bandung Barat. Apalagi, potensi wisata alam sebagian besar memang
berada di sana.

**

Ketua Badan Pembinaan dan Promosi Pariwisata Kota Bandung Yachya
Machmoed mengatakan, pengembangan wisata di Kota Bandung harus
mempertimbangkan selera wisatawan. "Misalnya, wisatawan Asia
(Malaysia, Singapura, dan Thailand) lebih menyukai wisata belanja.
Sementara, wisatawan Eropa lebih menyukai wisata sejarah,
gedung-gedung tua, museum dan beraneka ragam pertunjukan kesenian,"
ungkapnya.

Hal-hal semacam itulah yang harus ditangkap dengan baik. Dengan
begitu, pengembangan wisata tidak akan mubazir. Ia mencontohkan
berbagai festival budaya yang sering kali gagal mendatangkan
wisatawan. "Bagaimana bisa kalau masyarakatnya sendiri tidak tertarik.
Masyarakat harus senang dulu," ujar Yachya yang juga menjabat
Sekretaris Jenderal Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita).

Menurut dia, mempromosikan kegiatan yang belum jelas diminati cukup
menyulitkan sekaligus berisiko. Apalagi jika jadwalnya tidak
konsisten. "Kegiatan itu harus diinformasikan setahun sebelumnya,
tidak dadakan," katanya.

**

Yachya berpendapat, dibukanya jalur penerbangan ke Bandung berpotensi
membuka banyak peluang wisata. "Sekarang ini, mulai banyak wisatawan
luar negeri yang datang ke Bandung hanya untuk main golf. Ada juga
hanya untuk spa. Itu perlu dimanfaatkan. Memang, berasal dari kalangan
tertentu. Tapi, itu potensi juga," katanya.

Kalangan pebisnis asing juga mulai melirik Bandung untuk
menyelenggarakan rapat perusahaan. Hanya saja, Kota Bandung belum
memiliki ruang pertemuan yang memadai. Belum ada gedung yang mampu
menampung sekitar 5.000 orang. "Padahal fasilitas pendukung, seperti
hotel, sudah cukup," ujarnya.

Ia menambahkan, pada tahun 2009 ini, akan terjadi penambahan jumlah
kamar hingga 4.000 unit, dari hotel kelas melati hingga bintang lima.
Jika tidak ada kegiatan pemicu, ia khawatir, kondisi itu akan sekadar
menghasilkan perang tarif antarhotel. Akibatnya, pelayanan hotel yang
sudah memiliki standar akan menjadi korban. Jika hal itu terjadi,
bukan tidak mungkin, wisatawan akan lari.

Ternyata, pekerjaan rumah Pemkot Bandung di bidang pariwisata,
tampaknya, masih menumpuk. "Yang jelas, wisatawan harus dimanjakan,"
ujar Yachya. (Catur Ratna Wulandari/"PR")***

Cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=67246

Kirim email ke