Nu katoong ku uing mah, Mas Jakob jiga keur ngagiring opini yen Sunda teh subordinat ti Jawa. Aya sababaraha indikasi nu nujul ka dieu, diantarana artikel manehna:
1. Wayang cenah asalna ti Jawa, sabab cenah ari di Sunda mah boga Pantun 2. Sawah cenah asalna ti Jawa, sabab cenah ari di Sunda mah boga Huma 3. Pasar cenah asalna ti Jawa, sabab cenah ari di Sunda mah boga Leuit Naha enya eta teh jiga kitu? Cing ka nu ngarti geura ngadongeng ah. Der Ambu geura ka payun, hehehe. Kuring pribadi teu pati percaya kana klaim di luhur, dumasara kana sababaraha hal. Upama model wayang, sawah jeung pasar di tatar Sunda asalna ti Jawa, ari urang Jawa diajar timana? Naha urang jawa bisa kuma maneh? Kaduana, pangabutuh jelema ti waktu ka waktu tangtu robah. Upama urang jawa bisa mateakeun eusi huluna keur kaperluan hirupna, piraku urang Sunda teu bisa mikir oge keur nyaluyukeun pangabutuhna. (mh) 2009/4/4 Tata Noers <[email protected]>: > Naha leres eta ti Jawa Tengah, da dieu oge ( perancis ) aya pasar minngguan > teh , di lembur ( kota Sanary ) mah tiap Rebo, caket padamelan - kota Bandol > - mah tiap Salasa, di Six Fours mah saptu, janten seueur kota anu ngayakeun > pasar minggon- sanajan Super market aya di tiap juru. > Nu diical salian ti sayur mayur, buah buahan, oge masakan tradisi,minyak > jeung buah jaitun, oge pakean - baju ,sapatu - aya oge tukang sulap nu menta > bayaran bari ngurilingkeun topina - tos puguh nu ngagitar, atawa maen > accordeon mah, janten pasar teh rame. > > --- Pada Jum, 3/4/09, mh <[email protected]> menulis: > > Dari: mh <[email protected]> > Topik: [Baraya_Sunda] Jacok Klaim "Pasar Sunda Nguyang ti Jawa"? > Kepada: "Ki Sunda" <[email protected]>, "Baraya Sunda" > <[email protected]>, "Urang Sunda" <[email protected]> > Tanggal: Jumat, 3 April, 2009, 6:00 AM > > > > Pasar Tradisi > > Pada Mulanya bukan Sekadar Pasar > > > > KERAMAIAN itu tercipta dini hari dan, segera saja, menimbulkan > > kemacetan di Desa Rancapanggung, Kec. Cililin, Kab. Bandung Barat. > > Jalan yang tak begitu besar penuh sesak oleh orang dan kendaraan. > > Anehnya, sama sekali tak ada sumpah serapah di sana. Semua orang > > begitu enjoy, sama sekali tak terganggu. Menjelang siang, keramaian > > terurai berubah lengang. > > > > Ya, begitulah suasana Rancapanggung setiap Rabu, setiap hari pasar. Di > > luar itu, suasana desa begitu sepi karena keramaian bersimpul di lain > > tempat. > > > > Sejak dulu, masyarakat di (eks) Kewedanaan Cililin memberlakukan pasar > > yang setiap hari berpindah, dari lokasi satu ke lokasi yang lain. > > Uniknya, keadaan itu berlangsung sampai kini. "Memang sih ada beberapa > > pasar yang kemudian dibuat tiap hari. Contohnya, Pasar Batujajar, dulu > > kan cuma buka pada hari Jumat dan Senin. Lalu, Pasar Tagog Padalarang, > > dulu cuma hari Sabtu. Sekarang, kedua pasar itu sudah dibuka setiap > > hari," ungkap pengamat pasar di Kab. Bandung Barat Deden Saeful Anwar > > (32). > > > > Sesungguhnya, beberapa wilayah lain di Provinsi Jawa Barat, dulu, juga > > memberlakukan itu. Tetapi, banyak lokasi di wilayah lain itu justru > > sudah menjadi kawasan. Pasar Jumat di Purwakarta, misalnya, kini telah > > menjadi pusat kota. > > > > DKI Jakarta pun sebenarnya sempat memberlakukan pasar bergiliran > > seperti itu. Tetapi, kini, kawasan-kawasan pasar itu sudah tinggal > > nama, seperti Pasar Minggu, Pasar Senen, dan seterusnya. > > > > Tak hanya Pulau Jawa, pasar bergiliran juga terdapat di sejumlah > > daerah di Sumatra. Nanggroe Aceh Darussalam, misalnya, memiliki pasar > > bergilir yang diistilahkan sebagai uroe gantoe. Lalu, masyarakat di > > pedalaman Sumatra Selatan menamakan pasar jenis ini sebagai kalangan. > > > > ** > > > > LANTAS, dari mana semua itu bermula? Budayawan Jakob Sumardjo > > mengungkapkan, pasar bergilir itu, sebenarnya, berasal Jawa (Tengah). > > Masyarakat Jawa --yang berkebudayaan sawah-- sangat membutuhkan pasar. > > Sebab, mereka memproduksi sejumlah komoditas dalam jumlah besar > > sehingga perlu dijual ke luar kampung. "Sebaliknya, orang Sunda --yang > > berkebudayaan ladang-- tidak mengenal pasar. Soalnya, mereka sudah > > bisa memenuhi kebutuhan sendiri, melalui leuit," ungkap budayawan > > Jakob Sumardjo, Jumat (27/3). > > > > Dalam hal ini, kata dia, masyarakat Jawa menggunakan macapat kalima > > pancer, konsep yang berlaku di seluruh aspek kehidupan mereka. "Jadi, > > tidak hanya pasar, dalam membangun rumah atau pendopo pun, misalnya, > > mereka menggunakan konsep itu. "Harus terdiri atas empat tiang. Tiang > > kelima, yang seharusnya berada di tengah-tengah, ditiadakan. Itu > > sengaja dibuat demikian. Sebab, anggapan orang Jawa, pusat merupakan > > puncak dari segala-galanya. Tetapi, simbolnya terlihat dari puncak > > rumah atau pendopo yang lebih tinggi daripada bagian atap yang lain," > > katanya. > > > > Karena menggunakan konsep itu, tak heran jika kegiatan pasar > > diselenggarakan di lima kampung berbeda, setiap harinya, sesuai hari > > pasaran. Pasar Kliwon digelar di kampung pusat, Pon (kampung di > > utara), Legi ( kampung di selatan), Wage (kampung di timur), dan > > Pahing (kampung di barat). "Konsep pasar berpindah ini, sebenarnya, > > bertujuan untuk pemerataan saja. Ya, agar setiap kampung di wilayah > > itu mendapat giliran," katanya. > > > > Pakar Ekonomi Universitas Padjadjaran Ina Primiana menilai, dari sudut > > ilmu ekonomi, sebenarnya pasar bergilir itu tak ada bedanya dengan > > pasar menetap. Artinya, jumlah uang yang dikeluarkan oleh pembeli > > (juga yang akan diperoleh penjual) sama saja. "Namun, biasanya, hari > > pasar itu ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Selain itu, kalau > > di luar negeri, komoditas yang dijual memiliki ciri khas tertentu. > > Jadi, ada kreativitas di sana. Orang (yang bermaksud berdagang) akan > > berlomba-lomba membuat sesuatu yang bisa habis, nanti, pas hari pasar. > > Dia memiliki banyak waktu sehingga kualitas bisa terjamin," ujarnya. > > > > Itulah pula yang berlaku pada pasar bergilir dalam konsep Jawa. Setiap > > pasar memiliki keunikan tersendiri. Apalagi, setiap hari pasaran > > mewakili warna tertentu. Pon mewakili warna hitam, Legi (merah), Wage > > (putih), dan Pahing (kuning). Sementara Kliwon, sebagai pusat, > > mewakili semua warna. "Makanya, buah-buahan berwarna hitam, seperti > > manggis, hanya boleh dijual di Pasar Pon. Kalau rambutan hanya boleh > > dijual di Pasar Legi. Demikian seterusnya. Nah, sementara Pasar Kliwon > > bisa menampung seluruh komoditas," katanya. > > > > ** > > > > KONSEP macapat kalima pancer itu kemudian ditularkan --salah satunya-- > > ke masyarakat Sunda. Padahal, sebelumnya, orang Sunda sudah mengenal > > konsep tritangtu. Dalam hal ini, masyarakat Sunda "hanya" mengenal > > tiga kampung: kabuyutan (berada paling dalam), nagara (tengah), dan > > syara (berada di luar). Masyarakat ketiga kampung ini saling > > berhubungan. "Itu tadi, mereka tak mengenal pasar seperti di Jawa. > > Kendati demikian, ada juga subkomunitas yang aktif berhubungan dengan > > orang luar, termasuk jual beli. Ya, itu... orang kampung syara. > > Masyarakat kampung kabuyutan dan nagara ’membeli’ barang-barang dari > > masyarakat kampung syara," katanya. > > > > ** > > > > SEIRING perkembangan zaman, konsep pasar itu sekarang tinggal > > kenangan. Padahal, banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari > > keberadaan konsep pasar semacam itu. "Salah satunya menyambungkan > > silaturahmi, " ujar H. Abdurrahman (48), tokoh masyarakat Desa > > Rancapanggung, "Nya indung budak we ieu mah. Pas ameng ka pasar anu > > rada tebih, tiasa papendak sareng dulurna. Padahal, eta teh tos > > mangtaun-taun teu papendak. Ah, tos carang nganjang we lah". > > > > Satu hal lagi, pasar bergilir kerap menjadi pusat informasi buat > > warga. Informasi penting bisa dengan segera tersebar dari mulut ke > > mulut. "Ini tentu memudahkan aparat jika, misalnya, ada kebijakan yang > > harus diinformasikan kepada warganya. Begitu pula kalau ada informasi > > warga yang meninggal dunia dan sebagainya. Jadi, dulu, pasar itu tak > > sekadar pasar," katanya. (Hazmirullah/ "PR")*** > > > > cite: http://newspaper. pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade > tail&id=67673 > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! > Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! > http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/ > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > ------------------------------------ > > http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ > http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda > > > [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]Yahoo! Groups Links > > > >

