Asana aya nu teu pas dina ngajentrekeun perkara budaya di nagri deungeun. Conto 
soalna perkara China. China teh nembe "menggeliat" 5 taunan ieu, masih dalam 
taraf uji coba nerapkeun hiji budaya, teu acan ajeg sareng kabuktosan yen 
budaya nu ayeuna teh memang cocok sareng kaayaan nagri Cina. Komo deui ideologi.
Kuba nganut ideologi kominis, beda sareng ideologi sosialis anu dianut ku nagri 
sanesna di Amerika Latin. Rusia, anu tadina nganut komunis ayeuna jadi 
kapitalis, budaya mana anu cocok ngadukung ideologi anu dianut ku Rusia ayeuna?
Ceuk kuring mah, naon anu diserat dihandap, masih bersifat "debatable".

Budaya teh hiji hal anu sifatna terus "berubah & berkembang". Hiji waktu 
mungkin hiji budaya cocok pikeun nyanghareupan hiji masalah di hiji wewengkon. 
Tapi heunteu saendeng-endeng tiasa  cocok pikeun sagala jaman.
Budaya huma, mungkin cocok pikeun urang Kanekes. tapi can tangtu cocok pikeun 
wewengkon sejenna. 
Anu utama mah, kumaha carana sangkan urang tiasa "ngigelan jaman sareng 
ngigelkeun pajamanan". Jigana ieu pisan anu tos jadi "getih"na urang Amerika, 
Jepang, atanapi Cina.

baktos,

mrachmatrawyani


--- On Thu, 4/23/09, Maman Gantra <[email protected]> wrote:

From: Maman Gantra <[email protected]>
Subject: [Urang Sunda] Culture does Matter!
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Thursday, April 23, 2009, 4:53 PM











    
            
            


      
      


Kenging maling tina http://erwinwirawan .blogspot. com/2009/ 04/budaya- 
berpengaruh. html. Mugia mangpaat. Punten teu di-Sunda-keun.

Baktos,
Pun Maman


* * * * *





Posted by
Erwin Wirawan


at
 7:11 PM


Sartre: To be is to do -- Sinatra: Do be do be do










Wednesday, April 22, 2009



Budaya Berpengaruh!




Mengapa sosialisme cocok di Amerika Latin, sementara liberalisme sangat
cocok di Amerika Serikat (AS)? Mengapa orang Jepang berhasil dalam
produksi mobil, tapi tidak bisa menciptakan Microsoft dan Google?
Mengapa Cina berhasil dengan sistem politik diktator satu partai dan
pengembangan industri dengan kebijakan kawasan ekonomi khusus? Mengapa
Singapura dengan pemerintahan diktator cerdas adalah negara yang paling
inovatif di dunia? 

Jawabannya adalah kegiatan politik dan
ekonomi yang dikembangkan cocok dengan karakter budaya bangsa tersebut.
Culture does matter! 

Adalah Geert Hofstede pahlawan dari semua
pengetahuan ini. Dia melakukan riset perbedaan budaya di kantor cabang
IBM di 64 negara. Kemudian riset ini pada pelajar di 23 negara, pada
kelompok atas di 19 negara, pada pilot di 23 negara dan pada konsumen
kelas atas di 15 negara. 

Hasilnya adalah 5 dimensi budaya, yaitu:

1.
Power Distance/Jarak Kekuasaan menyangkut tingkat kesetaraan masyarakat
dalam kekuasaan. Jarak kekuasaan yang kecil menunjukkan masyarakat yang
setara. Semua pihak kekuataanya relatif sama.

2.
Individualism/ Individualisme vs Collectivism/ Kolektivisme menyangkut
ikatan sosial di masyarakat. Pada masyarakat yang individual setiap
pihak diharapkan mengurus dirinya sendiri dan keluarganya secara
mandiri.

3. Masculinity/ Maskulin vs Femininity/Feminin yang
menyangkut perbedaan gaya antara 2 jenis kelamin. Pada budaya maskulin
yang ditonjolkan adalah ketegasan dan kompetitif, sedangkan pada wanita
adalah kesopanan dan perhatian.

4. Uncertainty Avoidance/ Penghindaran Ketidakpastian yang menunjukkan rasa 
nyaman suatu budaya terhadap ketidakpastian. 

5.
Long-term Orientation/ Orientasi Jangka Panjang menyangkut pola pikir
masyarakat. Pada masyarakat yang beorientasi jangka panjang yang
ditonjolkan adalah sikap hemat dan ketekunan. 

* * *

Sosialisme
cocok dengan masyarakat Amerika Latin, karena masyarakat di sana memang
lebih menyukai kerja kolektif. Dari ukuran indeks individualisme
kebanyakan negara Amerika Latin menempati posisi terbawah. Ini sangat
kontras dengan Amerika Serikat (AS) yang berada di posisi teratas dalam
hal individualisme.

Jepang adalah negara paling maskulin yang
sangat cocok untuk iklim bisnis yang kompetisi dan efisien. Maka tak
heran Toyota akhirnya berhasil mengalahkan raksasa-raksasa industri
mobil AS. Namun bangsa Jepang tidak menyukai ketidakpastian, maka dari
itu tidak cocok untuk melakukan inovasi dasar. Sementara bangsa AS
menyukai ketidakpastian, maka dari itu inovasi-inovasi hebat berasal
dari AS. Google dan Microsoft hanya cocok tumbuh di AS. Dan bangsa yang
paling tinggi menyukai ketidakpastian adalah Singapura. Dan hasilnya
sekarang Singapura adalah negara yang paling inovatif di dunia.

Negara-negara
Asia cenderung memiliki indeks jarak kekuasaan yang tinggi, maka dari
itu pemerintahan yang berpusat pada seorang tokoh sangat cocok di
negara-negara ini. Sistem pemerintahan yang cocok adalah sistem yang
memberi kekuasaan yang besar kepada seorang tokoh. Ketika masyarakat
yang memiliki budaya yang tidak setara, maka pemberian tanggung jawab
menjadi tidak cocok. Budaya yang berlaku di sini adalah budaya menerima
petunjuk.

Cina dan Singapura adalah negara yang gampang menerima
ketidakpastian, maka kedua negara memiliki potensi untuk melakukan
inovasi dasar. Toh Cina menemukan banyak hal di jaman kuno seperti
kertas, mesiu dan kompas. Namun inovasi saat ini tidak mungkin
dilakukan individu secara sendirian. Inovasi adalah pertemuan-pertemuan
orang-orang cerdas dan riset-riset terdepan. Bill Gates tak akan bisa
menciptakan Microsoft jika perangkat keras komputer pribadi tidak
ditemukan.

Singapura bisa menjadi negara paling inovatif di
dunia karena negara ini sejak lama terbuka dalam pergaulan dengan
bangsa-bangsa lain, sementara Cina sudah lama menutup diri. Maka dari
itu ketika Cina dibuka oleh Deng Xiaoping, kawasan ekonomi khusus
diciptakan, investasi asing masuk, ekonomi Cina langsung bergerak. Dan
hampir dipastikan Cina akan berhasil membuat inovasi-inovasi baru
setelah pengetahuan dari Barat berhasil disadap. Saat ini Pemerintah
Cina mengijinkan Microsoft mengeluarkan sertifikat keahlian bagi
ilmuan-ilmuan Cina.

Faktor budaya juga bisa menjelaskan mengapa
bisnis AS sangat rentan mengalami krisis. Bisnis AS cenderung mengalami
krisis, karena faktor budaya bisnis di sana. Survei yang dilakukan
antara tahun 1995 – 2002 di 17 negara, pemimpin bisnis di AS dinilai
oleh junior manajernya di 16 negara yang lain sebagai orang yang
mengejar: (i) pertumbuhan bisnis, (ii) kekayaan pribadi, (iii)
keuntungan tahun ini dan (iv) kekuasaan. Intinya pemimpin bisnis AS
berorientasi jangka pendek. 

* * *

Pembangunan politik dan ekonomi Indonesia seharusnya memperhatikan aspek budaya.

Politik
Indonesia boleh sombong dengan demokrasi yang melibatkan banyak partai
politik, tapi esensi pelaksanaannya tetap saja menggelikan. Toh
akhirnya yang berpengaruh adalah ketokohan. Orang tidak memilih partai
dengan program terbagus, tapi tokoh yang dianggap dapat mengayomi. Ini
adalah cermin budaya masyarakat yang tidak setara, masyarakat dengan
indeks jarak kekuasan yang besar. Untuk mendapatkan hasil terbaik
politik Indonesia sebaiknya belajar dari politik Cina dan Singapura. 

Ekonomi
Indonesia sebaiknya saat ini tidak usah terlalu berfokus pada industri
besar yang menuntut delegasi wewenang kepada banyak pihak, karena
budaya Indonesia yang cenderung minta petunjuk. Sebagai gantinya
industri besar itu sebaiknya diberikan bagi pemain-pemain asing dengan
menyediakan kawasan ekonomi khusus seperti yang dilakukan Cina. Bangsa
Indonesia sebaiknya belajar dulu dari praktek terbaik dari berbagai
bangsa. Pengembangan industri seperti Toyota Kijang mungkin merupakan
praktek yang lebih baik daripada mengembangkan mobil nasional sendiri.

Saya
tidak tahu apakah budaya bisa diubah atau tidak. Mungkin bisa, namun
perubahan itu tidak mungkin dilakukan secara cepat. Jadi sebaiknya
gerak langkah politik dan ekonomi kita yang menyesuaikan diri dengan
faktor budaya yang berlaku saat ini.

* * * * *





Posted by
Erwin Wirawan


at
 7:11 PM 






























About Me


Erwin WirawanJakarta, Indonesia
Saya lahir di Pontianak, Kalimantan
Barat, pada 14 Juli 1971. Istri saya Tasmalaila Tarmizi seorang ibu
rumah tangga. Saya belajar Teknik Sipil di UGM sejak tahun 1990 dan
lulus tahun 1995. Saat ini bekerja di perusahaan konsultan sambil
meneruskan pelajaran di University of Google.

Maman Gantra

Jalan Salemba Tengah 51,

Jakarta 10440.

0812-940-5441


      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke