Dongeng lamun dilenyepan, sakapeung lain sadongeng-dongengna, sok aya 
pulunganeun. Nyanggakeun "lenyepan" GM kana drama Macbeth karangan Shakespare 
nu kasohor tea:

Tiga Nenek Sihir

Tempo, Senin, 27 April 2009

Tiga nenek sihir muncul di tepi jalan, ketika Jendral Macbeth dan Jendral 
Banquo melewati hutan yang gelap berkabut itu. Cuaca didera hujan dan guntur. 
Mereka dalam perjalanan pulang dari sebuah pertempuran yang berhasil. Setengah 
ketakutan setengah ingin tahu, mereka terpacak di depan ketiga makhluk aneh itu 
- tiga sosok yang mengelu-elukan Macbeth dengan gelar kebangsawanan yang tinggi,
seperti bagian dari sebuah ramalan yang dahsyat: bahwa Macbeth kelak bahkan 
akan disebut sebagai sebagai raja.

Pada detik itu, bagi perwira tinggi Skotlandia itu, masa depan tiba-tiba tampak 
berubah. Raja? Tahta? Benarkah puncak itu akan tercapai, jika mengingat, bahwa 
Duncan, raja yang diabdinya dan dibelanya dalam perang yang baru saja usai, 
masih kukuh berkuasa? Sahkah keinginan mencapai posisi itu, berada di kedudukan 
milik baginda?

Bagi saya, penting buat dicacat bahwa Macbeth, lakon Shakespare yang termashur 
ini dimulai dengan adegan tiga nenek sihir itu. Tiga perempuan yang ganjil, 
yang hidup disisihkan dari tata sosial dan percaturan kekuasaan, ternyata tak 
bisa diabaikan.

Justru mereka itulah yang pada akhirnya mengharu-biru tertib yang ada - dan 
tanpa melalui kekerasan. Di Skotlandia waktu itu tertib yang ada tak akan 
memungkinkan Macbeth bisa jadi raja. Adat yang berlaku tak membuka peluang bagi 
Macbeth untuk mengambil-alih tampuk. Tapi malam itu, di hutan berkabut itu, di
bawah cuaca buruk itu, tertib, adat dan lambangnya guncang.

Tapi bukan salah para nenek sihir itu jika tertib itu akhirnya jadi keadaan 
yang dibangun dengan pembunuhan. Sebab Macbeth, begitu ia merasa nasib akan 
menjadikannya seorang raja, ia pun segera menyisihkan sang takdir. Ia tak 
sekedar pasif menunggu sampai keberuntungan itu datang.

Ia bertindak menyingkirkan Duncan. Bukan karena petunjuk ketiga perempuan 
misterius di hutan itu bila ia membunuh sang Raja. Itu sepenuhnya inisiatifnya. 
Itu dorongan kehendaknya yang kian kuat. Ia bahkan tak perlu lagi dihasut 
isterinya untuk merebut kekuasaan. Ketika nujum mengatakan bahwa kelak yang 
akan menggantikannya sebagai penguasa adalah anak-cucu Jendral Banquo, Macbeth 
pun
diam-diam (bahkan tanpa memberi tahu isterinya) menyuruh agar sahabatnya dalam 
perang itu dibunuh. Banquo mati. Dengan itu Macbeth berharap nujum, atau 
"takdir", bisa dikalahkannya.

Tapi dengan itu semua terungkap bahwa manusia dan perbuatannya-lah yang akhirnya
menentukan. Takdir tak ada artinya. Tertib yang semula ditaati oleh seluruh
Skotlandia terbukti bukan tertib yang datang secara alamiah, bukan tatanan yang
ditentukan oleh langit. Kedudukan raja bukanlah sesuatu yang secara a priori
ditetapkan. Ia seperti kursi kosong yang bisa diisi siapa saja yang bisa
merebutnya. Tertib dan adat itu pada akhirnya dibentuk oleh ambisi, akal, dan
antagonisme manusia.

Apalagi yang diucapkan nenek sihir itu bukan nubuat: mereka tak pernah dihormati
sebagai para nabi. Wibawa mereka praktis tak ada. Ucapan mereka tak berdiri di
atas (dan terlepas dari) tafsir subyektif Macbeth sendiri. Dalam adegan ke-3
Babak I sang jenderal secara tak langsung menunjukkan hal itu. Ia menyebut
ketiga makhluk itu "imperfect speakers" yang cuma sebentar bicara dan kemudian
menghilang ke udara malam yang basah.

Itu sebabnya Macbeth bukan hanya sebuah cerita tentang ambisi. Drama ini juga
bercerita tentang kekuasaan yang tak tahu di mana mesti berhenti - dalam arti
berhenti menaklukkan yang lain. Kekuasaan itu jadi lingkaran setan karena ia
dimulai dengan kekerasan.

Sebelum akhirnya kekerasan itu membinasakan manusia, pada mulanya ia berupa
kekerasan terhadap misteri. Macbeth mencampakkan nujum tiga nenek sihir yang
sebenarnya diutarakan dalam bentuk puisi yang remang-remang dan belum selesai;
ia menggantikannya dengan tafsir dan rencana yang tegar; ia mengertikan
kata-kata para nenek sihir dengan harfiah. Ketika ketiga perempuan setengah gaib
itu meramal bahwa Macbeth hanya bisa dikalahkan oleh seseorang yang "tak
dilahirkan oleh perempuan," jenderal itu yakin tak akan ada manusia akan bisa
merubuhkannya. Padahal ternyata ada kemungkinan arti lain dari kalimat itu:
Macduff, orang yang akhirnya berhasil membunuh Macbeth, dulu tak dilahirkan
dengan cara normal. Ia bayi yang direnggutkan keluar setelah perut ibunya
dibedah.

Betapa malangnya Macbeth: ia ambisi yang lempang seperti tombak yang keras dan
menakutkan. Ia tak tahu bahwa selalu ada lapis yang tak akan tertembus olehnya.
Ketiga nenek sihir itu misalnya, yang tak pernah bisa diperintahkannya dan tak
pernah bisa penuh dimaknainya. Juga hutan yang gelap itu. Juga guruh dan cuaca
buruk itu.

Juga rasa bersalah yang tak bisa dilenyapkan. Isterinya merasa tangannya selalu
berlumur darah; tak ada minyak yang bisa membersihkannya. Macbeth sendiri
melihat hantu Banquo yang dibunuhnya datang malam-malam. Kian mengusik rasa
bersalah itu, kian paranoid pula ia jadinya, dan makin buas.

Lakon Macbeth akhirnya menunjukkan: betapa destruktifnya ambisi kekuasaan
politik ketika ia berkali-kali ingin menembus apa yang tak tertembus,
menaklukkan apa yang tak akan tertaklukkan, menghapuskan apa yang tak bisa
terhapuskan, ketika ia menyangka dunia bisa dikuasai seperti dalam markas
militer.

Maka biarlah di sini saya memperingatkan: Tuan bisa menculik, menyiksa,
menggertak - atau, sebaliknya membeli manusia dengan uang - tapi di balik
kehidupan selalu tersembunyi nenek-nenek sihir. Kalau Tuan tak tahu kapan harus
berhenti, Tuan akan bertaut dengan mala - yang buruk, yang busuk, yang keji,
yang akhirnya akan mengenai Tuan sendiri.

Goenawan Mohamad

Kirim email ke