ngeunaan arab saudi, ieu aya tulisan ulil ti milis jil (haha!)... al watan ge kasabitsabit
From: Ulil Abshar-Abdalla <[email protected]> Date: 2009/4/30 Subject: <JIL> "Prejudice" tentang Saudi Arabia Teman-teman, Penggambaran tentang Saudi Arabia sekarang ini cenderung negatif. Saudi seolah-oleh sebuah entitas yg statis, sama sekali tak berubah, dan hanya identik dg wahabisme. Sebetulnya ini tidak benar sama sekali. Citra tentang Saudi di Indonesia juga sangat dibatasi oleh sejumlah "stereotype" yg sudah klise, misalnya Saudi identik dg terorisme, gerakan salafi yg kaku, dsb. Citraan semacam itu sebetulnya tidak seluruhnya benar. Sejalan dengan modernisasi di banyak bidang di Saudi sekarang, sebetulnya terjadi banyak perubahan yg menarik yg jarang diketahui oleh dunia luar, termasuk perubahan di lapangan pemikiran. Contoh yg sangat baik adalah wawancara dg seorang pemikir Saudi, Ibrahim al-Bulaihi, di koran Ukaz dan di situs Elaf. Yang rajin membaca koran al-Watan yg dianggap liberal di Saudi, sebetulnya akan menjumpai banyak tulisan dan wawancara yg menarik dari para pemikir Saudi yg cukup liberal. Di bawah Raja Abdullah sekarang ini, memang terjadi perubahan pelan-pelan menuju kepada keterbukaan, terutama dalam wilayah pemikiran. Tentu saja perubahan pemikiran di Saudi akan memiliki pengaruh yg besar bagi dunia Islam, karena bagaimanapun negeri itu dianggap sebagai tempat tanah suci Islam. Untuk membaca wawancara dengan al-Bulaihi itu dengan lengkap, silahkan KLIK atau kunjungi alamat ini: http://www.elaph.com/Web/NewsPapers/2009/4/433121.htm Selamat menikmati! Ulil 2009/5/5 waluya2006 <[email protected]> > > > Ngawin bebenyit siga Syekh Puji di Arab Saudi? Geuning Di Arab Saudi oge > ayeuna kalakuan eta teh teu dipikaresep, boh ku pamarentah atawa kolompok > HAM (Sigana di Arab Saudi ge aya kelompok pembela HAM). Saperti beja > dihandap ieu: > > Akhir Kisah `Syekh Puji Arab Saudi' > > Zulfirman > > INILAH.COM, Kairo – `Syekh Puji Arab Saudi' mengikuti jejak langkah > rekannya di Semarang. Pernikahannya dengan bocah berusia delapan tahun > berakhir sudah. Tapi, masih banyak bocah cilik lainnya di sana yang > terkungkung perkawinan dengan lelaki jauh di atas usianya. > > `Syekh Puji Arab Saudi' sungguh terlalu. Agustus tahun lalu, laki-laki yang > kini berusia 50 tahun itu, menikahi gadis cilik berusia delapan tahun. Dia > memanfaatkan dua hal: tak adanya undang-undang yang mengatur batas bawah > usia perkawinan dan kemiskinan yang melanda keluarga sang gadis cilik. > > Saat perkawinan berlangsung, laki-laki itu memberikan hadiah 50 ribu riyal > (sekitar Rp 140 juta) kepada ayah gadis itu. Karena itu, banyak pula yang > menilai, sang ayah `menjual' putrinya seharga itu. > > Saat perkawinan itu terungkap ke hadapan publik, beragam kecaman muncul. > Kelompok pembela hak asasi manusia mengutuk perkawinan itu. Di dalam dan > luar negeri, pemerintah Arab Saudi menerima kecaman karena mengizinkan > perkawinan bocah cilik tersebut. Kecaman juga muncul dari Amerika Serikat, > sekutu Arab Saudi, yang melihat perkawinan itu jelas melanggar HAM. > > Sebenarnya, bukan tak ada upaya memisahkan gadis cilik itu dari lelaki > berusia 50 tahun itu. Ibu si gadis, menurut Al Arabiya, pernah mengajukan > permohonan cerai ke pengadilan di wilayah Oneiza. Tapi, permohonan itu > ditolak. Pengadilan menentukan gadis tersebut harus menunggu sampai akil > balig sebelum bisa mengajukan gugatan cerai. > > Toh, pada akhirnya, perceraian itu terjadi juga. Menurut pengacaranya, > Abdullah Al-Jeteli, kesepakatan perceraian telah tercapai di luar > pengadilan. Hanya, dia tak menyebutkan kapan persisnya perceraian itu > terjadi. > >

