KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Tukang ojek melayani penumpangnya saat melintasi jalanan berbatu di
Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat Minggu (15/3). Kondisi jalan
yang berat membuat tukang ojek harus membawa sepeda motornya ke bengkel
sekali seminggu. bahkan, paling lama dua tahun sepeda motor sebagai alat
untuk mencari nafkah itu harus diganti.
 Kamis, 7 Mei 2009 | 12:05 WIB

*Oleh: Dwi Bayu Radius, Agustinus Handoko, dan Adhitya Ramadhan*

*KOMPAS.com —* Mesin sepeda motor mulai menderu tatkala jalanan berbatu
belah menunggu di depan. Setelah sukses melalui tanjakan kecil di awal
perjalanan, guncangan makin terasa keras. Terasa nyeri di pantat.

Namun, Huseng (35) justru menggeber mesin sepeda motornya. Penumpang yang
duduk di jok belakang terus meringis menahan rasa khawatir, takut jatuh di
tengah jalan ketika tanjakan tak berhasil dilalui. "Sudah biasa. Memang
harus
berani," tuturnya menenangkan.

Iring-iringan empat sepeda motor tiba-tiba terhenti tepat di tengah kawasan
ladang. Gir depan salah satu sepeda motor rontok sehingga tenaga yang
dihasilkan mesin tidak bisa disalurkan oleh rantai ke roda ban belakang.

Segera saja pengendara sepeda motor itu berbalik arah turun mencari bengkel,
sekitar 5 kilometer jauhnya. Untung, jalan pulang menurun sehingga tanpa
bantuan tenaga mesin pun sepeda motor masih bisa melaju.

Masih tersisa tiga motor, sementara ada empat penumpang. Tanpa pikir
panjang, Mumud (42), pengojek lainnya, memanggil dua penumpang untuk
naik di jok belakang. Gila! Di jalan terjal berbatu yang amat berat itu,
satu sepeda motor dinaiki tiga penumpang, sama saja dengan menantang bahaya.

Mumud pun memacu sepeda motornya dengan kencang, meliuk-liuk menghindari
batu dan lekukan jalan. Berani karena biasa. Itulah keseharian para tukang
ojek yang biasa mengantar penumpang ke Kampung Dukuh, Desa Cijambe,
Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Tak ada angkutan pedesaan yang sanggup melintasi jalan menuju Kampung Dukuh.
Di sana hanya ojek yang beroperasi. Mereka pula yang kerap mengeluhkan
seringnya mengganti komponen sepeda motor karena rusak akibat dibawa
melintasi jalan berbatu.

Huseng mengatakan, terdapat dua desa yang harus ditempuh melalui jalan
rusak, yaitu Ciroyom dan Karangsari. Jika hujan turun, jalanan berlumpur dan
banyak kubangan. Ongkos sekali jalan ke Desa Karangsari Rp 50.000 atau Rp
100.000 pergi pulang.

Padahal, kalau saja kondisi jalan mulus, paling ongkos ojek pergi pulang ke
Karangsari hanya Rp 20.000. Jalan rusak menyebabkan laher (lager) roda
buatan dalam negeri seharga Rp 20.000 per pasang bisa diganti setiap minggu.

Selain itu, usia ban seharga Rp 125.000 per unit yang normalnya tiga bulan
menjadi satu bulan. Pelumas seharga Rp 35.000 per kemasan pun harus diganti
setiap tiga minggu dari masa pakai normal satu bulan.

Rusaknya jalan menuju Kampung Dukuh seharusnya tidak terjadi, mengingat
tahun 2008 Dinas Bina Marga Garut menitikberatkan penanganan jalan menuju
obyek wisata. Selama ini, Kampung Dukuh merupakan obyek wisata budaya yang
ada di Garut selatan.

Menurut Kepala Dinas Bina Marga Garut Atang Subarzah, anggaran untuk
infrastruktur 2009 hanya Rp 24 miliar atau sepertiga dari jumlah kebutuhan
2008 sebesar Rp 78 miliar.

Berdasarkan data Dinas Bina Marga Garut, panjang jalan kabupaten di Garut
827 kilometer. Sepanjang 236 kilometer di antaranya diprioritaskan untuk
diperbaiki karena kondisinya rusak berat. Jalan dengan kondisi sedang
mencapai 270 kilometer, sedangkan dengan kondisi baik sekitar 321 kilometer.

*Sulitkan petani *

Mumud mengatakan, hampir semua masyarakat Ciroyom dan Karangsari
menggantungkan hidup pada sektor perkebunan. Komoditasnya antara lain
pisang, mangga, singkong, dan ubi. Jika hendak menjual hasil panen, mereka
melintasi jalan berbatu- batu.

Jalan sekitar 7 kilometer harus ditempuh untuk memanggil pengepul.
Selanjutnya, pengepul akan membawa mobil bak terbuka untuk mengambil hasil
panen. Tidak efektif, tetapi petani enggan memiliki sepeda motor karena
pengeluarannya besar.

Jalan sulit di ruas antara lintas selatan dan Kampung Dukuh merupakan potret
kondisi infrastruktur di wilayah selatan Jawa Barat. Wajar kalau kondisi
infrastruktur jalan yang buruk menjadi pemandangan biasa di wilayah selatan
Jawa Barat.

Daerah itu memang hampir tak pernah tersentuh kendati rezim telah berganti
rezim. Sejarawan Universitas Padjadjaran Bandung, Nina Herlina Lubis,
mengatakan, pada masa invasi Kerajaan Mataram ke arah barat, wilayah selatan
tak terjamah karena kondisi geografis yang sulit.

Demikian juga ketika VOC yang agresif mengisap hasil bumi di Pulau Jawa,
wilayah selatan Jawa Barat juga masih tak tersentuh. "VOC hanya menyentuh
Palabuhanratu dan Cilacap. Sampai masa VOC berakhir pada tahun 1799, mereka
juga tak pernah sampai ke wilayah selatan Jawa Barat," ujar Nina.

Ketika Indonesia akhirnya menjadi negara berdaulat, wilayah selatan tetap
menjadi daerah yang tak mendapat perhatian. Belakangan ini, wacana
pengembangan wilayah selatan Jawa Barat mulai kencang berembus, diawali
dengan perbaikan dan peningkatan status jalan lintas selatan. Semoga wacana
itu bukan sekadar angin surga.

-- 
Aldo Desatura ® & ©
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

Kirim email ke