mugia bae pamimpin garut nu anyar mikiran eta..bari ngarealisasikeun jalan anu 
sae..mun henteu ? eta mah kumaha urang garut bae




________________________________
From: Aldo Desatura ™ <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]>
Sent: Thursday, May 7, 2009 3:14:45 PM
Subject: [Urang Sunda] Mereka yang Berjibaku Meretas Jalan... ( Wilayah Selatan 
JABAR )







KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Tukang ojek melayani penumpangnya saat melintasi jalanan berbatu di Kecamatan 
Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat Minggu (15/3). Kondisi jalan yang berat 
membuat tukang ojek harus membawa sepeda motornya ke bengkel sekali seminggu. 
bahkan, paling lama dua tahun sepeda motor sebagai alat untuk mencari nafkah 
itu harus diganti.
Kamis, 7 Mei 2009 | 12:05 WIB
Oleh: Dwi Bayu Radius, Agustinus Handoko, dan Adhitya Ramadhan
KOMPAS.com — Mesin sepeda motor mulai menderu tatkala jalanan berbatu belah 
menunggu di depan. Setelah sukses melalui tanjakan kecil di awal perjalanan, 
guncangan makin terasa keras. Terasa nyeri di pantat.
Namun, Huseng (35) justru menggeber mesin sepeda motornya. Penumpang yang duduk 
di jok belakang terus meringis menahan rasa khawatir, takut jatuh di tengah 
jalan ketika tanjakan tak berhasil dilalui. "Sudah biasa. Memang harus
berani," tuturnya menenangkan.
Iring-iringan empat sepeda motor tiba-tiba terhenti tepat di tengah kawasan 
ladang. Gir depan salah satu sepeda motor rontok sehingga tenaga yang 
dihasilkan mesin tidak bisa disalurkan oleh rantai ke roda ban belakang.
Segera saja pengendara sepeda motor itu berbalik arah turun mencari bengkel, 
sekitar 5 kilometer jauhnya. Untung, jalan pulang menurun sehingga tanpa 
bantuan tenaga mesin pun sepeda motor masih bisa melaju.
Masih tersisa tiga motor, sementara ada empat penumpang. Tanpa pikir panjang, 
Mumud (42), pengojek lainnya, memanggil dua penumpang untuk
naik di jok belakang. Gila! Di jalan terjal berbatu yang amat berat itu, satu 
sepeda motor dinaiki tiga penumpang, sama saja dengan menantang bahaya.
Mumud pun memacu sepeda motornya dengan kencang, meliuk-liuk menghindari batu 
dan lekukan jalan. Berani karena biasa. Itulah keseharian para tukang ojek yang 
biasa mengantar penumpang ke Kampung Dukuh, Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, 
Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Tak ada angkutan pedesaan yang sanggup melintasi jalan menuju Kampung Dukuh. Di 
sana hanya ojek yang beroperasi. Mereka pula yang kerap mengeluhkan seringnya 
mengganti komponen sepeda motor karena rusak akibat dibawa melintasi jalan 
berbatu.
Huseng mengatakan, terdapat dua desa yang harus ditempuh melalui jalan rusak, 
yaitu Ciroyom dan Karangsari. Jika hujan turun, jalanan berlumpur dan banyak 
kubangan. Ongkos sekali jalan ke Desa Karangsari Rp 50.000 atau Rp 100.000 
pergi pulang.
Padahal, kalau saja kondisi jalan mulus, paling ongkos ojek pergi pulang ke 
Karangsari hanya Rp 20.000. Jalan rusak menyebabkan laher (lager) roda buatan 
dalam negeri seharga Rp 20.000 per pasang bisa diganti setiap minggu.
Selain itu, usia ban seharga Rp 125.000 per unit yang normalnya tiga bulan 
menjadi satu bulan. Pelumas seharga Rp 35.000 per kemasan pun harus diganti 
setiap tiga minggu dari masa pakai normal satu bulan.
Rusaknya jalan menuju Kampung Dukuh seharusnya tidak terjadi, mengingat tahun 
2008 Dinas Bina Marga Garut menitikberatkan penanganan jalan menuju obyek 
wisata. Selama ini, Kampung Dukuh merupakan obyek wisata budaya yang ada di 
Garut selatan.
Menurut Kepala Dinas Bina Marga Garut Atang Subarzah, anggaran untuk 
infrastruktur 2009 hanya Rp 24 miliar atau sepertiga dari jumlah kebutuhan 2008 
sebesar Rp 78 miliar.
Berdasarkan data Dinas Bina Marga Garut, panjang jalan kabupaten di Garut 827 
kilometer. Sepanjang 236 kilometer di antaranya diprioritaskan untuk diperbaiki 
karena kondisinya rusak berat. Jalan dengan kondisi sedang mencapai 270 
kilometer, sedangkan dengan kondisi baik sekitar 321 kilometer.
Sulitkan petani 
Mumud mengatakan, hampir semua masyarakat Ciroyom dan Karangsari menggantungkan 
hidup pada sektor perkebunan. Komoditasnya antara lain pisang, mangga, 
singkong, dan ubi. Jika hendak menjual hasil panen, mereka melintasi jalan 
berbatu- batu.
Jalan sekitar 7 kilometer harus ditempuh untuk memanggil pengepul. Selanjutnya, 
pengepul akan membawa mobil bak terbuka untuk mengambil hasil panen. Tidak 
efektif, tetapi petani enggan memiliki sepeda motor karena pengeluarannya besar.
Jalan sulit di ruas antara lintas selatan dan Kampung Dukuh merupakan potret 
kondisi infrastruktur di wilayah selatan Jawa Barat. Wajar kalau kondisi 
infrastruktur jalan yang buruk menjadi pemandangan biasa di wilayah selatan 
Jawa Barat.
Daerah itu memang hampir tak pernah tersentuh kendati rezim telah berganti 
rezim. Sejarawan Universitas Padjadjaran Bandung, Nina Herlina Lubis, 
mengatakan, pada masa invasi Kerajaan Mataram ke arah barat, wilayah selatan 
tak terjamah karena kondisi geografis yang sulit.
Demikian juga ketika VOC yang agresif mengisap hasil bumi di Pulau Jawa, 
wilayah selatan Jawa Barat juga masih tak tersentuh. "VOC hanya menyentuh 
Palabuhanratu dan Cilacap. Sampai masa VOC berakhir pada tahun 1799, mereka 
juga tak pernah sampai ke wilayah selatan Jawa Barat," ujar Nina.
Ketika Indonesia akhirnya menjadi negara berdaulat, wilayah selatan tetap 
menjadi daerah yang tak mendapat perhatian. Belakangan ini, wacana pengembangan 
wilayah selatan Jawa Barat mulai kencang berembus, diawali dengan perbaikan dan 
peningkatan status jalan lintas selatan. Semoga wacana itu bukan sekadar angin 
surga.
-- 
Aldo Desatura ® & ©
============ ====
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata






      

Kirim email ke