Seksualitas Si Kabayan
Kompas.Sabtu, 4 April 2009 | 14:49 WIB

Oleh Atep Kurnia

Sebenarnya usaha untuk mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan telah
lama dilakukan. Dari penelusuran berbagai pustaka dan bacaan, saya
mendapatkan kesan bahwa Snouck Hurgronje (1857-1936) dan H Hasan
Mustapa (1852-1930) adalah yang mula-mula mengumpulkan dongeng Si
Kabayan.

Pada tahun 1889-1891, H Hasan Mustapa, sang penghulu besar Bandung,
bersama Snouck, sang penganjur politik asosiasi, melakukan penelitian
mengenai kehidupan Islam dan cerita rakyat di Pulau Jawa. Di antara
cerita rakyat yang mereka kumpulkan tentu saja termasuk
dongeng-dongeng lucu Si Kabayan. Atas pengumpulan dongeng Si Kabayan
tersebut, Lina Maria Coster-Wijsman menjadikannya bahan disertasi.
Begitu jauh menelusuri riwayat hidup Lina Maria Coster-Wijsman, hanya
sedikit yang terungkap. Ia dinyatakan lahir di Leiden dan dianggap
sebagai wanita pertama yang meraih gelar doktoral dalam bidang
folklor.

Adapun menurut data Wikipedia, pada 26 Februari 1919 ia menikah dengan
Dirk Coster (1889-1950), fisikawan Belanda yang turut menemukan unsur
hafnium (Hf) pada 1923. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai dua
putra dan dua putri (Hendrik, Ada, Els, dan Herman).

Disertasi Wijsman

Disertasi Nyonya Coster-Wijsman berjudul Uilespiegel verhalen in
Indonesie: in het Bizonder in de Soendalande. Disertasi tersebut ia
pertahankan di Universitas Leiden, Belanda, pada Jumat, 7 Juni 1929.
Disertasi ini kemudian dibukukan setebal 170 halaman pada tahun itu
juga oleh penerbit Santpoort: Mees. Yang dijadikan penelitian adalah
dongeng-dongeng Si Kabayan yang dikumpulkan Snouck dari Banten
selatan.

Kini disertasi Nyonya Coster-Wijsman sudah diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia oleh Koesalah Soebagyo Toer dengan judul Si Kabayan:
Cerita Lucu di Indonesia Terutama di Tanah Sunda. Buku itu diterbitkan
oleh PT Pustaka Jaya bekerja sama dengan lembaga ilmiah Belanda,
Koninklijk Instituut voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV), Jakarta,
pada Desember 2008.

Buku tersebut disusun menjadi empat bab, yaitu Bab I "Daftar Isi dan
Catatan", Bab II "Teks", Bab III "Masyhudulhak", dan Bab IV "Abu
Nawas". Pada Bab I, Nyonya Coster-Wijsman mencatat dan meringkas 134
dongeng Si Kabayan yang dikumpulkan Snouck, ditambah sebagian kecil
dari RA Kern dan R Satjadibrata. Adapun pada Bab II ditampilkan 80
teks utuh berbahasa Sunda berisi dongeng Si Kabayan.

Si Kabayan memang terkenal sebagai orang lucu nomor wahid di Tatar
Sunda. Namun, dari jumlah cerita Si Kabayan yang diteliti Nyonya
Coster-Wijsman, ternyata ada dongeng yang menyangkut sisi seksualitas.
Pada Bab I ada 42 ringkasan yang di dalamnya mengandung sisi-sisi
seksualitas Si Kabayan. Adapun pada Bab II disajikan 33 teks utuh yang
berkaitan dengan seksualitas Si Kabayan.

Apa dan bagaimana seksualitas dalam cerita Si Kabayan di buku tersebut
ditampilkan dan apakah masuk dalam kategori pornografi? Bagaimana
orang menanggapinya?

Keyakinan Ayatrohaedi

Ayatrohaedi (1939-2006), guru besar Universitas Indonesia, pada buku
yang bertajuk Seks, Teks, Konteks: Tubuh dan Seksualitas dalam Wacana
Lokal dan Global (2004:121-140) menjawabnya. Di dalamnya ia menulis Si
Kabayan: Cawokah atau Jorang?.

Pertama-tama Ayatrohaedi menelusuri arti pornografi. Seraya mengutip
Ensiklopedi Nasional Indonesia (1990.13:337-40) ia menerangkan bahwa
pornografi adalah penyajian tulisan, patung, gambar, foto, gambar
hidup (film), atau rekaman suara yang dapat menimbulkan nafsu berahi
dan menyinggung rasa susila masyarakat.

Selanjutnya, sastrawan Sunda dan Indonesia yang akrab disapa Mang Ayat
itu menerangkan perihal dua kata Sunda yang mengacu pada seksualitas,
tetapi dalam penggunaannya sering dirancukan, yakni kata cawokah dan
jorang.

Menurut dia, ada nuansa lain dari kedua kata tersebut. Cawokah
digunakan untuk pelisanan kata-kata terlarang atau harus dibalibirkeun
sebagai sesuatu yang wajar. Karena lahir dari masyarakat yang tidak
terlalu ketat memerhatikan dan mempertimbangkan kesantunan berbahasa
di kalangan mereka, yakni lingkungan masyarakat pedesaan dengan
pendidikan cukup rendah, mereka mengucapkan kata-kata, termasuk yang
dianggap tabu, tanpa beban. Hal itu tidak pernah menjadi masalah di
antara mereka.

Sementara kata jorang, menurut pengarang buku Hujan Munggaran (1960),
Kabogoh Tere (1967), dan Pamapag (1972), ini lebih masuk kategori
pornografi dengan syarat hal itu disertai pemerian atau penggambaran
yang dapat menyebabkan orang lain mungkin agak terangsang atau
terbangkit gairahnya.

Alhasil, menurut Mang Ayat, dongeng-dongeng Si Kabayan termasuk
cawokah, tetapi tidak jorang. Hal tersebut dapat dipahami bila teks
tersebut dikaitkan dengan konteks yang melahirkannya. Sebagaimana yang
disebut, dongeng Si Kabayan dalam disertasi Nyonya Coster-Wijsman
berasal dari daerah Banten selatan. Daerah ini, menurut Mang Ayat,
merupakan daerah yang sama sekali tidak pernah terkena pengaruh
peradaban dan kebudayaan Jawa, yang antara lain membawa kehalusan budi
dalam wujud bahasa.

Kehalusan budi bahasa berarti undak usuk bahasa atau halus-kasar
bahasa Sunda yang terpengaruh budaya Jawa. Dalam hal ini pada
masyarakat Banten selatan hampir tidak ada kata-kata lemes (halus).
Kalaupun ada di antara mereka yang mengenal kata halus, hampir dapat
dipastikan pengetahuan itu mereka peroleh melalui lembaga sekolah atau
persentuhan bahasa dengan penutur bahasa dari dan di tempat lain.

Oleh karena itu, di lingkungan masyarakat Banten selatan yang masih
"polos" seperti itu pelisanan kata, yang bagi masyarakat lain
diupayakan dibalibirkeun, dengan demikian tidak diperlukan. Demikian
kesimpulan Mang Ayat yang wafat di Sukabumi pada 18 Februari 2006.
Alhasil, Si Kabayan tidak melulu terkesan lucu. Sebab, ada sisi lain
yang mungkin harus kita gali kembali, yakni segi seksualitas atau sisi
sufismenya, mengingat di dalam disertasi itu pun ada dongeng Si
Kabayan yang bersifat sufistik. Namun, yang terpenting adalah kearifan
saat menghadapinya, layaknya Ayatrohaedi menghadapi disertasi Nyonya
Coster-Wijsman.

ATEP KURNIA Pegiat pada Sawala Bulanan Pusat Studi Sunda

Kurnia, Atep

Dapatkan artikel ini di URL:
http://entertainment.kompas.com/read/xml/2009/04/04/14495168/.Seksualitas.Si.Kabayan

Kirim email ke