Pola Mengajar Guru Berorientasi pada Teori
Pengajaran Bahasa Indonesia Masih Salah

BANDUNG, (PR).-
Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar hingga menengah atas di
Indonesia selama ini salah. Pasalnya, pengajaran tersebut masih
berkutat pada tataran teoritis yang berimbas kepada lemahnya aplikasi
bahasa dan produktivitas menulis anak bangsa.

Demikian diungkapkan akademisi dan ahli bahasa dari Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Chaedar Alwasilah dalam "Seminar
Internasional Bahasa dan Pendidikan Anak Bangsa" di Hotel Grand Aquila
Bandung, Selasa (26/5).

Menurut dia, di Jepang, Korea, dan Skotlandia, bahasa negara setempat
tidak lagi diajarkan pada tingkat perguruan tinggi (PT), tetapi cukup
hingga sekolah menengah atas (SMA). Ketika seseorang akan mengambil
kepakaran bahasa, barulah bahasa tersebut menjadi mata kuliah yang
wajib diambil.

"Tapi kalau di Indonesia, di perguruan tinggi pelajaran bahasa
Indonesia tetap diajarkan karena sebenarnya pengajaran sejak SD sampai
SMA-nya belum benar. Tapi ketika diajarkan di PT pun tidak benar
karena hanya mengulang pelajaran SMA," katanya.

Dari hasil penelitiannya, Chaedar mendapatkan 40% dari seratus
mahasiswa Pascasarjana UPI menyatakan bahasa Indonesia sebagai mata
kuliah dasar umum yang paling tidak menarik saat strata satu.
"Artinya, selama ini mereka mengikuti mata kuliah itu karena sekadar
kewajiban," tuturnya.

Dalam penulisan materi makalah pun, kata dia, mahasiswa cenderung
tidak lancar. "Sementara dosen kurang menghiraukan. Mereka lebih
mementingkan substansinya," katanya.

Lebih jauh, Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UPI itu
mengatakan, berdasarkan hasil penelitian World Bank, produktivitas
menulis para doktor Indonesia lulusan luar maupun dalam negeri, tidak
jauh berbeda. Produktivitas menulis doktor di Indonesia itu masih jauh
tertinggal jika dibandingkan dengan Vietnam.

"Padahal, Vietnam itu merdekanya lebih lambat daripada Indonesia. Itu
karena untuk membentuk karakter yang produktif menulis, harus dipupuk
sejak SD hingga SMA tadi. Seharusnya dikonsepkan academic writing,
misalnya membuat makalah, artikel koran, cerpen, dan mengkritisinya,
bukan pada teori saja," katanya.

Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Dendy
Sugono menuturkan, akar masalah pengajaran yang masih mengutamakan
teori tersebut adalah cara kerja guru yang masih menganut pola lama.
"Sebenarnya sejak 1974, kurikulumnya sudah berorientasi pada bagaimana
menggunakan bahasa. Tapi, guru merasa bodoh kalau tidak mengajarkan
teori. Kemudian mereka masih menerapkan pola mengajar seperti yang dia
peroleh saat kuliah," ujarnya.

Direktur Pendidikan Masyarakat Depdiknas Ella Yulaelawati pun
sependapat dengan Chaedar. Menurut dia, metode pembelajaran
komunikatif kurang diajarkan, terutama kepada calon guru. "Selama ini
yang dipelajari hanya pada tata bahasa, tidak kepada komunikatifnya.
Seharusnya ada klub-klub yang mengembangkan keaksaraan kritis,"
tuturnya. (A-167)***

Cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=77465

Kirim email ke