Menata Sisi Timur Alun-Alun Bandung
Oleh: Jamaludin Wiartakusumah
Tuntutan terhadap kawasan Alun-alun Kota Bandung untuk dapat berperan
multifungsi, seperti kita saksikan sekarang, diselesaikan dengan pendekatan
desain modern yang kompak. Alun-alun sekarang terdiri dari taman di bagian atas
dan lahan parkir di bagian bawah. Sementara bagian baratnya dipakai perluasan
Masjid Agung Bandung yang sekarang berubah namanya menjadi Masjid Raya Jawa
Barat. Di tengahnya terdapat kolam hias dengan air mancur dan air terjun.
Bila dilihat definisi atau menurut asal-usulnya, Alun-alun Kota Bandung
sesungguhnya telah lama pensiun. Yang memenuhi definisi alun-alun dalam
pengertian tradisional sekarang adalah Gasibu, yaitu lapangan terbuka di depan
kantor pemerintahan tempat digelarnya berbagai acara termasuk pertunjukkan
kesenian. Alun-alun Bandung sekarang menjadi semacam 'taman gantung' yaitu
taman di atas bangunan atau permukaan lantai buatan.
Dinamika Kota Bandung
Dinamika kota seperti yang terjadi di Kota Bandung sering menjadi ironi bagi
kota itu sendiri. Di bagian lain kota, gedung komersial bermunculan, merubah
kawasan pemukiman menjadi area bisnis. Sementara itu, di kawasan komersial
lama, banyak pertokoan dan gedung pertokoan yang akhirnya tutup karena tidak
mampu lagi menarik pengunjung. Seperti beberapa toko di jalan Asia Afrika, ruko
di bekas Penjara Banceuy, Tamblong, kawasan legendaris Braga dan bahkan sekitar
Alun-alun Bandung.
Gedung pusat pertokoan pertama di Kota Bandung, Miramar yang berlokasi di sisi
timur Alun-Alun Bandung, sudah lama tamat masa kejayaannya dan sekarang tinggal
bekasnya saja. Demikian pula gedung Palaguna di sampingnya yang tampaknya sudah
mulai memasuki masa persiapan pensiun. Renovasi alun-alun tampaknya tidak
berhasil memberi darah baru bagi keberlangsungan pusat pertokoan Palaguna.
Lokasi strategis, yang konon satu-satunya rumus keberhasilan bisnis properti
termasuk bangunan komersial, di Kota Bandung tampaknya dijangkiti faktor jenuh
yang membuatnya kemudian lumpuh.
Kawasan Alun-alun yang pernah demikian strategis -secara tradisional pernah
menjadi pusat Kota Bandung- ternyata tidak berhasil menjaga kelangsungan pusat
perdagangan di sekitarnya. Kawasan itu sepertinya tidak dapat bertahan dan
menang dari ketatnya persaingan dengan kawasan lain Kota Bandung yang terus
tumbuh. Kehadiran pusat perbelanjaan di bekas terminal Kebon Kalapa yang tidak
terlalu jauh dari kawasan Alun-alun, sedikit banyak menjadi pesaing baru atau
bahkan mengurangi peran pusat pertokoan di kawasan Alun-alun.
Pertumbuhan kota ke segala arah dibarengi tumbuhnya pusat-pusat perbelanjaan di
berbagai kawasan, selain berhasil menyebarkan konsentrasi warga kota,
pengunjung dari luar kota dan kemacetan, juga menciptakan pusat-pusat baru yang
mereduksi peran alun-alun sebagai pusat perdagangan. Pertanyaannya sekarang
adalah bagaimana menghidupkan kembali bangunan-bangunan komersial itu kemudian?
Memulihkan peran sisi timur Alun-alun sebagai kawasan perdagangan tanpa nilai
tambah lain tampaknya akan menghadapi tantangan berat mengingat di kawasan
lain, yang juga berarti lebih dekat dengan kawasan pemukiman tertentu,
bermunculan pusat perdagangan dalam bentuk yang lebih modern seperti mal atau
plasa.
Mengubah menjadi hotel biasa juga tampaknya bukan solusi yang potensial,
mengingat pembangunan hotel baru di kawasan lain kota Bandung yang lebih
strategis terus bertambah. Diperlukan solusi lain yang mampu mengisi celah yang
masih terbuka dengan pemain di sektor sejenis yang masih langka agar dapat
bersaing dengan baik.
Pusat Rekreasi Kota
Tempat rekreasi di luar ruang di Kota Bandung masih dapat dihitung dengan jari.
Diantaranya Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution di depan markas Kodam
III/Siliwangi dan Kebun Binatang Tamansari. Kenyataan ini ditambah dengan masih
sangat minimnya lahan berupa taman. Dengan begitu, kehadiran taman rekreasi
luar ruang di dalam kota Bandung masih potensial. Kawasan timur Alun-alun,
bekas Miramar, Palaguna dan di lahan kosong sisi timur sungai Cikapundung ideal
untuk taman seperti itu.
Model taman rekreasi itu, dengan besaran lahan yang relatif sama, bisa
mengambil contoh semacam Taman Ria di Senayan Jakarta, atau contoh di luar
negeri, antara lain Tivoli di Kopenhagen Denmark. Dari segi lokasi, Taman Ria
Senayan terletak di samping kawasan gedung DPR/MPR dan Tivoli berada di
seberang Balaikota dan Alun-alun Balaikota (Radhuspladsen) Kopenhagen.
Salah satu yang khas dari taman rekreasi di kedua tempat itu adalah adanya
permainan mekanik dan elektronik seperti roller coaster, korsel (komidi putar),
yang bila dirunut dari sejarahnya, tampaknya berasal dari tradisi hiburan di
pasar malam.
Hiburan jenis ini tampaknya makin marak di dunia serta dikembangkan dalam
berbagai bentuk dan tempat. Roller Coaster, misalnya, dibuat dalam berbagai
ukuran dan tidak lagi hanya terdapat pada taman hiburan konvensional, tetapi
juga ditempatkan pada puncak hotel, seperti yang terdapat di Las Vegas, Amerika
Serikat. Di tepi Sungai Thames, korsel vertikal raksasa tampak menghiasi
cakrawala kota London, Inggris. Model lain adalah menggabungkannya dengan pusat
perbelanjaan seperti terdapat di beberapa mal di Jakarta dan di Bandung
Supermal.
Gedung Palaguna dapat disulap menjadi bagian integral dari taman rekreasi itu.
Sebagai tempat untuk berbagai permainan dalam ruang, permainan ketangkasan
(vending machine), pusat jajan serba ada, juga dapat digelar toko suvenir khas
Kota Bandung termasuk produk industri kreatif dari distro. Atau, bila posisi
Palaguna akan dikembalikan sebagai pusat pertokoan, fasilitas hiburan seperti
itu di sampingnya akan menjadi daya tarik dan salah satu nilai jual.
Sepotong badan sungai Cikapundung di belakang gedung Palaguna, dapat diperluas
ke lahan kosong di sisi timur sehingga menciptakan situ kecil yang dapat
dijadikan wahana rekreasi air semacam arung jeram, kano atau perahu kecil.
Untuk kenyamanan pengunjung yang memarkir mobil di bawah alun-alun, dapat
dibuat terowongan ke Gedung Palaguna.
Kehadiran taman rekreasi jenis itu selain akan menghidupkan
kembali Gedung Palaguna dan memanfaatkan lahan di sisi timur Cikapundung yang
bertahun-tahuan terbengkalai, juga dimungkinkan tersedia ruang bagi kawasan
hijau dengan pohon peneduh. Apalagi alun-alun sekarang tidak memungkinkan
tanaman keras tumbuh tinggi karena berlantai beton. Nyanggakeun!
Jamaludin Wiartakusumah
Dosen Desain Itenas Bandung
dimuat Kompas Jawa Barat hari ini, Rabu 27 Mei 2009