"Laskar Pelangi" dari Bojonggambir SELAIN kumuh, langit-langit sebagian besar ruang kelas I, II, III Sekolah Dasar (SD) Tenjowaas, Kampung Cikawung Baju Beureum, Desa Girimukti, Kec. Bojonggambir, Kab. Tasikmalaya, sudah lapuk, bocor, bahkan rapuh seperti akan runtuh. Jika tiba-tiba turun hujan saat sedang belajar, murid-murid bergeser ke depan kelas menghindari tetesan air.
Kegiatan belajar-mengajar menjadi tidak nyaman dan senantiasa diselimuti ketakutan. Takut langit-langit kelas runtuh. Pemandangan ini wajar, karena sejak tahun 1982, bangunan ini tak tersentuh renovasi. Hal itu berbeda dengan ruang yang ditempati murid kelas IV, V, VI, serta ruang guru dan kepala sekolah yang kondisinya masih bagus, karena pernah direnovasi pada 2004. Itu pun gara-gara ada bagian dari bangunan SD yang "terbang" disapu angin pada 1985. Selain memprihatinkan, lokasi SD Tenjowaas ini pun cukup jauh, sekitar 180 km dari Kota Tasikmalaya. Untuk mencapai sekolah tersebut bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Akan tetapi, sekitar sebelas kilometer menjelang sekolah, jalan mulai berbatu bercampur lumpur merah, pengendara sepeda motor harus ekstra hati-hati. Namun, siapa sangka dari sekolah terpencil dan memprihatinkan tersebut, telah menghasilkan sesosok guru yang penuh pengabdian terhadap dunia pendidikan. Atih Kurniati (48), adalah salah seorang guru di sekolah tersebut yang mendapat penghargaan Satya Lencana Pendidikan, yang diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada acara Peringatan Hardiknas di Sabuga Bandung. Dedikasi Atih mengingatkan kita kepada sosok ibu guru Halimah dalam film "Laskar Pelangi". Kamis (28/5) siang itu, di ruang guru, para guru dan Kepala SD Tenjowaas, tengah mendengarkan cerita Atih saat dia menerima penghargaan dari Presiden. ** Ketika ditempatkan di SD Tenjowaas pada tahun 1982, Atih ingin berontak. Sebagai wanita lajang, saat itu dirinya tidak pernah bermimpi bakal ditempatkan di daerah terpencil, jauh dari keluarganya. Akan tetapi, dia berusaha bertahan walaupun dengan kondisi yang serbaminim. Satu tahun berlalu, kecintaan mengajar di SD Tenjowaas mulai tertanam sejak hatinya tertaut kepada pemuda yang akhirnya menjadi suaminya, Sulaeman. Wanita asal Kampung Sindang Lengo, Desa Sukamaju Kidul, Kec. Indihiang, Kota Tasikmalaya itu, kini sudah dikarunia tiga putri yakni Elis Kurniasari, Euis Yulianti, dan Sri Dewi , serta dua cucu. Pada awalnya, Atih mengajar di tiga kelas dalam sehari, namun dalam kondisi tertentu terpaksa harus memegang enam kelas dalam sehari karena ada rekannya yang cuti Kini tugasnya mulai berkurang, setelah pihak sekolah merekrut tenaga sukarelawan dan menambah tenaga guru baru. Semuanya ada delapan guru dan seorang kepala sekolah untuk mengajar sebanyak 101 murid. Dengan penghidupan yang pas-pasan dari gaji sebagai guru golongan IV A, dirasakannya cukup untuk hidup di daerah terpencil. "Asal kita dekat dengan tetangga, kalau mau masak sayur-sayuran tingga minta ke tetangga. Kalau dulu saya masih minta kiriman garam kepada ibu dari kota," ungkap Atih. Atih sudah mengalami enam kali pergantian kepala sekolah. Bahkan, murid-muridnya pun sudah ada yang menjadi guru pula, serta ia pun kini mengajar cucu-cucu mantan muridnya. Namun, dukungan pemerintah terhadap sekolah dirasakan masih minim. "Saya mengharapkan gedung sekolah diperbaiki lengkap dengan WC-nya. Sekolah kami sekarang tidak mempunyai WC. Jadi kalau ada yang kebelet terpaksa lari ke tetangga, sedangkan murid-murid cukup di kebun saja," katanya. (Cecep SA/"PR")*** Cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=77892

