http://www.tgj.co.id/detilberita.php?id=2772
Urang Sunda Berjalan Kaki dari Jakarta ke Aceh Junaidi | The Globe Journal “Sementara itu begitu memasuki perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara, masyarakat Aceh mencurigainya sebagai intel TNI/Polri, “Pernah ada masyarakat Aceh yang bertanya kepada saya apakah saya intel atau bukan, tidak hanya masyarakat, polisi pun mencurigai saya sebagai intel,” BERJALAN kaki dari Jakarta ke Aceh tentu pekerjaan yang boleh dikatakan gila. Namun tidak bagi Ahmad Novel Alatas (30), setelah berjalan kaki dari Tugu Proklamasi, Jakarta pada 15 Desember 2008, akhirnya 31 Mei 2009 dirinya menapakkan kaki di Tugu Kilometer Nol Kota Sabang Provinsi Aceh, “Perjuangan Menembus Batas,” itulah tekad urang (orang) Sunda. Pria yang tinggal di Kramat, Sentiong, Jakarta Pusat berangkat dengan bekal makanan dan uang seadanya, makan nasi kecap sekali sehari, pria keturuan Arab-Sunda ini, memulai perjalanannya dari Jakarta, Banten, Lampung, Jambi, Padang, Medan Sumut dan Aceh, tanpa memanfaatkan jasa angkutan apapun. Ia melakukan dengan kakinya sendiri. “Kepada orang tua saya bilang, akan pergi mendaki gunung, Tapi orang tua saya paham, saya memang suka mendaki. Yang tidak diketahui orang tua saya adalah, saya berjalan kaki keliling Sumatera,” ungkapnya. Pengakuannya kepada The Globe Journal saat ditemui di Markas Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Leuser Unsyiah, Selasa (9/6) setiap daerah yang disinggahi, dirinya menginap selama dua minggu untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga. “Setiap saya singgah di Ibukota provinsi saya menumpang di tempat teman-teman Mapala untuk beristirahat,” ungkapnya. Pria berambut kribo dan berbaju kumal tersebut mengaku berjalan kaki dari Jakarta – Aceh hanya untuk membuktikan bahwa dengan berbekal kemauan semua bisa dilakukan manusia. Novel bukan mahasiswa pecinta alam, ia adalah seorang yang tidak menamatkan bangku pendidikan SMA, kemudian tertarik mencari pengalaman dengan melihat alam. “Di dalam hidup, kita harus berjuang. Menembus batas-batas dalam kemampuan kita,” ujarnya berfilosofi. Perjuangan menembus batas, telah dilakukannya dengan jalan kaki. Bungsu empat bersaudara ini, bukan pertama kali melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Selama 6 bulan, ia melangkahkan kakinya dari Jakarta menuju Bali, setahun yang lalu. Barangkali, tak bisa membayangkan, pria bertubuh kecil, rambut panjang keriting, mampu melakukan perjalanan sejauh itu. Tapi hatinya sudah bertekad, ia akan menembus batas itu. “Saya tidak mencari apa-apa dalam perjalan, saya hanya ingin terus berjalan, berjalan, sejauh yang ada dalam pikiran saya. Dalam setiap perjalanan itu, saya melihat, kemudian saya catat dalam buku kecil. Dalam setiap perjalanan, saya melihat, kemudian merasakan, bagaimana manusia itu beragam dalam ciptaannya,” sebutnya. Novel masih bisa merekam apapun yang dialaminya semasa perjalanan, seperti kebiasaannya, ketika memasuki suatu daerah, saat tiba di Jambi, ia pergi mencari gubuk petani untuk menginap. Daerah-daerah yang dilalui sebelumnya, tidak ada hambatan. Matanya sudah sangat mengantuk waktu itu. Tenaganya sudah hampir habis. Ia ingin mencari pondok petani untuk bisa merebahkan badan. Seperti kebiasaannya juga, ia minta izin kepada penduduk setempat. Pemuda tempat dia meminta izin memandang curiga. “Lapor dulu kepada kepala dusun,” tutur pemuda tersebut. Jarak dari tempat pemuda itu ke rumah kepala dusun sekitar tiga kilometer. Ia tak sanggup sejauh itu berjalan. Ia meyakinkan pemuda itu, tak sanggup lagi berjalan. Hanya untuk menumpang tidur semalam saja. Esok ia langsung pergi. Pemuda itu tetap tak mengizinkan dan menawarkan mengantarnya naik sepeda motor ke tempat kepala dusun. Ia tak punya pilihan. Sederet pengalaman itu, laiknya hidup di jalanan, bagi Novel adalah pengalaman yang sangat berharga. Ia menyadari betul, di tempat mana ia singgah, bahaya bisa saja mengancamnya. Bisa pula, banyak kebaikan yang mengahampirinya. Di Lampung, ia diikuti oleh sekelompok orang yang mencurigakan. Ia tahu dari gelagat orang itu, yang sepertinya tidak bermaksud baik. Ia dihampiri dan diintimidasi. Nasib baik. Tak terjadi apa-apa. Sekelompok orang itu mungkin tak menemukan benda berharga yang dibawa. Saat di Padang, dirinya dianggap pemuda yang tidak ada kerjaan dan mau bunuh diri oleh masyarakat setempat, saat itu hampir dilaksanakan Pemiluhan Umum (Pemilu). Tapi itu tak terlalu dipikirkannya, karena apa yang ia cari, hanya dia sendiri yang tahu dan merasakannya. Kenikmatan dan pilihan hidupnya, ia sendiri yang menentukan.“Tapi hal tersebut tidak menyurutkan langgah saya untuk terus berjalan hingga tiba ke Aceh,” ungkapnya. Di Medan Sumatera Utara, Novel dianggap Calon Legislatif yang gila karena tidak terpilih dalam Pemilu yang dilaksanakan April 2009. “Mungkin karena saya memakai celana yang sudah robek, rambut panjangnya yang keriting, dan penampilan semrawutan, membuat orang berpikir, saya bukan orang yang sehat,” kenangnya. Selain orang yang meledek dan menghina, orang-orang baik yang juga banya dia temui, memberinya semangat. “Teruslah berjalan,” katanya menirukan ucapan orang tersebut. Semangatnya kembali di sela-sela keputusasaan itu. Ia harus mencapai tujuan semula, mengelilingi Sumatera dan berakhir di Aceh. Banyak hal yang telah dilaluinya selama perjalanan. Kata Novel, setiap daerah yang telah dilalui itu, selain ancaman bahaya dan kebaikan manusia, ia melihat panorama alam Sumatera yang tidak ditemuinya di tempat kelahirannya. Hingga ia memberikan sendiri ‘gelar’ untuk mengingat daerah yang dilaluinya tersebut. Hanya berbekal peta mudik yang pernah diterbitkan media waktu lebaran lalu, itulah petunjuk Novel mengelilingi Sumatera. Namun, ia menyadari sendiri keterbatasannya sebagai manusia. Itulah pelajaran yang dianggapnya sangat bernilai. Target Novel, ia sudah sampai di Aceh 15 April ini. Lalu kembali ke Jakarta. Ternyata itu tidak terwujud. Ia baru sampai di Padang. “Keterbatasan saya sebagai manusia, hanya bisa berniat,” tutur Novel. Ia tak mempersalahkan itu. Selama berjalan, Novel mendapatkan sebuah kemampuan yang dianggapnya luar biasa. Ia merasa memiliki insting yang kuat. Mungkin, kata Novel, selama perjalanan, ia telah terlatih sendiri untuk itu. Sementara itu begitu memasuki perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara, masyarakat Aceh mencurigainya sebagai intel TNI/Polri, “Pernah ada masyarakat Aceh yang bertanya kepada saya apakah saya intel atau bukan, tidak hanya masyarakat, polisi pun mencurigai saya sebagai intel,” kenangnya. Novel mengakui mendapatkan suasana yang cukup jauh berbeda antara Aceh dan Jakarta, dari masyarakat yang ramah hingga suasana alam yang begitu indah dan alami. “Saat saya hendak meneruskan perjalanan ke Aceh, kawan-kawan mengatakan di Aceh banyak perampok dan situasinya tidak aman, namun saat saya melanjutkan perjalanan ternyata hal tersebut tidaklah benar,” ceritanya dengan logat sunda. Ditanya siapa yang mendanai perjalanan yang ditempuhnya dengan gamblang Novel mengaku tidak ada bantuan dari siapapun, “Saya pergi dengan uang sendiri dan atas inisiatif sendiri,” ungkapnya.[003] --- On Mon, 6/8/09, Djodi Ismanto <[email protected]> wrote: From: Djodi Ismanto <[email protected]> Subject: [Urang Sunda] Fw: Perangkap Nyamuk sederhana. To: "Ron Sudarno" <[email protected]>, "Sonny Sayangbati" <[email protected]>, "Manager Indonesia" <[email protected]>, "urang sunda" <[email protected]>, "kisunda" <[email protected]> Date: Monday, June 8, 2009, 11:03 PM --- On Mon, 6/8/09, erny muis <erny_ma...@yahoo. com> wrote: From: erny muis <erny_ma...@yahoo. com> Subject: Fw: Perangkap Nyamuk sederhana. To: "A Yin" <alsia...@yahoo. com.sg>, "Accounting (Kamin)" <kamin....@musimmas. com>, "Djodi Ismanto" <adindagolid@ yahoo.com>, be...@indoteam. com, "Eddy Chandra" <e...@ptgrowthasia. com>, "Penita Chen" <pen...@awardsindo. com>, "vera chang" <v3r4_c...@yahoo. com>, "Yacob Chili" <yaco...@hotmail. com>, "david kz" <da...@indoteam. com>, "Dewi Indahwaty" <dewi.indahwaty@ yahoo.co. id>, "lingling djulianes" <djulia...@yahoo. com>, "Peter Dalimanta" <dalima...@yahoo. com>, evy_...@yahoo. com, "huang edwin" <edwin_huanglienhu@ yahoo.co. id>, "Ferdy" <fm...@permatabank. co.id>, "franjaya" <franj...@indosat. net.id>, "Sylvia Indrawati" <viedar_mansyl@ yahoo.com>, "Juliani Wu" <ju...@sbmgroups. com>, "Mely Kwok" <mely_k...@yahoo. com>, "Vivian Khosasih" <pin_viv...@yahoo. com>, leo5t3...@yahoo. com, "margaret zhao" <margaret_chaw@ yahoo.com>, "mina" <mina_fr...@yahoo. com>, sun_wor...@yahoo. com, suwa...@indoteam. com, "Siswanto Tanoto" <sun3889...@yahoo. com> Date: Monday, June 8, 2009, 11:00 PM ----- Forwarded Message ---- From: PHG - Jeanny Puansari <jeanny.puansari@ permatagroup. com> To: PHG - Jeanny Puansari <jeanny.puansari@ permatagroup. com> Sent: Thursday, May 28, 2009 4:59:37 PM Subject: FW: Perangkap Nyamuk sederhana. From: Susi Salim [mailto:susi. sa...@ecogreenol eo.com] Sent: Thursday, May 28, 2009 4:41 PM To: undisclosed- recipients: Subject: FW: Perangkap Nyamuk sederhana. Subject: Perangkap Nyamuk sederhana. Bagi yang tidak bisa membaca huruf Mandarin Perbandingan dari bahan-bahannya adalah : Kira-kira : 200 ml Air 1 gram Ragi Roti 50 gram Gula Kelapa Perangkap Nyamuk Ini hanyalah campuran dari Air, Gula Kelapa dan Ragi Roti. Caranya : 1. Potonglah sebuah botol plastik. 2. Ambil potongan yang bawah dari botol itu. Larutkan Gula Kelapa dengan air panas, biarkan sampai agak dingin (hangat). Tambahkan Ragi Roti. Carbon dioxide akan terbentuk (ini akan menarik nyamuk-nyamuk ke situ). 3. Tutupi potongan botol itu dengan sesuatu yang berwarna gelap. 4. Pasang bagian atas dari potongan botol itu dengan ter- balik (seperti corong). Letakkan di sudut rumah. 5. Dalam 2 minggu anda akan surprise dengan banyaknya nyamuk yang terbunuh. P Before printing, think about the Environment! If necessary, please use Recycled Paper! This e-mail and any attachment are confidential and may be privileged or otherwise protected from disclosure. It is solely intended for the person(s) named above. If you are not the intended recipient, any reading, use, disclosure, copying or distribution of all or parts of this e-mail or associated attachments is strictly prohibited. If you are not an intended recipient, please notify the sender immediately by replying to this message or by telephone and delete this e-mail and any attachments permanently from your system.

