Pada tanggal 09/06/09, Reporter Milist <[email protected]> menulis:
> *SBY  Lanjutkan,  Indonesia Bangkrut*
>
> Oleh : Muslimin B. Putra
>
> http://muslimindaen glalo.blogspot. com/2009/ 06/sby-lanjutkan -indonesia-
> bangkrut.
> html<http://muslimindaenglalo.blogspot.com/2009/06/sby-lanjutkan-indonesia-bangkrut.html>,
>
>
>
>
> Slogan SBY pada pemilu presiden 2009 adalah “Lanjutkan”. Dalam masyarakat
> intelektual yang relatif paham akan kinerja pemerintahan SBY yang pro
> neoliberalisme  berkonotasi sebagai inisiatif melanjutkan mengutang pada
> lembaga keuangan multilateral. Bila masa pemerintahan Megawati mengobral
> penjualan BUMN dalam skema privatisasi, maka pemerintahan SBY melanjutkan
> dan kian menambah utang-utang negara.
>
> Pada 2008, posisi utang Indonesia tercatat US 149,47 miliar dollar atau
> setara dengan Rp 1.548 triliun dengan asumsi Rp 10.360 per US dollar. Posisi
> ini mengalami kenaikan US 8,6 miliar dollar pada tahun 2004 yang hanya
> tercatat US 139,86 miliar dollar. Maka sejak 2001 hingga 2008, posisi utang
> Indonesia telah mencapai Rp 2.648 triliun. Posisi utang tersebut
> diperkirakan mencapai 30 persen dari GDP.
>
> * *
>
> *Posisi Utang Pemerintah *
>
> Bila menggunakan data Tim Indonesia Bangkit yang disampaikan Rizal Ramli
> pada Selasa (01/04/09), total utang pemerintah sebesar Rp 1.667 triliun atau
> mengalami peningkatan sebesar 31 persen dalam lima tahun terakhir. Tim
> Indonesia Bangkit menghitung posisi utang pada Desember 2003 sebesar Rp
> 1.275 triliun, dan membandingkan posisi utang pemerintah pada bulan Januari
> 2009 sebesar Rp. 1.667 triliun atau mengalami kenaikan kurang lebih sebesar
> Rp 392 triliun. Posisi utang tersebut merupakan utang terbesar Indonesia
> sepanjang sejarah.
>
> Tim Indonesia Bangkit juga menghitung jumlah utang per kapita Indonesia yang
> pasti turut meningkat. Jika pada 2004, utang per kapita Indonesia sebesar Rp
> 5,8 juta per kepala, maka pada Februari 2009 melonjak menjadi Rp 7,7 juta
> per kepala. Hal ini bertolak belakang dengan iklan pemerintah SBY yang
> mengatakan utang semakin turun.
>
> Pada periode Januari-Oktober 2008, SBY “berhasil” melanjutkan dan
> meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri sebesar US$ 2,335 miliar.
> Peningkatan utang luar negeri akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap
> tiga valuta asing utama, yakni dollar AS, euro dan yen Jepang.  Penyebab
> meningkatnya beban pembayaran utang karena pada saat yang sama terjadi
> penguatan nilai tukar yen terhadap dollar AS, sementara rupiah melemah
> terhadap dollar AS. Portofolio pinjaman luar negeri sangat dipengaruhi oleh
> tiga valuta asing utama (dollar AS, Yen Jepang dan Euro) yang mempengaruhi
> outstanding pinjaman luar negeri pemerintah.
>
> Berdasarkan data September 2008, utang dalam bentuk US dollar mencapai 29
> persen dari total pinjaman luar negeri. Utang dalam yen sebesar 44 persen,
> sedang utang dalam Euro sebesar 16 persen terhadap total pinjaman luar
> negeri. Data Departemen Keuangan per 31 Oktober 2008, nilai outstanding
> pinjaman luar negeri mencapai US 62,103 milliar dollar. Utang dalam mata
> uang Yen menduduki komposisi terbesar sekitar US 27,325 milliar dollar.
> Akibat penguatan mata uang Yen jepang terhadap US dollar, pembayaran utang
> dalam Yen pemerintah SBY melonjak. Setiap penguatan yen terhadap US dollar
> sebesar 1 persen, maka akan mempengaruhi peningkatan pinjaman seniali 0,4
> persen ekuivalen US dollar. Outstanding pinjaman membengkak karena setiap
> utang yen dibayar dengan US dollar sementara pemerintah tidak memiliki stok
> Yen dalam jumlah besar. Adapun dana dalam bentuk valas terbesar yang
> dimiliki pemerintah dalam denominasi US dollar..
>
> Data Depkeu per 14 November 2008, tercatat pembayaran utang luar negeri
> telah mencapai Rp 22,6 triliun atau 78 persen dari pagu dalam APBN Perubahan
> (APBN-P) 2008 yang ditetapkan sekitar Rp 28,97 triliun. Pembayaran utang
> dalam negeri  berupa utang pokok dan bunga atas obligasi negara mencapai Rp
> 51,4 triliun atau 78 persen terhadap pagu pada APBN-P 2008 yakni sekitar Rp
> 65,897 triliun. Dengan total utang sebesar US 2,335 milyar dollar, bila
> tingkat bunga sekitar 5 persen, maka jumlah bunga yang dibayar pemerintah
> berkisar US 116,7 miliar dollar. Untuk membayar bunga sebesar itu tidak
> cukup karena cadangan devisa hanya US 51 miliar dollar.
>
> Kenaikan pembayaran bunga utang pemerintah pada 2009 sebesar Rp 8,1 triliun
> atau 0,2 persen dari PDB diakui oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati
> pada rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Selasa (27/01/09). Penyebab
> kenaikan oleh depresiasi nilai tukar rupiah dan perubahan asumsi dalam
> APBN-P dari Rp 9.400/US$ menjadi Rp.  11.000/US$. Sedang untuk postur
> belanja pada APBN 2009, pemerintah memperkirakan anggaran belanja akan turun
> sebesar 1,3 persen dari PDB. Penurunan terjadi karena subsidi yang turun Rp
> 43,54 triliun atau 0,8 persen dari PDB seiring turunnya harga minyak dunia
> yang mempengaruhi penurunan harga BBM dan tariff listrik dalam negeri.
> Anggaran transfer ke daerah juga ikut menurun menjadi Rp 16,9 triliun atau
> 0,3 persen dari PDB, meski anggaran belanja kementerian dan Lembaga serta
> anggaran pendidikan besarannya tidak berubah atau tetap sebesar Rp 207,4
> triliun atau lebih dari 20 persen dalam APBN 2009. Penghematan yang didapat
> dari penurunan subsidi dan transfer ke daerah sebesar Rp 63,2 triliun.
>
> Pada bulan Juni 2009, utang pemerintah banyak yang jatuh tempo dari total
> utang didalam pembukuan pemerintah yang mencapai Rp 1.500 triliun lebih.
> Berdasarkan jangka waktu temponya, utang luar negeri jangka panjang
> mendominasi dengan persentase sebesar 90,2 persen, sedangkan utang jangka
> pendek sebanyak 9,8 persen. Berarti utang-utang yang jatuh tempo pada Juni
> tahun ini berasal dari utang-utang jangka panjang sejak rezim Orde Baru yang
> tak kunjung dibereskan oleh rezim SBY.
>
> Untuk tahun 2009, pemerintah berencana membayar utang luar negeri sebesar US
> 10,1 miliar dollar yang terdiri atas utang pokok sebesar US 7,1 miliar
> dollar dan bunga utang sebanyak US 3,0 miliar dollar. Pendanaan pembayaran
> dibebankan pada APBN 2009. Sementara pada sisi inflow APBN 2009, biaya yang
> akan digunakan pembayaran utang luar negeri berasal dari penarikan pinajamn
> baru sebesar US 9,1 miliar dollar. Pinjaman itu berasal dari kredit
> multilateral dan bilateral dalam bentuk pinjaman program dan proyek sebesar
> US 5,8 miliar dollar dan US 3,3 miliar dollar diperoleh dari SUN (Surat
> Utang Negara) dan sukuk valuta asing. Berarti pemerintah SBY membayar utang
> dengan cara mengutang lagi sehingga negeri ini tidak pernah lepas dari
> jeratan utang.
>
>  Sementara itu utang luar negeri swasta sangat dipengaruhi kondisi krisis
> keuangan global. Pada tahun 2008, penarikan utang luar negeri swasta
> mengalami kenaikan sebesar 33,1 persen dari tahun 2007 yakni dari US 27,8
> miliar dollar menjadi US 37,08 miliar pada 2008. Pada 2009, posisi utang
> luar negeri swasta sebesar US 60,6 miliar dollar yang akan jatuh tempo tahun
> ini sebesar US 17,4 miliar dollar terdiri dari utang pokok dan bunga.
> Kewajiban pembayaran utang didominasi oleh pembayaran utang luar negeri non
> bank atau korporasi sebsar US 14,3 miliar dollar atau 82,2 persen, sedang
> sisanya sebesar US 3,1 miliar dollar (17,8 persen) merupakan kewajiban
> pembayaran bank. Meningkatkan aktifitas penarikan utang luar negeri swasta
> disebabkan meningkatnya komitmen baru yang diterima pihak swasta Indonesia.
>
> * *
>
> *Indonesia Bangkrut*
>
> Soal Indonesia menuju kebangkrutan, SBY sendiri pernah melontarkan
> pernyataan “government is broke”, saat membuka Sidang Pleno I Himpunan
> Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta pada Selasa (10/03/09) lalu. Jika
>  Government
> is broke, mengapa terus menambah  utang? Selama lima tahun kepemimpinan
> Presiden SBY, kembali menaikkan utang menjadi 392 triliun rupiah.
>
> Dengan keinginan kembali SBY  melanjutkan kepemimpinannya sebagai presiden
> periode kedua berarti SBY ingin melanjutkan kebangkrutan pemerintah
> disebabkan utang-utang yang terus menumpuk untuk diteruskan kepada generasi
> anak-cucu bangsa. Nampaknya SBY tidak memiliki rasa malu dihadapan rakyat
> banyak dan tidak memiliki suri tauladan yang mulia sebagai pemimpin.
>
> Pemerintahan SBY yang pro-neoliberalisme  juga tidak berpihak kepada
> kepentingan rakyat banyak. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
> Nasional (RPJMN) 2004-2009 kelihatan bahwa rezim SBY adalah rezim
> anti-subsidi. Pada 2004, jumlah subsidi masih sebesar 6,3 persen dari PDB,
> namun sampai pada 2009 jumlah subsidi kepada kepentingan rakyat banyak terus
> dikurangi menjadi tinggal 0,3 persen dari PDB.
>
> Ketidakmauan dan ketidakmampuan pemerintahan SBY untuk keluar dari
> ketergantungan pada utang yang kian membesar menunjukkan pemerintahan SBY
> sudah pada tahap ketagihan pada utang. Sebenarnya SBY bisa melakukan
> pengurangan utang dengan cara merombak belanja negara, menggenjot penerimaan
> negara (utamanya penerimaan pajak), dan mengurangi stok utang secara
> signifikan serta keberanian politik untuk menyatakan stop utang kepada
> lembaga-lembaga agen neoliberalisme seperti World Bank, IMF dan ADB.
>
>
> --
> *********************************************
> Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
> http://reportermilist.multiply.com/
> **********************************************
> Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/
> 5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh
> reportermilist, bayangkan peluang  murah dengan prospect yang
> besar, Berminat Hubungi [email protected]
> =============================
> (Iklan)Untuk Berita sekitar Banyumas Kunjungi situs www.Goleti.com
> =============================
> Search Engine Terpopuler Anak Bangsa
> http://djitu.com
> =============================
> revolusi produk skuter matik Suzuki "Skydrive"
> hubungi Dieler Suzuki terdekat
> http://suzuki.co.id/
> ============================
> Space Iklan
> =============================
>


------------------------------------

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke