he...he...nya urang masing-masing bisa nganilai lah kana kualitas masing2 capres-na. Kuring ge peuting cungar cengir we....ngadengekeunana. ::ri_1:: Hompage : http://inawan.blogspot.com http://inawan.multiply.com Mobile : +62-818-109410 www.urang-sunda.or.id. su.wikipedia.org [email protected] [email protected] urangtasik.multiply.com
2009/6/16 H Surtiwa <[email protected]> > > > Soal kampanye anu kirang kwalitas..tadi malam saya saksikan di TVONE...para > Capres me..kedah ngajawab paatrosan ti panelis....waduh 2 patarosan ka > No1..kelas 2teu dijawab teges alias to the point..tapi ngawang bari > nyolowedor kenca katuhu...malah bari diseling "sudah beberapa kali saya > katakan...." Siga anu tos janten Presiden wae...payah mun kitu mah... > > 2009/6/16 waluya2006 <[email protected]> > >> >> >> Tadi isuk-isuk nempo saliwatan dina TV, "hog-hag" perkara saputeran atawa >> dua-puteran pilpres teh. Pihak SBY-Budi nu ngapopulerkeun masalah ieu, >> anehna para musuh2 politikna (JK-WIN jeung MEGA PRO) siga nu teu resep, bari >> terus sindir sampir. Padahal tininmbang sindir sampir kitu mending maranehna >> oge kamapanye SAPUTERAN wae, tapi pilih JK-WIN atawa MEGA-PRO. Ari sindir >> sampir, siga nu teu satuju saputeran mah, atuh kaciri teu PeDena teh, da >> geus yakin moal meunang sora leuwih ti 50% ...hahahaha >> >> Nyanggakeun kolom Putu Setia ti Tempointeraktip: >> >> Satu Putaran >> >> Sabtu, 13 Juni 2009 | 23:28 WIB >> >> Putu Setia >> >> Pemilihan presiden saat ini ada kemajuan yang berarti. Calon hanya ada >> tiga pasang, berkurang dibanding pada lima tahun lalu, dengan lima pasang >> calon. Namun, berapa pun calonnya, kalau lebih dari dua pasang, sangat besar >> kemungkinan terjadi dua putaran pemilihan presiden. Apalagi ketiganya punya >> kekuatan yang berimbang. >> >> Melihat betapa sibuknya ketiga pasang calon ini memanfaatkan semua celah >> untuk kampanye, tak akan ada yang menang mutlak-mutlakan. Menang mutlak itu >> hanya ada di era Soeharto. Ini pun sejatinya bukan menang, karena Soeharto >> takut ada pemilihan presiden. Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang memilih >> presiden, dipaksakan memunculkan calon tunggal. Kalau sudah calon tunggal, >> siapa yang menang atau kalah? >> >> Sekarang, ketika rekayasa menggiring suara rakyat tidak memberi >> jaminan--meski sudah diberi janji, termasuk uang sekalipun--muncul gerakan >> yang menginginkan pemilihan presiden berlangsung satu putaran. Dasar >> pemikirannya bagus, bisa menghemat beberapa triliun rupiah di tengah krisis >> ekonomi. Cuma, Gerakan Nasional "Setuju Satu Putaran Saja" itu ketua umumnya >> Denny J.A. (tak usah ditanya siapa yang memilihnya jadi ketua umum) dan >> menggiring pemilih untuk mencontreng SBY-Boediono. Artinya, gerakan ini >> merupakan bagian dari kampanye SBY-Boediono. >> >> Tentu saja tim sukses dua pasangan yang lain jadi berang. Padahal, jika >> menerapkan kampanye yang damai dan bersahabat, konsep satu putaran itu bisa >> digulirkan oleh semua pasangan dengan jargon masing-masing. Tim sukses >> Mega-Prabowo, misalnya, akan menyambut ide itu dengan jargon "Oke, Satu >> Putaran, Pilih Mega-Prabowo". Kemudian tim sukses JK-Wiranto juga setuju >> satu putaran dengan menawarkan jargon "Pilih JK-Wiranto, Satu Putaran Lebih >> Cepat Lebih Baik". >> >> Kampanye akan lebih menghibur. Yang jelas lebih mudah dicerna masyarakat >> dibanding saling sindir dengan istilah-istilah yang tak membumi. Seperti >> pada acara deklarasi "Pemilu Damai" yang diselenggarakan Komisi Pemilihan >> Umum. Penonton televisi terhibur oleh orasi Butet Kertaradjasa, yang >> mengkritik banyak hal, termasuk lembaga survei yang bisa dipesan. Banyak >> yang tertawa, termasuk menertawakan Butet, yang begitu profesional menerima >> pesanan dan "membela yang bayar", sampai-sampai orasinya--ini bukan monolog >> karena tak ada unsur seninya--lebih panjang ketimbang orasi calon wakil >> presiden. Butet saat itu dibayar Mega-Prabowo. >> >> Dalam kasus ini, dua tim sukses yang lain kecolongan dengan tampilnya >> Butet. Yang terjadi barangkali adalah "kelemahan intelijen". Kalau terendus >> Butet akan berorasi di pihak Mega-Prabowo, tim sukses SBY-Boediono tentu >> bisa membayar Mandra, misalnya. Lalu JK-Wiranto membayar Jarwo Kuat atau >> Kelik Pelipur Lara, yang sudah biasa memerankan Jusuf Kalla di "negeri >> mimpi". Jika bagi pelucu itu disiapkan bahan untuk "menyerang lawan", tidak >> ada yang tak bisa. >> >> Rupanya kampanye sekarang ini perlu lebih banyak memakai akal-akalan atau >> mencuri momen karena Komisi Pemilihan Umum begitu mudah dikibuli, termasuk >> pada acara yang dibuatnya sendiri, meskipun ditutup dengan permintaan maaf. >> >> Cuma, semakin banyak akal-akalan--survei dan polling, gerakan terselubung >> satu putaran, orasi berbalut seni monolog, perjalanan dinas tapi kampanye, >> dan banyak lagi--semakin terbuka akal masyarakat bahwa semua calon itu >> sesungguhnya memamerkan kekurangan akalnya dalam merebut suara rakyat. >> Kesalahan para calon dan tim suksesnya hanya satu: mengira rakyat itu bodoh, >> sehingga dipakailah cara kampanye yang bodoh. >> >> > >

