Tadi isuk-isuk nempo saliwatan dina TV, "hog-hag" perkara saputeran atawa 
dua-puteran pilpres teh. Pihak SBY-Budi nu ngapopulerkeun masalah ieu, anehna 
para musuh2 politikna (JK-WIN jeung MEGA PRO) siga nu teu resep, bari terus 
sindir sampir. Padahal tininmbang sindir sampir kitu mending maranehna oge 
kamapanye SAPUTERAN wae, tapi pilih JK-WIN atawa MEGA-PRO. Ari sindir sampir, 
siga nu teu satuju saputeran mah, atuh kaciri teu PeDena teh, da geus yakin 
moal meunang sora leuwih ti 50% ...hahahaha

Nyanggakeun kolom Putu Setia ti Tempointeraktip:

Satu Putaran

Sabtu, 13 Juni 2009 | 23:28 WIB

Putu Setia

Pemilihan presiden saat ini ada kemajuan yang berarti. Calon hanya ada tiga 
pasang, berkurang dibanding pada lima tahun lalu, dengan lima pasang calon. 
Namun, berapa pun calonnya, kalau lebih dari dua pasang, sangat besar 
kemungkinan terjadi dua putaran pemilihan presiden. Apalagi ketiganya punya 
kekuatan yang berimbang.

Melihat betapa sibuknya ketiga pasang calon ini memanfaatkan semua celah untuk 
kampanye, tak akan ada yang menang mutlak-mutlakan. Menang mutlak itu hanya ada 
di era Soeharto. Ini pun sejatinya bukan menang, karena Soeharto takut ada 
pemilihan presiden. Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang memilih presiden, 
dipaksakan memunculkan calon tunggal. Kalau sudah calon tunggal, siapa yang 
menang atau kalah?

Sekarang, ketika rekayasa menggiring suara rakyat tidak memberi jaminan--meski 
sudah diberi janji, termasuk uang sekalipun--muncul gerakan yang menginginkan 
pemilihan presiden berlangsung satu putaran. Dasar pemikirannya bagus, bisa 
menghemat beberapa triliun rupiah di tengah krisis ekonomi. Cuma, Gerakan 
Nasional "Setuju Satu Putaran Saja" itu ketua umumnya Denny J.A. (tak usah 
ditanya siapa yang memilihnya jadi ketua umum) dan menggiring pemilih untuk 
mencontreng SBY-Boediono. Artinya, gerakan ini merupakan bagian dari kampanye 
SBY-Boediono.

Tentu saja tim sukses dua pasangan yang lain jadi berang. Padahal, jika 
menerapkan kampanye yang damai dan bersahabat, konsep satu putaran itu bisa 
digulirkan oleh semua pasangan dengan jargon masing-masing. Tim sukses 
Mega-Prabowo, misalnya, akan menyambut ide itu dengan jargon "Oke, Satu 
Putaran, Pilih Mega-Prabowo". Kemudian tim sukses JK-Wiranto juga setuju satu 
putaran dengan menawarkan jargon "Pilih JK-Wiranto, Satu Putaran Lebih Cepat 
Lebih Baik".

Kampanye akan lebih menghibur. Yang jelas lebih mudah dicerna masyarakat 
dibanding saling sindir dengan istilah-istilah yang tak membumi. Seperti pada 
acara deklarasi "Pemilu Damai" yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum. 
Penonton televisi terhibur oleh orasi Butet Kertaradjasa, yang mengkritik 
banyak hal, termasuk lembaga survei yang bisa dipesan. Banyak yang tertawa, 
termasuk menertawakan Butet, yang begitu profesional menerima pesanan dan 
"membela yang bayar", sampai-sampai orasinya--ini bukan monolog karena tak ada 
unsur seninya--lebih panjang ketimbang orasi calon wakil presiden. Butet saat 
itu dibayar Mega-Prabowo.

Dalam kasus ini, dua tim sukses yang lain kecolongan dengan tampilnya Butet. 
Yang terjadi barangkali adalah "kelemahan intelijen". Kalau terendus Butet akan 
berorasi di pihak Mega-Prabowo, tim sukses SBY-Boediono tentu bisa membayar 
Mandra, misalnya. Lalu JK-Wiranto membayar Jarwo Kuat atau Kelik Pelipur Lara, 
yang sudah biasa memerankan Jusuf Kalla di "negeri mimpi". Jika bagi pelucu itu 
disiapkan bahan untuk "menyerang lawan", tidak ada yang tak bisa.

Rupanya kampanye sekarang ini perlu lebih banyak memakai akal-akalan atau 
mencuri momen karena Komisi Pemilihan Umum begitu mudah dikibuli, termasuk pada 
acara yang dibuatnya sendiri, meskipun ditutup dengan permintaan maaf.

Cuma, semakin banyak akal-akalan--survei dan polling, gerakan terselubung satu 
putaran, orasi berbalut seni monolog, perjalanan dinas tapi kampanye, dan 
banyak lagi--semakin terbuka akal masyarakat bahwa semua calon itu sesungguhnya 
memamerkan kekurangan akalnya dalam merebut suara rakyat. Kesalahan para calon 
dan tim suksesnya hanya satu: mengira rakyat itu bodoh, sehingga dipakailah 
cara kampanye yang bodoh.


Kirim email ke