Fokus, PR Minggu, 21 Juni 2009

BADAI PASTI BERKUMIS
Godi Suwarna


Bumi gonjang-ganjing. Langit pun bergoyang-goyang. Republik Amarta Raya bagai 
diterjang kawanan badai, manakala Rd. AA. Gatotkaca dituding mendalangi 
pembunuhan seorang saudagar muda, yang tak ada hubungan apapun juga dengan 
saudagar tua Nasrudin Hoja. Wahai, betapa gemparnya jagat pewayangan, berhubung 
sinatria Pringgandani ini tengah menjadi andalan segenap warga Amarta, dalam 
rangka menumpas musuh pamungkas. Musuh yang terus beranak pinak dalam selimut. 
Yakni, para tumbila koruptor, warisan rezim Astina.

Di kampung Tumaritis, Astrajingga teramat yakin, bahwa pamuk berkumis baplang, 
yang berotot kawat dan bertulang besi itu, sama sekali tidak berdosa. Tatkala 
tersebar kabar, bahwa kisahnya dirangkaikan dengan lakon asmara bersegi tiga, 
Astrajingga pun gigideug. Biar kata secantik Dewi Supraba, tidak mungkin Dewi 
Caddy melumerkan hati besinya Sang Gatotkaca. Bukankah beliau juga menjabat 
sebagai ketua dewan syuro Parmikutri, alias Partai Suami Takut Istri? Nah, 
semua fitnah belaka, begitulah keyakinan Astrajingga nan bergeming.

Ini pasti konspirasi bertingkat tinggi, kata Mang Cepot. Ini pasti macam ulah 
Resi Dorna. Sejatinya, Sang Begawan Sokalima, yang picak dan kengkong itu, 
telah wafat sekian tahun yang lampau, setelah rezim Astina runtuh. Namun, 
janganlah lupa, Aswatama masih bernapas, dan menjadi idola kaum Kurawa Baru, 
yang terus berkembang biak di seantero negara. Maka, waspadalah terhadap para 
penabur badai! Mereka tak akan bersuka hati bila Republik Amarta jadi negeri 
gemah ripah repeh ripuh ! Mang Cepot bersikeukeuh.

Otot boleh saja seliat kawat. Tulang boleh jadi berjenis besi. Namun, manah 
Raden Gatotkaca itu selembut hati Den Ridho, putra Satria Bergitar, begitu kata 
Dawala. Biar tubuh ngajungkiring bagai Arnold Schwarzenegger, biarpun kumis 
melintang sebesar gagang telepon, apalah dayanya raga bila jejantung diterjang 
terpedo beger pamindo. Bahkan, juragan Arjuna nan gaek, yang semakin tipis, 
tepos dan reyod, lantaran terlalu sering bertapa sembari berkawin siri, masih 
juga mengoleksi mahasiswi semester 2 yang ber-imbit semester 6, bisik Dawala 
seraya tersenyum maklum.

Konon, berulang kali Mang Udel mengingatkan Raden Gatotkaca, agar jangan 
terlalu sering bertandang ke padang golf, berhubung lapangan serupa itu makin 
hari semakin asri, bagai swarga Manikloka, dilengkapi dengan para bidadari dan 
hapsari, yang beraroma minyak pelet si Leugeut Teureup. Di sana, hole yang 
resmi dan berciri memang cuma berjumlah 18. Namun, ada banyak jenis hole yang 
lain lagi. Hole sejenis ini amat piawai menceploskan, dan menggoyang stick 
pusaka kaum Barata di dalam lubang wiwirang, begitulah selalu kata Mang Udel 
kepada petinggi negri.

Alkisah, kabar santer tentang Raden Gatotkaca kasilih berita baru. Kali ini, 
tentang capres dan cawapres. Mang Gareng berkerut kening ketika segenap 
penduduk kampung Tumaritis jadi sibuk ngadu bako, melambungkan jagoannya 
masing-masing. Sementara, Lurah Semar Badranaya, yang terkenal weruh sadurung 
winarah, malah asyik ngajampean para capres dan cawapres. Jangan-jangan, ihwal 
Raden Gatotkaca akan terus terabaikan. Atau, bakal jadi santapan para kandidat 
dalam rangka meraih banyak contrengan, Mang Gareng berkeluh-kesah.

Mang Gareng makin gelisah. Diam-diam, dia berangkat ke negeri Dwarawati, 
bertanya kepada Ki Batara Kresna, sang paranormal sejati. Beliaulah pemilik 
Gambar Lopian. Yakni, sejenis cermin bertuah, yang tak pernah luput bila 
menebak durjana. Mang Gareng penasaran, siapakah gerangan biang keroknya dalam 
kasus Gatotkaca. Apapun jenis mahluknya, pasti bakal nampak dalam cermin sakti 
itu.

Ternyata, Batara Kresna pun kebingungan. Dalam Lopian, hanya terpampang 
sebentang padang nan gersang dengan badai yang menderu. Namun, pelahan-lahan, 
muncullah seorang putri. Wajahnya tersamarkan kabut ungu. Lantas, semakin 
mendekat, semakin jelas. Close up! Mang Gareng menahan napas. Wajah putri dalam 
cermin ternyata berubah-ubah, silihberganti: Dewi Sinta, Dewi Amba, Dewi Uma, 
Dewi Pitaloka, Dewi Yull, Dewi Sandra, dan entah siapa lagi. Berjuta-juta 
wanita yang pernah dikaniaya oleh kuasa kaum lelaki langit di muka bumi, 
merintih serta menjerit di dalam Gambar Lopian!

Mang Gareng istigfar seraya mengusap kumis, saat melihat wajah Bi Gareng yang 
sering disalingkuhan...***
. 

Kirim email ke