Preface Ketika pertama kali kami melihat material Baja Pamor (Damascus Steel) <http://kujangpamorsiliwangi.wordpress.com/> , saya sangat kagum karena keindahan secara estetika memang benar-benar indah dan memiliki nilai seni yang tinggi. Tetapi material ini sebenernya buat orang Indonesia, seharusnya sudah tidak asing lagi. Kenapa saya katakan demikian. Material ini di Indonesia sudah ada dan berkembang sejak abad 14. Di Indonesia material Damascus Steel ini dikenal dengan nama baja pamor dan paling banyak di aplikasikan untuk bahan keris.
Sampai saat ini, keberadaan material beserta para perajinnya masih tetap eksis untuk daerah Jawa Tengah dan sekitarnya terutama kota Solo dan Yogyakarta. Para perajin dan pembuat material ini disebut Perajin Tosan Aji. Alhamdulillah dan saya sangat bersyukur sekali ketika mendapat kesempatan kerja dari sebuah perusahaan swasta dan ditempatkan untuk area, Jawa Tengah. Saya bersyukur karena saya mendapat banyak pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga, khususnya mengenai masalah pembuatan baja pamor dari para Mpu di kota Solo dan Yogyakarta. Pengalaman ini adalah pengalaman Kedua, karena pada saat pertama kurang lebih akhir Juli 1996, saya sempatkan diri untuk study banding sebelum saya mendirikan workshop dan forum komunitas Gosali Pamor Siliwangi (GPS) <http://kujangpamor.blogspot.com/> yang didirikan pada bulan Agustus 1996, bersama rekan saya Sri Sulastri Anggraini, Susanto Widjaja, Amas Sambas dan Jajang Suhanda, di Pasir Jambu, Ciwidey. Idea dasar saya dan rekan-rekan waktu itu sangatlah sederhana sekali. Pertama adalah pelestarian budaya untuk pembuatan baja pamor dan kujang pamor. Kedua dengan adanya kerajinan tosan aji ini diharapkan dapat meningkatkan peningkatan taraf hidup para perakinnya sendiri. Mungkin artikel lengkapnya dapat dilihat di http://kujangpamorsiliwangi.wordpress.com/ <http://kujangpamor.wordpress.com/> . Kenapa saya peduli sekali dengan budaya ini, karena saya tahu sekali kalau budaya ini sudah lama ditinggalkan di Jawa barat, saya coba berkeliling saat itu dan bertanya kepada para sesepuh pandai besi di Jawa Barat. Jawabannya hanya konon, pernah ada tetapi para leluhur kita yang pernah membuat. Saya tanya kembali, kalau Bapak-bapak yang sekarang hadir baik yang masih aktif menempa maupun yang sudah pensiun, pernah membuat baja pamor. Tidak ada satu orang pun yang menjawab pernah. Tetapi antusias mereka cukup tinggi untuk mengetahui tentang proses pembuatan baja pamor ini. Alasan inilah yang menjadi panggilan kami untuk berbagi dengan mereka dan membuat model prototype project ini di Ciwidey. Sponsor nya tunggal hanya Sri Sulastri Anggraini yang lebih dikenal dengan panggilan Mbak Anie dan Susanto Widjaja yang lebih akrab dipanggil dengan panggilan Pak Santo. Maaf tidak ada maksud rasis, beliau ini adalah berasal dari Jawa Tengah. Jadi awalnya dari sini budaya kujang pamor di Jawa Barat saat ini, melalui pandai besi Amas Sambas, Lalu di turunkan kepada Sahidin dan sekarang Rudini putra Amas Sambas. Mau Dibawa Kemana Budaya Ini Saya orang aplikasi dan memiliki sedikit tentang ilmu kebudayaan. Tetapi Insya Allah saya termasuk orang selalu haus akan ilmu pengetahuan dan selalu ingin berbagi tentang ilmu pengetahuan yang saya miliki. Jujur saja saat bulan agustus 1996 dalam jangka waktu seminggu saya dan rekan rekan mampu membuat baja pamor dan saya langsung aplikasikan pada senjata pusaka Kujang, kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Kenyataan ini tiada lain karena hasil study banding kami ke Solo Yogya di tambah referensi dari American Bladesmithing Society (ABS), serta buku-buku hasil pinjaman dari Kang Teddy Kardin. Dan yang tidak kalah pentingnya juga karena Amas Sambas, orangnya jujur dan tekun sehingga selalu mau berkarya dan mau susah. Mungkin kelebihan ini yang beliau miliki dibandingkan dengan pandai besi lainnya di seputaran Ciwidey. Kebetulan sekali background saya Jurusan Teknik Mesin dan saya banyak bekerja pada bidang Production dan Machining Processing, ilmu-ilmu metalurgy mekanik turut andil didalam proses pembuatan baja pamor ini. Sekarang tinggal mengaplikasikan saja material ini sama Kujang dan kita sebut Kujang Pamor, karena terbuat dari Baja Pamor. Dengan berani berbuat dan bertindak saja bagi kami adalah awal yang sangat positif. Yang paling penting dengan bertindak seperti ini secara tidak langsung kita mencintai dan turut melestarikan yang sudah hilang. Kalau menurut saya ini adalah suatu bentuk kepedulian nyata, dari kita warga Jawa Barat yang lebih dikenal dengan "Urang Sunda". Saya yakin orang-orang muda kota Bandung akan lebih banyak lagi yang lebih kreatif dan pintar dari pada saya, sehingga dengan bekal cinta dan kepedulian terhadap budayanya sendiri kedepan akan lebih banyak tercipta motif pamor dan bentuk-bentuk kujang baru yang indah. Saya menulis ini kepada komunitas group urang sunda, karena saya hanya ingin menyampaikan sedikit masukan dari tulisan saudara Teddy Permadi. Dan saya ingin memberikan dukungan semangat mencipta kepada para seniman dan para praktisi yang mencintai dan tertarik pada bidang ini. Saudara Teddy Permadi, menulis tentang Kujang Tangguh Padjadjaran, saya sendiri kagum kalau memang ada bentuk model atau style Kujang Padjadjaran. Istilah tangguh dan dapur ini ada dalam Keris, yang artinya Gaya, Model atau Style yang memang sudah dibakukan, dari mulai ukuran, bentuk, motif pamor. Sedang kan saya sendiri belum pernah dapat referensi tertulis seperti pada waktu saya study banding di STSI Solo, Keraton Solo dan Keraton Yogya. Ini lebih nya para leluhur disana, management arsip nya begitu bagus. Di Jawa Barat refrensi serta gambar kujang dan bentuk kujang itu tidak ada kalau menurut salah seorang yayasan komisi timanganten. Beliau mengatakan bahwa semua ada didalam bentuk bentuk sastra tulisan yang berupa syair. Di Jawa Tengah hampir sebagian besar, jelas bukti2 nya, dari mulai Pembuatnya dalam hal ini Mpu, lalu Taguh, Dapur dan Motif Pamornya, Riwayat inilah yang membuat sebuah keris menjadi memiliki nilai yang sangat tinggi. Tetapi orangorang di Jawa Tengah begitu menghargainya seniman dan praktisi yang tertarik dengan Keris. Sampai-sampai mereka membuat klasifikasi terakhir yang disebut Keris Kamardhikaan, Ini dimaksudkan bahwa keris tersebut dibuat pada masa setelah Indonesia Merdeka. Para Mpunya tetap dihargai dan mendapat tempat dihati para penggemarnya karena karya mereka pun juga sangat baik dari sisi estetika maupun teknik pembuatannya. Semoga tulisan saya ini memberi manfaat khususnya untuk para seniman muda yang tertarik dengan kujang pamor. Berkaryalah anda sesuai dengan ekspresi dan potensi yang anda miliki. Untuk kujang setahu saya belum ada anatomi yang jelas dan baku, tetapi secara umum bentuknya jelas koq. Jangan terpengaruh oleh kata-kata Ini bentuk kujang asli, karena lubangnya ada 9, atau ada 7 atau ada 5. Saya yakin kalian akan lebih baik dari kami-kami karena salah satu dukungan nya Ilmu pengetahuan yang terus pesat berkembang. Contoh sederhana di bidang teknis material. Material sekarang ini lebih beragam dan lebih baik secara material komposisinya karena ilmu metalurgy memang berkembang pesat. Didunia sana yang namanya pembuatan damascus Steel itu sudah ada yang memakai teknologi Powder Metalurgy. Sehingga secara komposisi lebih solid dan lebih tangguh. Para seniman muda harus yakin bahwa kita punya kebebasan dalam mencipta, yang sangat rendah itu kalau kita berdusta dan menjadi seorang plagiat. Okreh.............Selamat Berkarya dan Berprestasi...... Salam Seni dan Budaya [:)] Bayu S. Hidajat - Bandung Note: Mohon maaf sebelumnya, dengan segala kerendahan hati saya tidak menulis dalam Bahasa Sunda, karena keterbatasan bakat [:)]

